Sebenarnya aku pernah 3 kali bugil ngocok di sekitar rumah mertuaku. Tapi karena file-nya rusak, jadi waktu dan tanggalnya tak bisa aku pastikan.
Yang paling pertama sekali aku bugil ngocok di luar rumah mertuaku saat tengah malam aku terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Kemudian aku keluar dari kamar dan iseng membuka pintu dapur. Tiba-tiba muncul keinginanku untuk ngocok di beranda luar dapur. Lalu aku kembali masuk ke kamar, membuka celana dan sempakku. Dengan hanya memakai kain sarung lalu aku kembali lagi ke dapur. Pintu dapur sengaja tidak aku buka lebar. Kemudian aku keluar dan pintu dapur aku tutup kembali. Di beranda luar dapur aku berdiri ngocok sambil memperhatikan situasi yang ada. Di sekitar rumah mertuaku ada 3 lapangan yang saling berdekatan yang dihubungkan dengan jalan yang persimpangannya seperti huruf "Y". Kondisi yang sepi membuat aku jadi kepingin ngocok di jalan itu. Tanpa menunggu waktu yang lama, lalu aku berjalan menuju jalan penghubung lapangan itu dengan memakai kain sarung seadanya (kain sarung itu tidak aku pakai sebagaimana mestinya, hanya aku pakai dengan menyangkutkan kain sarung tersebut di tengkuk leherku dan bagian depannya kubiarkan menjuntai dan terbuka, yang membuat kontolku dapat jelas terlihat dari depan). Begitu santai aku tinggalkan rumah mertuaku sambil berjalan ngocok. Jujur, saat itu aku juga berpikir seandainya *****ku terbangun dan tidak mendapati aku ada di rumah, jawaban apa yang akan aku berikan. Tapi... sudah tanggung dengan hasratku, tetap aku lanjutkan langkahku. Sekitar 50 m jarakku dari rumah, aku berhenti tepat di jalan penghubung antara lapangan BT dengan lapangan BV. Di tengah jalan itu aku ngocok dengan memejamkan mata, menikmati setiap hentakan tanganku yang sedang mengocoki kontolku. Karena kurasakan sensasinya masih kurang, kemudian kulepas kain sarungku. Aku benar-benar bugil ngocok saat itu! Lalu aku berjalan sekitar 3 m—sambil terus saja ngocok—meninggalkan kain sarungku yang tergeletak di jalan. Hal itu memang sengaja aku lakukan karena menambah sensasi kenikmatanku. Ada sekitar 15 menit aku di tengah jalan itu dalam kondisi bugil ngocok sampai akhirnya aku nembak mani dan kubiarkan maniku itu berceceran di jalan. Setelah selesai, kemudian aku kembali mengenakan kain sarungku dan pulang ke rumah.
Pengalaman kedua aku bugil ngocok di luar rumah mertuaku saat aku menunggu Ning berpakaian. Ah... lonte... begitu lamanya dia berpakaian. Kalau dia bugil dan berpakaiannya di depanku mungkin tak jadi soal. Aku menunggunya di ruang tamu. Pepek pantat Ning! Malam tanggal 10-06-2007, aku dan Ning berencana mau keluar rumah. Sambil menunggu, khayalanku bermain tentang keindahan tubuh Ning. Pantatnya itu lho... begitu montok. Saat itu kondisi sedang mati lampu. Ingin rasanya aku mengkhayalkan pepek dan pantat Ning sambil ngocok di ruang tamu. Tapi... situasinya tidak memungkinkan. Karena lilin yang menerangi ruang tamu membuat bayangan yang nyata di dinding. Jadi kalau aku ngocok, pasti bayanganku nampak dengan jelas di dinding. Karena sudah terujung ingin ngocok, kemudian aku keluar dari rumahnya. Kuarahkan langkahku menuju samping rumah Lia. Dan di samping rumah Lia itulah—di sekitar dapur rumahnya—aku membuka baju dan celanaku. Aku bugil tanpa sehelai benang pun di tubuhku! Lalu aku ngocok di samping rumah Lia sambil mengkhayalkan pepek dan pantat Ning. Karena sensasi yang kurasakan masih kurang, kemudian sambil berjalan aku ngocok menuju halaman depan rumah Lia dengan meninggalkan baju dan celanaku sekitar 20 m di belakangku. Di sudut halaman depan rumah Lia aku ngocok selama sekitar 10 menit sampai akhirnya aku nembak mani. Sengaja aku biarkan maniku itu berceceran di halaman depan rumahnya. Saat itu waktu menunjukkan pukul 19:45, yang sebenarnya waktu yang paling beresiko melakukan bugil ngocok seperti itu. Tapi sudah muncrat kok... Setelah selesai dengan aktivitas ngocokku, kemudian aku mengenakan baju dan celanaku, dan Ning rupanya sudah menungguku di ruang tamu. Kemudian aku dan dia keluar dari rumah dan selama dalam perjalanan, kontolku sepertinya tak kenal kompromi, ereksi aja bawaannya karena masih terbayang kenekatanku melakukan bugil ngocok di halaman depan rumah Lia sambil mengkhayalkan pepek dan pantat Ning. Lagi pula saat itu aku memang tidak memakai sempak.
Bugil ngocok yang ketiga adalah saat setelah hujan reda aku keluar dari kamar, lalu keluar dari rumah melalui pintu depan. Aku berdiri di teras rumah dan mendapati situasi luar rumah yang sangat lengang. Kemudian aku kembali masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu aku buka celanaku dan ngocok dengan posisi pintu yang terbuka lebar. Ah... begitu tanggung aku rasakan bugil ngocok seperti itu. Lalu dengan posisi ngocok sambil berjalan, aku keluar rumah. Di teras rumah aku berdiri dalam keadaan bugil sambil ngocok. Sesekali aku juga berjalan ke halaman rumah dan ngocok di sana. Akhirnya aku nembak mani di teras rumah. Ada sekitar 30 menit aku bugil ngocok di teras dan halaman depan rumah mertuaku. Dan maniku pun sengaja aku biarkan berceceran di lantai teras depan rumah mertuaku.