"Siapa kau, kontol," itu adalah jawaban WA yang dikirim Yana padaku setelah dia mendapatkan kiriman WA dariku yang berisi, "Pingin ngocok..." Yang kemudian aku jawab dengan, "Hanya penggemarmu yang ingin ngocok kontol," sambil aku sertakan gambar GIF kontolku sedang nembak mani.
Ah... Yana... dia adalah istri temanku yang sedari mereka pacaran, aku sudah mendampingi mereka. Jadi waktu itu aku sengaja WA dia dengan menggunakan WA bisnisku yang memang tidak pernah aku publikasikan, kecuali pada target-target pilihanku saja. Selain aku juga kagum pada keindahan tubuhnya, sebenarnya... sebab aku WA dia secara berkala adalah karena aku tahu mereka sedang mengalami pertengkaran yang lumayan besar. Jadi, seluruh jalan cerita mereka itu aku tahu dan dari itu aku mencoba mencari kesempatan aja dengan mengiriminya chat WA. Pada awalnya, gak ada sama sekali tanggapan dari Yana. Tapi akhirnya kata "kontol" itu keluar saat memang momennya mereka sudah berbaikan. Ah... dasar lonte pepek torok kau Yana.
Jujur aja, setelah aku mendapati kata "kontol" dari Yana, aku jadi seperti tertantang untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi. Ada keinginan yang sangat besar untuk menjadikannya sebagai sasaran ngocokku secara nyata. Lekuk tubuhnya termasuk bagus juga, karena pada masa pacaran, temanku itu sering membawanya jalan dan dia sering memakai rok yang pendek. Dari situ aku bisa menilai bahwa selain pantatnya yang montok, pahanya juga sangat sesuai dengan bentuk tubuhnya.
Apalagi, saat mereka sudah kawin dan aku bertamu ke rumah kontrakan mereka, aku mendapati Yana keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang menutupi sedikit bagian tetek dan pahanya. Esh... lonte... mengingat kejadian itu, aku jadi tersenyum penuh tanda tanya. Karena begitu santai sikapnya saat dia keluar dari kamar mandi dan mendapati aku sedang menatap ke arahnya. Esh... saat itu kontolku pun langsung menggeliat, bersamaan dengan letupan birahi yang aku rasakan. Ah... yang paling lontenya si Yana itu adalah saat dia selesai berpakaian dan kemudian dia datang menyajikan minuman kepadaku, dia membungkukkan badannya, meletakkan gelas minuman sambil—entah itu sengaja atau tidak—mempertontonkan teteknya di depanku. Esh... dasar lonte si Yana itu, karena hanya puting teteknya aja yang gak nampak olehku. Selebihnya ya secara utuh aku melihat secara langsung kedua teteknya yang gak memakai BH itu. Di depanku juga dia mempertontonkan pahanya, padahal di sampingnya itu ada suaminya, yaitu temanku. Uh... dasar lonte kau Yana... benar-benar ereksi kontolku saat itu. Esh... mengingat kejadian itu, membuat keinginanku untuk menjadikan Yana sebagai sasaran ngocokku semakin menjadi. Dan akhirnya kesempatan itu bisa terlaksana, walau kejadiannya tidak aku rencanakan.
Seperti yang aku katakan, apapun yang terjadi di antara temanku dan Yana, aku pasti tahu. Apalagi saat Yana sedang sakit, yang membuat temanku itu harus mengambil cuti. Sebenarnya aku datang ke rumah mereka karena kondisi Yana yang sedang sakit itu, dan gak ada maksud yang lain, seperti ingin menjadikan dia sebagai target ngocokku. Aku datang di sore hari sekitar pukul 17:35, pada tanggal 06-09-2025.
Pada awal aku datang, aku merasa waktunya kurang tepat, karena saat itu anaknya temanku itu sedang rewel. Jadi kurang bisa ngobrol karena temanku itu sibuk membujuk anaknya, sementara Yana nampak tidur di kursi panjang ruang tamunya. Hanya beberapa menit setelah kedatanganku, aku pamit pulang karena melihat kerepotan yang dialami temanku. Namun, permintaanku ditolak oleh temanku dengan alasan aku sudah menyempatkan diri jauh-jauh datang ke rumah mereka. Sebenarnya aku sempat juga bersikeras untuk pulang karena kulihat Yana sedang pulas tidurnya. Tapi temanku itu tetap memaksaku untuk tidak pulang sambil mengatakan, "Sebentar, Bang, biar aku bawa **** jajan dulu." Dan aku langsung mengomentarinya, "Lah, di sekitar sini ada warung?" "Ada, Bang, Indomaret sekitar 10 menit dari sini," jawab temanku.
Akhirnya temanku itu membawa anaknya keluar untuk jajan sambil menyerahkan remote TV. Saat aku menerima remote tersebut, sempat juga aku katakan kalau nanti mengganggu Yana yang sedang tidur. Namun jawaban temanku, "Gak papa, Bang, itu Yana tidur karena efek obat yang dia minum," sepertinya membuat niat awalku yang hanya ingin membesuk jadi berubah. Saat temanku keluar dari rumahnya, aku juga ikut mengiringinya hingga teras. Dan jujur, baru beberapa meter temanku itu menutup pintu gerbang dan meninggalkan rumahnya, desiran birahiku secara perlahan mulai terasa, diiringi dengan denyut nikmat di kontolku.
Secara santai aku kembali masuk ke dalam rumah dan kemudian duduk sambil menghidupkan siaran TV. Sengaja suara TV itu aku kecilkan sambil aku melihat ke arah Yana yang tidur dalam posisi menyamping membelakangi aku. Esh... lonte... montok juga pantat si Yana itu... Secara seksama aku mulai memperhatikan Yana dan melihat kemungkinan pergerakannya. Ah... kontolku pun secara liar ereksi dan menyodok sempakku. Jujur, letupan birahiku benar-benar tidak dapat aku tahan dan secara perlahan aku bangkit sambil berjalan mendekati Yana. Ah... kesempatan yang tidak akan aku sia-siakan. Adrenalinku semakin terpicu, yang membuat aku akhirnya nekat untuk melangkahkan kakiku ke dapur dan membuka celanaku untuk melepaskan sempakku. Tak lupa, aku ambil tali yang biasa mengikat telor kontolku dari tas selempangku. Dalam keadaan setengah telanjang aku mengikat telor kontolku dengan tali tersebut. Kemudian aku masukkan sempakku ke dalam tas dan aku kembali mengenakan celanaku. Sengaja melalui resleting celana yang aku buka, aku keluarkan kontolku secara keseluruhan, termasuk telor kontolku yang sudah terikat itu.
Santai saja aku kembali berjalan ke ruang tamu sambil meletakkan tas selempangku ke meja dan mendekati Yana yang sedang tidur. Dari jam tanganku dapat aku lihat saat awal tanganku mulai memegang kontolku yang sudah sangat ereksi itu pada pukul 17:43. Sambil berdiri sekitar 1 m di belakang Yana dan memperhatikan lekuk tubuhnya, perlahan aku mulai ngocok. Esh... lonte kau Yana... bohay juga tubuhmu...
Kondisi pintu gerbang yang tertutup dan suasana perumahan di sekitar kontrakan temanku yang terbilang sunyi itu membuat aku begitu santai ngocok di belakang Yana. Awalnya aku berdiri ngocok sekitar satu meter di belakang Yana. Perlahan, aku semakin mendekat hingga jarakku tinggal beberapa sentimeter saja darinya.
Ah... nikmat sekali setiap hentakan tanganku yang sedang mengocoki kontolku. Apalagi pengaruh telor kontolku yang terikat itu terbentur oleh tanganku yang sedang mengocoki kontolku. Begitu penuh birahi aku tatap si Yana yang tertidur di depanku sambil imajinasiku bermain dalam benakku. Esh... dasar lonte kau Yana... inilah kontol yang kau tanya di WA itu...
Karena gak ada gerakan yang berarti dari Yana, membuat aku semakin nekat dengan menyentuhkan kepala kontolku ke lengan atas kirinya sambil tangan kiriku bersiap untuk memasukkan kontolku jika ada reaksi dari si Yana. Tapi memang dasar lonte pepek torok pantat si Yana itu... masih sangat lelap tidurnya dan dia tidak bereaksi. Hal itu membuat aku semakin nekat dengan berpindah posisi yang awalnya berdiri di sekitar pantat dan pinggangnya, menjadi berdiri di sekitar belakang kepalanya. Secara perlahan aku menyentuhkan kepala kontolku di bagian belakang kepalanya sambil sedikit aku permainkan kepala kontolku di rambutnya. Memang lonte si Yana itu... membuat birahiku begitu menggelegaknya. Esh... sambil ngocok di sekitar kepala Yana, begitu bermainnya imajinasiku. Dari penilaianku, Yana ini tipe perempuan yang sedikit pasif kalau ngentot, walau dari cara bicaranya itu sedikit lebih pasaran. Tapi pasti bisa aku buat binal dia kalau mau aku ajak ngentot. Esh... dasar lonte kau Yana...
Hingga akhirnya aku gak bisa menahan dorongan maniku untuk muncrat dari kontolku yang kemudian aku tahan dengan tangan kiriku. Penuh kenikmatan aku berkelonjotan di sekitar kepala Yana sambil meremas kepala kontolku dan menahan maniku agar tidak muncrat mengenai kepala atau tubuhnya serta tidak berceceran di lantai.
Esh... lonte pepek pantat torok kau Yana... nikmatnya...
Dan setelah aku puas berkelonjotan, kemudian aku meraih tasku untuk mengambil sempakku. Sambil melihat ke jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 17:50, santai saja aku membersihkan maniku dengan sempakku. Setelah semua sudah bersih, termasuk aku kembali memperhatikan tubuh Yana dan lantai—mana tahu ada ceceran mani yang tak sempat aku tahan—kemudian aku memasukkan kontolku ke dalam celana dengan membiarkan telor kontolku tetap dalam posisi terikat.
Setelah itu aku keluar dan duduk di teras sambil merokok hingga temanku kembali dari membeli jajan anaknya. Melihat aku duduk di teras, temanku sempat bertanya, "Loh, Bang, kok duduk di teras?" Dan aku menjawab, "Gak papa, biar santai merokoknya."
Akhirnya aku kembali masuk ke dalam rumah mereka dan ngobrol di ruang tamu. Sekitar jam 18:45, Yana terbangun dan hanya beberapa kata saja yang dia ucapkan dalam mengiringi obrolanku dengan suaminya. Saat itu dia masih dalam posisi terbaring karena memang aku larang untuk duduk. Jujur, saat aku pamit pulang pada jam 19:30 dan bersalaman dengan Yana, dalam hati aku berkata, "Inilah Yana... kontol yang tanya itu... sudah aku kocok di belakangmu dan menyentuh tubuhmu..."
Makasih bro... sudah meninggalkan aku berduaan dengan istrimu dan mewujudkan pertanyaan istrimu padaku tentang, "Siapa kau, kontol".