Sabtu, 06 September 2025

Ngocok Di Belakang "Yana" -*-

"Siapa kau, kontol," itu adalah jawaban WA yang dikirim Yana padaku setelah dia mendapatkan kiriman WA dariku yang berisi, "Pingin ngocok..." Yang kemudian aku jawab dengan, "Hanya penggemarmu yang ingin ngocok kontol," sambil aku sertakan gambar GIF kontolku sedang nembak mani.
Ah... Yana... dia adalah istri temanku yang sedari mereka pacaran, aku sudah mendampingi mereka. Jadi waktu itu aku sengaja WA dia dengan menggunakan WA bisnisku yang memang tidak pernah aku publikasikan, kecuali pada target-target pilihanku saja. Selain aku juga kagum pada keindahan tubuhnya, sebenarnya... sebab aku WA dia secara berkala adalah karena aku tahu mereka sedang mengalami pertengkaran yang lumayan besar. Jadi, seluruh jalan cerita mereka itu aku tahu dan dari itu aku mencoba mencari kesempatan aja dengan mengiriminya chat WA. Pada awalnya, gak ada sama sekali tanggapan dari Yana. Tapi akhirnya kata "kontol" itu keluar saat memang momennya mereka sudah berbaikan. Ah... dasar lonte pepek torok kau Yana. 
Jujur aja, setelah aku mendapati kata "kontol" dari Yana, aku jadi seperti tertantang untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi. Ada keinginan yang sangat besar untuk menjadikannya sebagai sasaran ngocokku secara nyata. Lekuk tubuhnya termasuk bagus juga, karena pada masa pacaran, temanku itu sering membawanya jalan dan dia sering memakai rok yang pendek. Dari situ aku bisa menilai bahwa selain pantatnya yang montok, pahanya juga sangat sesuai dengan bentuk tubuhnya.
Apalagi, saat mereka sudah kawin dan aku bertamu ke rumah kontrakan mereka, aku mendapati Yana keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang menutupi sedikit bagian tetek dan pahanya. Esh... lonte... mengingat kejadian itu, aku jadi tersenyum penuh tanda tanya. Karena begitu santai sikapnya saat dia keluar dari kamar mandi dan mendapati aku sedang menatap ke arahnya. Esh... saat itu kontolku pun langsung menggeliat, bersamaan dengan letupan birahi yang aku rasakan. Ah... yang paling lontenya si Yana itu adalah saat dia selesai berpakaian dan kemudian dia datang menyajikan minuman kepadaku, dia membungkukkan badannya, meletakkan gelas minuman sambil—entah itu sengaja atau tidak—mempertontonkan teteknya di depanku. Esh... dasar lonte si Yana itu, karena hanya puting teteknya aja yang gak nampak olehku. Selebihnya ya secara utuh aku melihat secara langsung kedua teteknya yang gak memakai BH itu. Di depanku juga dia mempertontonkan pahanya, padahal di sampingnya itu ada suaminya, yaitu temanku. Uh... dasar lonte kau Yana... benar-benar ereksi kontolku saat itu. Esh... mengingat kejadian itu, membuat keinginanku untuk menjadikan Yana sebagai sasaran ngocokku semakin menjadi. Dan akhirnya kesempatan itu bisa terlaksana, walau kejadiannya tidak aku rencanakan.
Seperti yang aku katakan, apapun yang terjadi di antara temanku dan Yana, aku pasti tahu. Apalagi saat Yana sedang sakit, yang membuat temanku itu harus mengambil cuti. Sebenarnya aku datang ke rumah mereka karena kondisi Yana yang sedang sakit itu, dan gak ada maksud yang lain, seperti ingin menjadikan dia sebagai target ngocokku. Aku datang di sore hari sekitar pukul 17:35, pada tanggal 06-09-2025.
Pada awal aku datang, aku merasa waktunya kurang tepat, karena saat itu anaknya temanku itu sedang rewel. Jadi kurang bisa ngobrol karena temanku itu sibuk membujuk anaknya, sementara Yana nampak tidur di kursi panjang ruang tamunya. Hanya beberapa menit setelah kedatanganku, aku pamit pulang karena melihat kerepotan yang dialami temanku. Namun, permintaanku ditolak oleh temanku dengan alasan aku sudah menyempatkan diri jauh-jauh datang ke rumah mereka. Sebenarnya aku sempat juga bersikeras untuk pulang karena kulihat Yana sedang pulas tidurnya. Tapi temanku itu tetap memaksaku untuk tidak pulang sambil mengatakan, "Sebentar, Bang, biar aku bawa **** jajan dulu." Dan aku langsung mengomentarinya, "Lah, di sekitar sini ada warung?" "Ada, Bang, Indomaret sekitar 10 menit dari sini," jawab temanku.
Akhirnya temanku itu membawa anaknya keluar untuk jajan sambil menyerahkan remote TV. Saat aku menerima remote tersebut, sempat juga aku katakan kalau nanti mengganggu Yana yang sedang tidur. Namun jawaban temanku, "Gak papa, Bang, itu Yana tidur karena efek obat yang dia minum," sepertinya membuat niat awalku yang hanya ingin membesuk jadi berubah. Saat temanku keluar dari rumahnya, aku juga ikut mengiringinya hingga teras. Dan jujur, baru beberapa meter temanku itu menutup pintu gerbang dan meninggalkan rumahnya, desiran birahiku secara perlahan mulai terasa, diiringi dengan denyut nikmat di kontolku.
Secara santai aku kembali masuk ke dalam rumah dan kemudian duduk sambil menghidupkan siaran TV. Sengaja suara TV itu aku kecilkan sambil aku melihat ke arah Yana yang tidur dalam posisi menyamping membelakangi aku. Esh... lonte... montok juga pantat si Yana itu... Secara seksama aku mulai memperhatikan Yana dan melihat kemungkinan pergerakannya. Ah... kontolku pun secara liar ereksi dan menyodok sempakku. Jujur, letupan birahiku benar-benar tidak dapat aku tahan dan secara perlahan aku bangkit sambil berjalan mendekati Yana. Ah... kesempatan yang tidak akan aku sia-siakan. Adrenalinku semakin terpicu, yang membuat aku akhirnya nekat untuk melangkahkan kakiku ke dapur dan membuka celanaku untuk melepaskan sempakku. Tak lupa, aku ambil tali yang biasa mengikat telor kontolku dari tas selempangku. Dalam keadaan setengah telanjang aku mengikat telor kontolku dengan tali tersebut. Kemudian aku masukkan sempakku ke dalam tas dan aku kembali mengenakan celanaku. Sengaja melalui resleting celana yang aku buka, aku keluarkan kontolku secara keseluruhan, termasuk telor kontolku yang sudah terikat itu. 
Santai saja aku kembali berjalan ke ruang tamu sambil meletakkan tas selempangku ke meja dan mendekati Yana yang sedang tidur. Dari jam tanganku dapat aku lihat saat awal tanganku mulai memegang kontolku yang sudah sangat ereksi itu pada pukul 17:43. Sambil berdiri sekitar 1 m di belakang Yana dan memperhatikan lekuk tubuhnya, perlahan aku mulai ngocok. Esh... lonte kau Yana... bohay juga tubuhmu...
Kondisi pintu gerbang yang tertutup dan suasana perumahan di sekitar kontrakan temanku yang terbilang sunyi itu membuat aku begitu santai ngocok di belakang Yana. Awalnya aku berdiri ngocok sekitar satu meter di belakang Yana. Perlahan, aku semakin mendekat hingga jarakku tinggal beberapa sentimeter saja darinya.
Ah... nikmat sekali setiap hentakan tanganku yang sedang mengocoki kontolku. Apalagi pengaruh telor kontolku yang terikat itu terbentur oleh tanganku yang sedang mengocoki kontolku. Begitu penuh birahi aku tatap si Yana yang tertidur di depanku sambil imajinasiku bermain dalam benakku. Esh... dasar lonte kau Yana... inilah kontol yang kau tanya di WA itu...
Karena gak ada gerakan yang berarti dari Yana, membuat aku semakin nekat dengan menyentuhkan kepala kontolku ke lengan atas kirinya sambil tangan kiriku bersiap untuk memasukkan kontolku jika ada reaksi dari si Yana. Tapi memang dasar lonte pepek torok pantat si Yana itu... masih sangat lelap tidurnya dan dia tidak bereaksi. Hal itu membuat aku semakin nekat dengan berpindah posisi yang awalnya berdiri di sekitar pantat dan pinggangnya, menjadi berdiri di sekitar belakang kepalanya. Secara perlahan aku menyentuhkan kepala kontolku di bagian belakang kepalanya sambil sedikit aku permainkan kepala kontolku di rambutnya. Memang lonte si Yana itu... membuat birahiku begitu menggelegaknya. Esh... sambil ngocok di sekitar kepala Yana, begitu bermainnya imajinasiku. Dari penilaianku, Yana ini tipe perempuan yang sedikit pasif kalau ngentot, walau dari cara bicaranya itu sedikit lebih pasaran. Tapi pasti bisa aku buat binal dia kalau mau aku ajak ngentot. Esh... dasar lonte kau Yana... 
Hingga akhirnya aku gak bisa menahan dorongan maniku untuk muncrat dari kontolku yang kemudian aku tahan dengan tangan kiriku. Penuh kenikmatan aku berkelonjotan di sekitar kepala Yana sambil meremas kepala kontolku dan menahan maniku agar tidak muncrat mengenai kepala atau tubuhnya serta tidak berceceran di lantai. 
Esh... lonte pepek pantat torok kau Yana... nikmatnya...
Dan setelah aku puas berkelonjotan, kemudian aku meraih tasku untuk mengambil sempakku. Sambil melihat ke jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 17:50, santai saja aku membersihkan maniku dengan sempakku. Setelah semua sudah bersih, termasuk aku kembali memperhatikan tubuh Yana dan lantai—mana tahu ada ceceran mani yang tak sempat aku tahan—kemudian aku memasukkan kontolku ke dalam celana dengan membiarkan telor kontolku tetap dalam posisi terikat. 
Setelah itu aku keluar dan duduk di teras sambil merokok hingga temanku kembali dari membeli jajan anaknya. Melihat aku duduk di teras, temanku sempat bertanya, "Loh, Bang, kok duduk di teras?" Dan aku menjawab, "Gak papa, biar santai merokoknya."
Akhirnya aku kembali masuk ke dalam rumah mereka dan ngobrol di ruang tamu. Sekitar jam 18:45, Yana terbangun dan hanya beberapa kata saja yang dia ucapkan dalam mengiringi obrolanku dengan suaminya. Saat itu dia masih dalam posisi terbaring karena memang aku larang untuk duduk. Jujur, saat aku pamit pulang pada jam 19:30 dan bersalaman dengan Yana, dalam hati aku berkata, "Inilah Yana... kontol yang tanya itu... sudah aku kocok di belakangmu dan menyentuh tubuhmu..."
Makasih bro... sudah meninggalkan aku berduaan dengan istrimu dan mewujudkan pertanyaan istrimu padaku tentang, "Siapa kau, kontol".

Kamis, 21 Agustus 2025

Bugil Ngocok Di Belakang "Novi" -*-

Tanggal 21-08-2025, jam 07:37–07:39, aku bugil ngocok di belakang Novi yang sedang duduk di pintu depan rumah sambil menelepon wali kelas anaknya. Awalnya, saat aku sedang menonton TV, tiba-tiba Novi datang. Tanpa sungkan, masih di depan pintu, dia berkata, "Bang, pinjam hotspotnya." Jujur, aku agak kaget, soalnya biasanya Novi tidak begitu. Setelah berpikir sebentar, aku masuk ke kamar, mengambil HP, lalu menyalakan hotspotku.
Ketika keluar dari kamar, aku mendapati Novi sedang duduk di pintu depan rumah. Aku pun mendekatinya dan memintanya masuk, tapi dia menolak dan memilih tetap duduk di sana. Setelah password dan hotspot tersambung, Novi mulai menelepon seseorang dengan posisi tubuh membelakangi ruang tamu. Dan aku pun kemudian duduk di kursi ruang tamuku juga. Dari percakapan yang kudengar sejak awal, ternyata dia sedang menelepon wali kelas anaknya. Esh..., lonte..., di saat itu, entah kenapa, pikiranku tiba-tiba melayang. Aku teringat pada kejadian beberapa waktu lalu, ketika aku ngocok di belakang Novi, saat dia memetik sayuran di halaman belakang rumah mertuaku. Dasar lonte pepek pantat torok..., kontolku mulai terasa menggeliat seiring dengan pandanganku yang semakin penuh birahi menelusuri lekuk tubuh belakang Novi.
Perlahan aku mulai meraba-raba kontolku yang sudah mulai ereksi dan memperhatikan setiap detail lekuk tubuh serta gerakan Novi yang sedang duduk di lantai. Menurutku, mungkin saat itu Novi sedang tidak enak badan, karena aku lihat dia memakai kaus kaki. Esh..., dasar lonte..., t-shirt dan celana training yang dia pakai itu membuat hayalan birahiku begitu berkelana. Pasti begitu mudah untuk melorotkan celana training yang dia pakai itu. Ah..., kontolku yang sudah ereksi terasa tertahan oleh sempakku dan itu membuatku tidak nyaman. 
Dalam posisi jongkok meringkuk, tangan kirinya memeluk betis dan dadanya menekan lutut. Dari belakang, terlihat Novi serius berbicara lewat telepon dengan tubuh sedikit membungkuk dan hampir tanpa gerakan. Dari pembicaraan Novi, selain dia meminta ijin agar anaknya tidak masuk sekolah, dia juga berkonsultasi tentang perkembangan anaknya. Pemandangan itu justru membuatku semakin nekat dengan lebih meremas kontolku yang sudah ereksi dan memberontak ingin dikocok. Esh..., dasar lonte pepek pantat torok kau Novi...
Perlahan aku bangkit dari kursi dan masuk ke kamar ****. Tujuanku saat itu sebenarnya aku ingin membuka sempakku karena mengganjal kontolku dan rencananya aku akan kembali lagi duduk di ruang tamu. Tapi begitu aku membuka celanaku dengan posisi pintu kamar yang terbuka lebar, tiba-tiba timbul ideku untuk bugil ngocok di belakangnya. Jujur, detak jantungku begitu terpacu seiring dengan letupan birahiku. Setelah aku membuka sempakku, aku kembali mengenakan celanaku, lalu pura-pura duduk sambil menghidupkan mode merekam melalui aplikasi Background Video, sementara Novi masih nampak serius berbicara melalui HP.
Melalui mode merekam dari kamera depan dan setelah meletakkan HP-ku itu sesuai sudut perekaman yang dapat mencakup posisi pintu kamar **** dan posisi Novi, kemudian aku mematikan layarnya. Hal itu aku lakukan untuk menghindari seandainya tiba-tiba Novi selesai menelepon dan melihat HP-ku. Esh..., dasar lonte kau Novi..., begitu menggelegaknya birahiku...
Setelah aku sudah yakin dengan posisi Novi yang tidak berubah itu, aku kembali masuk ke kamar **** dan dengan santai aku melorotkan celana pendekku. Dalam kondisi bugil, telanjang tanpa sehelai benang pun di tubuhku,  aku masih berdiri di kamar **** sambil lebih menyimak pembicaraan Novi. Setelah merasa aman, perlahan aku menjulurkan kepala keluar pintu untuk memeriksa posisinya. Esh..., lonte kau Novi..., begitu ereksinya kontolku...
Dengan gerakan perlahan aku keluar dan berdiri di depan pintu kamar ****. Desiran birahiku begitu kuat terasa dan sambil menelusuri setiap lekuk tubuh bagian belakang Novi yang sedang serius menelepon, tanganku mulai mengocoki kontolku. Saat itu jam dinding menunjukkan pukul 07:37. Esh..., dasar lonte kau Novi..., begitu perlahan tanganku mengocoki kontolku. Pandangan mataku begitu buas menelusuri setiap lekuk tubuh belakang Novi. Esh..., lonte pepek torok..., binal gak ya si Novi itu klo lagi ngentot...
Setiap hentakan tanganku yang sedang mengocoki kontolku begitu aku atur agar tidak terdengar. Ah..., begitu dekatnya tubuh bugilku dengan tubuh si Novi itu... Sensasi kenikmatan ngocok di belakang Novi dalam keadaan telanjang tanpa sehelai benang pun di tubuhku begitu aku nikmati. Posisi Novi yang duduk jongkok membelakangi aku itu begitu menguntungkanku. Karena gerakan yang akan Novi lakukan itu bisa terbaca olehku, walau kemungkinan untuk dapat cepat menghindar tidak dapat aku prediksikan, dan itulah resiko dan sensasinya.
Novi yang masih dalam posisi jongkok itu tampak serius berbicara, sementara aku begitu menghayati kenikmatan setiap kocokan tanganku di kontolku. Saat itu, secara perlahan pinggulku pun ikut bergoyang maju mundur seirama dengan kocokan di kontolku. Esh..., nikmat dan penuh sensasi. Adrenalinku terasa terpicu dengan keadaan tubuhku yang sedang berdiri telanjang di belakang Novi dengan kocokan perlahan di kontolku. Lonte..., benar-benar lonte si Novi itu..., seperti tak merasakan gerakan apapun di belakangnya, dia tetap serius berbicara dengan wali kelas anaknya. 
Jarak tubuh bugilku dengan Novi sekitar 2 m. Dan secara perlahan aku maju beberapa langkah tanpa menghentikan kocokan di kontolku. Dasar lonte..., begitu beresikonya aku saat itu. Selain gerakan cepat menoleh Novi seandainya dia curiga dengan gerakan yang ada di belakangnya, pintu yang terbuka lebar juga dapat memungkin seandainya anaknya datang menyusul, atau siapapun itu, termasuk mertuaku yang sedang belanja dapat melihat langsung keadaan tubuh bugilku yang sedang berdiri ngocok di belakang Novi. Esh..., lonte...
Sampai akhirnya, secara perlahan aku memundurkan langkahku, kembali ke depan pintu kamar dan nembak mani. Dasar lonte si Novi itu..., begitu kental dan banyak maniku yang keluar yang aku tahan dan tampung dengan tangan kiriku. Di belakang Novi, aku begitu menikmati kelonjotan puncak birahiku. Dengan jarak sekitar 2 m, begitu puasnya aku mengekspresikan birahiku, telanjang tanpa sehelai benang pun di tubuhku, dan berdiri ngocok hingga nembak mani di belakang Novi.
Setelah itu, sambil melirik ke arah jam dinding yang telah menunjukkan pukul 07:39, perlahan aku masuk ke dalam kamar **** untuk membersihkan mani yang ada di tangan dengan menggunakan sempakku. Lalu aku memakai kembali celana pendekku tanpa memakai sempak dan kemudian duduk di kursi tamu sambil meraih HP untuk mematikan aplikasi Background Video dengan sebelumnya aku sempatkan untuk merekam posisi dudukku dan posisi Novi yang sedang duduk jongkok di pintu rumahku. Sengaja aku tetap memegang HP dan bermain games untuk menutupi ereksi kontolku yang nampak jelas di bagian depan celanaku, walau saat itu aku dalam posisi duduk. Tanganku pun sengaja berada di kedua pahaku, sementara HP aku tempatkan di sekitar atas kontolku.
Beberapa saat setelah aku duduk di kursi sambil bermain HP, perlahan Novi bergerak bangkit dan kemudian menyudahi pembicaraan teleponnya. Aku pun mencoba berbasa basi  dengan mengajaknya ngobrol. Dan ternyata Novi menyambut dengan bercerita sedikit soal pembicaraannya melalui telepon itu. Posisiku saat itu masih dalam keadaan duduk di kursi, karena kontolku sebenarnya masih ereksi, sementara Novi berdiri di depan pintu rumahku. Dan setelah beberapa saat ngobrol, akhirnya Novi pamit pulang. Begitu Novi pamit, lalu secara perlahan aku bangkit dari kursi. Hal itu aku lakukan, karena saat itu Novi masih mengarah ke aku, mau gak mau akhirnya aku harus bangkit. Sengaja secara perlahan aku bangkit menunggu Novi membalikkan arah tubuhnya agar gak kelihatan kontolku itu menyodok bagian depan celana pendekku. Esh..., celana training yang dia pakai itu begitu menggoda untuk aku memelorotinya. Saat Novi berbalik badan dan mengucapkan terima kasih atas hotspot yang aku berikan, aku menjawabnya sambil berjalan mengikuti langkahnya hingga ke depan pintu rumahku.
Ah..., dasar lonte pepek torok si Novi itu..., begitu terpuaskan birahiku. Apalagi saat aku memutar ulang hasil rekaman videoku, ah..., begitu nekatnya aku ngocok dalam keadaan bugil di belakang Novi. Mengekspresikan birahiku ngocok dalam keadaan tanpa sehelai benang pun di tubuhku hanya sekitar 2 m di belakang Novi. Puas sekali rasanya melihat dalam hasil rekaman video itu, tubuhku begitu berkelonjot penuh nikmat saat aku nembak mani di belakangnya. Ah..., dasar lonte kau Novi...


Jumat, 04 Juli 2025

Chat Dengan "Fyra"

Tanggal 04-07-2025, jam 15:45 aku sengaja miscall Fyra dengan menggunakan WA bisnisku untuk memastikan reaksinya. Hal itu aku lakukan karena dalam foto profilku itu aku menggunakan foto kontolku sedang nembak mani dan pada foto sampulnya, aku menggunakan fotoku saat ngocok di depan Kia, di mana dalam foto itu kontolku itu benar-benar tepat berada di depan wajah Kia. Sebenarnya bukan Fyra saja yang sudah aku kirim chat seperti itu. Ada beberapa teman perempuanku yang sudah aku kirimi, yang mana ada 2 orang yang setelah tahu atau melihat foto profilku atau isi katalogku, mereka langsung memblokir nomorku.
Sebenarnya pada jam 15:58 si Fyra nelepon aku tapi tak terangkat olehku karena memang aku tidak mengaktifkan semua notifikasi pada WA bisnisku itu. Dan pada jam 16:00 Fyra chat ke aku yang menanyakan siapa aku. Ah..., dasar lonte si Fyra itu..., aku sangat yakin Fyra sudah melihat foto profil maupun foto sampul WA-ku, tapi dia masih mau tetap ngobrol menanyakan siapa aku dan dari mana tahu nomornya, serta obrolan lainnya. Dari jam 16:00-16:39 kami saling chat.
Hingga akhirnya, saat obrolan kami sedang asik-asiknya, tiba-tiba Fyra memblokir nomorku. Kemungkin yang bisa dipertimbangkan adalah selama lebih dari setengah jam kami chat, Fyra belum melihat isi katalogku. Dan begitu mengetahui isinya, langsung dia blokir nomor WA-ku. Ah..., dasar lonte si Fyra itu..., padahal foto di profilku itu merupakan screenshot dari video ngocokku yang ada di katalogku. Begitu juga foto sampul yang menampilkan bagaimana kontolku yang sedang aku kocok berada hanya beberapa sentimeter saja dari wajah Kia juga merupakan screenshot dari video yang ada di katalogku juga. Ah..., dasar lonte kau Fyra..., kenapa...?, takutnya gak menemukan sesuatu untuk mengocoki pepekmu saat kau berada di sekolah asramamu? Takut gak terasa kalau ngocok hanya pakai jarimu saat melihat foto dan video yang ada di katalogku? Esh..., dasar lonte..., padahal sangat nyata saat aku memutar kembali video aku ngocok di samping Fyra yang sedang tidur di rumahku beberapa waktu silam, nampak jelas Fyra sedikit membuka matanya dan kembali pura-pura tidur. Dasar lonte..., untuk Fyra, sebenarnya ada 2 video yang masih tersimpan olehku saat aku ngocok di sampingnya. Tapi sayangnya saat aku mencium pepeknya dan menggesekkan kontolku di kakinya, gak sempat aku rekam. 
Dan untuk foto terbaru Fyra adalah saat dia tidur di rumahku tanggal 03-04-2025. Dalam foto itu aku lebih fokus ke pantatnya, selain juga seluruh badannya. Dan jujur..., dalam masa usia peralihan yang dialamai Fyra, bentuk pantat yang sedikit turun biasanya menunjukkan kalau dia itu sering ngocok atau pernah dikentot. Entahlah..., karena bukan sekali dua kali dia datang ke M, tapi dia begitu jaga jarak padaku, yang membuat aku lebih mengabaikannya untuk tidak masuk dalam target ngocokku lagi. Bahkan kalau gak terpaksa, dia lebih memilih untuk tidak berjumpa denganku. Ya kalau menurutku, kemungkinan dia sudah mengenal apa itu kontol dikocok dan mungkin ingat dengan aku yang pernah ngocok di sampingnya saat dia terlihat tidur. Ya mungkin aja.

Minggu, 08 Juni 2025

Montoknya Pantat si "Un"

Tanggal 08-06-2025, dari jam 13:10-15:40 begitu bermanjanya pandangan mataku melihat keindahan tubuh Un, anak perempuan usia sekitar kelas 3 SD. Ah..., walau masih seusia itu, tubuhnya nampak lebih besar dari anak seusianya dan dibilang gemuk ya nggak, tapi memang berisi bentuk tubuhnya. Satu hal yang selama ini membuat aku tidak begitu memperhatikan si Un adalah dia mempunyai lipatan di leharnya, yang mana aku memang gak suka.
Tapi semua itu akhirnya teruntuhkan saat kami sedang liburan di NSS bersama keluarga besar, saat aku secara tidak sengaja memperhatikan Un yang baru saja keluar dari sungai dengan tubuh yang basah berdiri menghadap ke arah aku. Esh..., lonte..., nampak tembam sekali bentuk pepeknya. Esh..., dasar lonte cilik..., benar-benar nampak jelas montoknya pepek si Un itu karena saat itu dia memakai celana panjang yang sangat tipis dan sepertinya itu adalah celana untuk tidur. Ah..., dasar lonte..., benar-benar tembam seperti bentuk pepek yang divacum kalau merujuk dari film porno yang pernah aku lihat. Uh..., luar biasa bentuknya.
Apalagi saat Un membelakangi aku, nampak jelas bentuk pantatnya yang super montok seperti menantang untuk dikentot. Dari celana tipis yang dia pakai itu nampak jelas kalau sempak yang dia pakai hanya setengah dari pantatnya. Dan bukan karena sempak itu kekecilan, tapi memang tidak dapat menutupi seluruh pantatnya, mungkin sangking montoknya bentuk pantatnya. Karena kalau memakai ukuran sempak dewasa, pasti kebesaran. Un itu tidak gemuk, tapi pantatnya begitu menonjol dan begitu montok.
Aku pun, tanpa segan secara terang-terangan memandangi dan menelusuri keindahan tubuh si Un. Dan entah sengaja atau tidak, dia sering berdiri tepat di depanku, seperti sengaja menunjukkan pantatnya yang montok itu kepadaku. Esh..., lonte si Un itu..., salut untuk anak seusia dia yang mempunyai bentuk pantat yang semontok itu dengan tetek yang masih baru tumbuh, apalagi pepeknya yang super tembam itu.
Imajinasi birahiku begitu bermain sambil memperhatikan Un. Memperhatikan bentuk pepeknya dan pantatnya yang montok itu. Jujur, aku seperti nembak mani di dalam celana saat baju yang dia pakai itu tersingkap, dan langsung terlihat olehku pinggang hingga setengah dari pantatnya yang montok itu... Esh..., lonte kau Un..., memang sangat luar biasa bentuknya. Seandainya pantat si Un itu aku kocok dengan kontolku..., pasti terkencing-kencing pepeknya aku buat. Dan, esh..., pasti sangat menggigit pepek si Un yang montok itu seandainya aku kocok juga dengan kontolku. Ah..., pasti sangat nikmat seandainya secara bergantian aku kocok pepek dan pantatnya si Un itu dengan kontolku, dengan mengabaikan kalau dia masih duduk di bangku kelas 3 SD. Ah..., lonte kau Un...

Sabtu, 07 Juni 2025

Kia Datang

Tanggal 06-06-2025, jam 22:29 Nilma datang bersama suami beserta Kia dan 2 orang keluarga mereka. Esh..., lonte..., begitu jelas nampak montoknya tubuh si Nilma dengan celana legging yang dia pakai itu. Sementara Kia awalnya nampak begitu acuh padaku, berjalan begitu saja di depanku. Dasar lonte cilik..., saat itu aku hanya bisa tertawa dalam hati karena seacuh apapun Kia padaku, tapi aku sudah puas menjadikan dia sebagai target ngocokku. Puas aku secara langsung ngocok tepat di depan wajahnya. Puas aku memperhatikan setiap detail ekspresi wajahnya saat dia secara langsung memandang ke arah kontolku yang aku kocok hanya beberapa sentimeter dari wajahnya, bahkan aku juga memvideokannya. Ah..., Kia..
Aku akhirnya kembali ngobrol bersama teman-temanku yang memang sudah datang sebelum mereka sampai. Dan tiba-tiba, dari depan pintu rumah mertuaku, Kia memanggil aku dengan nada yang gembira. Ah..., dasar lonte..., bisa jadi saat dia tiba tadi masih dalam keadaan ngantuk dan belum menyadari kalau dia sudah sampai di M. Dan setelah sadar dari kantuknya, Kia teringat aku. Nampak penuh keceriaan Kia keluar dari rumah mertuaku dan langsung menghampiri aku.
Jam menunjukkan pukul 22:36-22:37, saat Kia bermanja dengan memeluk pahaku. Dan itu seperti memicu birahiku, karena tangan Kia seperti sengaja dia gesekkan ke kontolku. Esh..., dasar lonte cilik..., seandainya saat itu teman-temanku gak ada di sana, sudah pasti aku lumat bibirnya itu. Karena begitu menantang sikap Kia dengan menyodorkan wajahnya ke wajahku. Esh..., lonte..., aku hanya bisa memegang kepalanya dengan kedua tanganku. Apalagi sesaat kemudian dia merebahkan kepalanya di sekitar kontolku sambil tangannya lebih menekan kontolku. Esh..., lonte..., begitu terasa Kia menekan tangannya sambil dia gerak-gerakkan di kontolku, dan itu terekam jelas di kamera CCTV-ku. Lonte..., lonte..., dasar lonte kau Kia...
Dan di pagi harinya, begitu puasnya pandangan mataku saat melihat Kia mandi yang kebetulan pintu kamar mandi mertuaku yang menghadap ke dapur rumahku itu terbuka lebar. Benar-benar seperti lonte si Kia itu, dengan tubuh telanjang basah dan rambut yang terurai hingga melebihi bahunya. Esh..., saat itu kontolku langsung berekasi. Tapi sayangnya, di kamar mandi itu ternyata ada Nilma. Ah..., dasar lonte pepek pantat torok... Dan kedatangan mereka itu sangat singkat, karena dari rumah mertuaku, mereka mengantar keluarganya entah ke mana dan langsung pulang ke A S. 
Dasar pepek..., gak ada kesempatanku untuk menjadikan Kia maupun Nilma sebagai target ngocokku. Tapi aku yakin, suatu saat pasti aku jadikan Kia atau Nilma sebagai target ngocokku. Ah..., padahal malamnya Kia begitu agresif dengan tangannya yang sengaja menekan kontolku. Bahkan Kia merebahkan kepalanya di sekitar kontolku sambil tangannya lebih menekan kontolku. Ah..., dasar lonte cilik si Kia itu...

Jumat, 06 Juni 2025

Salut Untuk "Asni"

Tanggal 06-06-2025, jam 10:07-11:11 aku ngobrol bareng Asni. Ah... walau dari segi wajah tidak masuk kategoriku, tapi pantatnya itu lho.... Memang lonte si Asni itu... sangat serasi bentuk pantatnya yang sangat montok itu dengan tubuhnya. Ya jujur saja, pandanganku tak pernah luput untuk menelusuri lekuk tubuhnya, khususnya pantatnya saat dia berjalan di depanku.
Ah... entah kenapa dalam beberapa hari ini aku begitu ingin mengirim WA bisnis rahasiaku pada Asni. Tapi aku belum menemukan kesempatan dan waktu tepat, selain aku juga mempertimbangkan resiko yang ada. Aku agak khawatir kalau si Asni bakal cerita ke orang lain soal isi WA dariku. Walau dia mungkin nggak bakal tahu itu dari aku, masalahnya aku juga udah ngirim WA yang sama ke temennya yang dia kenal juga. Yang membedakan hanya foto profil aja. Kalau temannya itu dengan foto profil saat aku ngocok di depan wajah Kia, sementara Asni dengan foto profil saat kontolku sedang memuncratkan mani. Tapi kalau isi katalognya ya sama, di mana isinya ada foto dan video saat aku ngocok di depan wajah Kia, juga beberapa foto maupun video lainnya. Karena itulah, aku sempat ragu untuk mengirim pesan itu ke Asni. Tapi entah kenapa, keinginan itu justru makin besar. Begitu aku tahu Asni akan datang, tanpa pikir panjang, aku langsung menyiapkan chat yang akan kukirim padanya.
Sekitar 30 menit, chat yang kusiapkan untuk Asni hanya aku biarkan dalam posisi siaga. Begitu kudengar suara Asni datang, tanpa banyak mikir, langsung kukirim pesan itu sambil pura-pura keluar dari ruanganku, tanpa membawa HP. Waktu itu, Asni belum juga ngecek WA yang baru aja aku kirim. Dia masih berdiri dan terkadang berjalan di sekitarku, sibuk ngurusin sesuatu sambil mengajak aku ngobrol. Esh... dasar lonte si Asni itu... aku pun begitu bermanja dengan pandangan mataku yang langsung mengarah ke pantatnya yang montok itu. Imajinasi liarku begitu bermain saat dengan tatapan birahi aku menelusuri setiap detail tubuh Asni, khususnya pantatnya itu. Esh... lonte... suruh berak dulu dia dan kemudian aku kocok pantatnya dengan kontolku hingga dia terkencing-kencing, lalu gantian aku kocok pepeknya yang mungkin masih perawan itu. Ya istilah perawan untuk pepeknya itu karena bisa aja belum ada kontol yang pernah bersarang di pepeknya, tapi untuk jari... bisa aja sudah capek pepeknya itu dia kocok pakai jarinya sendiri.
Hal yang harus aku acungi jempol pada Asni adalah ketenangan sikapnya serta ekspresi wajahnya saat ngobrol denganku sambil membuka HP dan membaca WA yang aku kirim. Jelas sekali gerakan jari telunjuk dan jempolnya itu sedang memperbesar foto profil WA dariku yang berisi gambar kontolku yang sedang memuncratkan mani. Esh... benar-benar lonte si Asni itu... begitu tenangnya dia sambil ngobrol denganku, dia membuka link katalog di WA yang aku kirim dan itu terlihat jelas dari posisi HPnya yang sedikit dia miringkan sambil dia dekatkan seperti lebih memperjelas pandangannya memperhatikan gambar serta video detik-detik kontolku yang sedang aku kocok memuncratkan mani. Dasar lonte kau Asni....
Dan sebenarnya sekitar  2 bulan yang lalu, aku juga pernah menggunakan WA bisnisku itu untuk menelpon dia sebanyak 2 kali dalam jarak waktu hanya beberapa menit saja. Ah... aku ingat kejadiannya itu pada hari sabtu saat dia sedang mencuci motornya. Aku bahkan hanya berjarak beberapa meter saja dari posisi si Asni dan dapat begitu jelas melihat ekspresinya. Panggilan WA yang sengaja aku putuskan sebelum si Asni mengangkatnya membuat dia merasa penasaran yang akhirnya dia membuka HPnya dan melihat foto profilku. Begitu jelas perubahan wajah Asni pada saat itu. Apalagi saat panggilan ke dua yang aku lakukan, begitu jelas si Asni melihat dengan kesal foto profilku sambil berkata, "Ish... apalah ini...." Ah... dasar lonte kau Asni....
Dan itulah yang membuat aku salut pada Asni, karena tampak begitu tenang sikap serta ekspresi wajahnya saat ngobrol denganku sambil dia membuka WA yang aku kirim. Jujur, selama aku ngobrol dengan si Asni, imajinasi birahiku begitu bermain dalam pikiranku. Sangat santai obrolan kami yang saling berhadapan dengan pemisah meja. Dan beberapa kali aku pura-pura berdiri mengambil sesuatu, padahal aku sebenarnya sedang memperhatikan bagian selangkangannya. Ah... entahlah, saat itu sepertinya Asni sengaja berlama-lama ngobrol denganku dan tak nampak sedikit pun dia ingin menyudahi pembicaraan kami. Esh... lonte... beberapa kali aku lihat si Asni membuka kembali WA yang aku kirim sambil tetap ngobrol denganku. Ah... dasar lonte pepek pantatmu Asni....
Sampai akhirnya aku sudahi obrolan kami dengan mengatakan kalau aku mau jalan keluar karena ada keperluan. Ah... Asni.... 

Senin, 12 Mei 2025

Jariku di Pepek "Kia"

Tanggal 12-05-2025, antara jam 11:50-12:30 di pantai G daerah A S, begitu puasnya jariku meraba, menggesek dan bermain di pepek Kia. Sebenarnya kedatangan aku ke A S beserta keluarga adalah sebagai liburan yang tak terencana. Dan aku sampai A S sekitar jam 19:20 pada tanggal 11-05-2025. Nilma yang mengetahui kehadiran kami di sana langsung datang bersama suaminya tapi tanpa membawa Kia. Esh..., dasar lonte memang si Nilma itu..., makin montok aja pantatnya. Apalagi teteknya..., nampak begitu besar karena saat itu Nilma menggunakan daster dan pada bagian depan dasternya itu entah memang seperti itu model bajunya, tapi benar-benar menggambarkan bentuk tetek Nilma yang sebenarnya. Esh..., lonte..., seperti gak memakai BH. Dan nampak seperti pepaya yang menggantung di dadanya. Begitu banyak perubahan tubuh Nilma yang aku lihat saat itu. 
Dan pada tanggal 12-05-2025 akhirnya di pantai G aku ketemu Kia. Esh..., jujur..., dalam hatiku aku begitu menegaskan agar aku jangan gegabah dalam menjadikan Kia sebagai targetku. Berulang kali aku secara sembunyi-sembunyi memperhatikan setiap gerakan Kia. Aku sendiri juga sudah sangat yakin kalau Kia itu sudah ngerti tentang kontol dikocok. Apalagi dulu dia pernah begitu panik sampai menendang pahaku saat dia melihat aku ngocok tepat di hadapannya. Dah saat itu, aku sedang mencari cara untuk setidaknya Kia itu bisa bersama aku, dan pastinya ide berikutnya dengan apa yang akan aku perbuat untuk Kia akan disesuai dengan kondisi aja.
Sampai akhirnya Kia yang sedang bermain di tepi pantai memanggil aku dan ingin ikut bermain di air. Ah..., kesempatan yang memang aku tunggu-tunggu dan aku langsung menghampiri Kia sambil terus menggendongnya. Dengan tangan kiriku, sengaja aku gendong si Kia itu. Nampak begitu senang dia, hingga tertawa dan berteriak kegirangan tepat di depan wajahku. Esh..., dasar lonte kau Kia..., seandainya saat itu tidak ada orang di sekitarku, sudah pasti akan aku cium dan lumat bibirnya. Esh..., apalagi kaki Kia kadang menyentuh kontolku, yang membuat birahiku begitu terbakar. 
Sambil bermain di ombak laut, sengaja tangan kananku aku perlihatkan di permukaan air, agar nampak senatural mungkin. Sementara sambil bercanda dengan Kia, jari tangan kiriku mulai meraba-raba pepeknya. Esh..., lonte..., denyut kontolku benar-benar terasa nikmat. Dan lebih lontenya lagi si Kia itu adalah, sesaat setelah aku meraba serta menggesek-gesekkan jari tengah maupun jari telunjukku di pepeknya, kencing pula dia. Esh..., terasa hangat air di sekitar tanganku. Ah..., dasar lonte kau Kia... Untung saja saat itu aku berada dalam keramaian, kalau nggak...
Dan aku pun sengaja menahan kencingku hingga saat kaki Kia benar-benar nempel di kontolku. Esh..., dasar lonte cilik si Kia itu..., sepertinya dia tahu kalau saat itu aku sedang kencing di air dan dia langsung menarik kakinya menjauh dari kontolku. Tapi akhirnya terpuaskan juga aku dengan 2 kali kencing di sekitar leher dan dada Kia, saat dia tertarik untuk berdiri sendiri sambil memelukku untuk menikmati ombak laut yang menerjang kami. Kalau itu Kia benar-benar tidak dapat menghindari hangatnya kencingku karena gak mungkin dia merenggangkan pelukannya di pahaku.
Sebisanya aku terus saja menggendong Kia, walau sejujurnya terasa pegal tanganku, sambil jari tanganku menempel di pepeknya. Dengan selalu mengajaknya bercanda, jariku tetap bermain di pepeknya. Bahkan semakin jauh hingga tanganku masuk ke dalam celana dan sempaknya sambil mengelus dan memutar jariku itu di bagian itilnya. Ah..., sebenarnya apa yang aku lakukan itu sungguh sangat nekat. Karena benar-benar di tengah keramaian.
Aku bahkan bertahan bersama Kia sementara yang lainnya sudah pada menepi karena aku begitu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk meraba dan menikmati permainan tanganku di pepek Kia. Ah..., Kia yang merasa senang bermain ombak bersamaku sepertinya tidak menyadari kalau jariku itu begitu buas meraba dan menekan-nekan pepeknya. Karena begitu nampak ada ombak yang akan menerpa kami, sengaja aku masukkan tubuh Kia ke dalam air dan jari tanganku juga langsung bermain di pepeknya sampai kemudian gelombang air itu menerpa kami. Begitulah yang aku lakukan selama aku bersama Kia. 
Jujur saat itu aku sepertinya mulai hilang kendali dan berniat untuk melorotkan bagian depan celanaku mengingat saat itu hanya ada aku dan Kia yang berada di air. Tapi ada hal yang membuatku tersadar saat tangan Kia menggaruk pantatnya yang gatal dan aku membantunya juga dengan memasukkan tanganku ke dalam sempaknya, kemudian Kia menggeliat sambil menarik tanganku dari pantatnya sambil mengatakan sesuatu dalam istilah bahasa A S yang aku kurang memahaminya. Hal itu yang menyadarkan aku dan aku pun secara perlahan menarik tanganku keluar dari sempak Kia. Dan untuk menormalkan suasana, aku kembali mengajak Kia bercanda sambil jariku juga bermain di pepeknya dengan cara yang aku lakukan sebelumnya, yaitu sengaja memasukkan tubuhnya saat nampak ada ombak yang akan datang sambil jariku juga langsung berada di pepeknya.
Hingga akhirnya Kia memintaku untuk membawanya naik ke darat. Aku pun menurutinya karena ya memang hanya aku dan Kia saja yang berada di air. Ah..., dasar lonte cilik si Kia itu..., puasnya jariku bermain dan bermanja di pepeknya.

Rabu, 23 April 2025

Bugil Ngocok Di Pintu

Tanggal 23-04-2025, jam 09:11 aku bugil ngocok sampai nembak mani di pintu ruang tamu rumahku saat mertuaku sedang berjalan melewati aku yang hanya berjarak kurang dari 3 m. Ya seperti biasa, kalau aku di rumah dan mertuaku juga sedang berada di rumahnya, aku pasti selalu saja mencari kesempatan untuk bisa menjadikan mertuaku itu sebagai target ngocokku. Sering aku sambil berbugil ria di dalam rumah, menunggu mertuaku keluar dari rumahnya dan kemudian aku ngocok di jendela menikmati keindahan lekuk tubuhnya. Ah..., semakin tua kok semakin mantap bentuk tubuhnya. Pantatnya itu lho yang selalu menggelitik imajinasi birahiku. Waktu itu aku sebenarnya lagi di jendela ruang tamu. Dari sana, aku lihat teman-teman mertuaku datang dengan pakaian rapi. Dalam hati aku berharap mertuaku ikut keluar atau ngobrol bareng mereka di halaman, biar aku bisa ngocok. Tapi ternyata mereka malah ngobrol di dalam rumah.
Beberapa tamu datang dan pergi, sampai aku hampir lengah. Tiba-tiba mertuaku keluar juga, dengan pakaian rapi, mungkin karena ada acara. Cepat-cepat aku berdiri di atas kursi sambil terus ngocok ketika dia perlahan melangkah keluar dari teras rumahnya. Esh..., pepek pantat torok lonte..., tanggung sekali rasanya. Karena, jangankan nembak mani, bugil aja aku gak sempat. Ah..., akhirnya aku pun melanjutkan acara ngocokku tanpa mertuaku, karena dia sudah berlalu dari hadapanku. Santai saja aku membuka celanaku sambil terus melanjutkan ngocokku, lalu pindah ke kamar ****. Tujuanku ngocok di sana adalah berharap agar Novi keluar dari rumahnya dan melalui jendela aku bisa mengarahkan kontolku ke dia.
Baru beberapa saat aku ngocok, dari jendela aku lihat mertuaku berjalan menuju ke rumah. Esh..., pepek..., begitu bersemangatnya aku dan langsung keluar dari kamar, lalu berdiri di kursi menanti mertuaku lewat di hadapanku. Ah..., hentakan tanganku begitu liar mengocoki kontolku, saat dari balik kaca jendela aku menunggu mertuaku. Apalagi saat mertuaku benar-benar melintas di hadapanku, dengan penuh tatapan birahi aku ngocok dan menikmati setiap hentakan kocokan di kontolku.
Jujur, tiba-tiba aku berpikir untuk membuka pintu depan rumahku saat melihat mertuaku itu masuk ke dalam rumahnya. Dan memang aku lakukan dengan membuka sedikit pintu depan rumahku. Tapi..., entah kenapa aku tidak begitu yakin. Hingga mertuaku akhirnya keluar lagi dari rumahnya, aku hanya ngocok dan melihatnya melalui celah pintu depan yang aku buka sedikit. Esh..., pepek pantat lonte torok..., aku begitu merutuk, karena kesempatan untuk membuka pintu depan rumahku lebar-lebar saat mertuaku lewat, telah kusia-siakan begitu saja... Ah..., pepek..., akhirnya aku kembali masuk ke kamar **** untuk melanjutkan ngocokku di sana.
Baru beberapa saat aku ngocok, kembali aku lihat mertuaku berjalan menuju rumah. Esh..., lonte pepek torok..., aku pun segera keluar kamar dan langsung ngocok sambil menanti mertuaku itu melewati aku. Ah..., gejolak birahiku terasa begitu menggebu. Apalagi ketika mertuaku kembali masuk ke rumahnya. Adrenalinku kian terpacu, dan kenekatanku semakin menjadi, hingga aku kembali membuka sedikit pintu rumahku tepat saat mertuaku melangkah masuk. Posisi pintu saat itu terbuka sekitar 10 cm, dan dari tempatku berdiri aku bisa melihat kondisi gerbang rumah Novi. Esh..., suara hentakan tanganku yang begitu liar mengocoki kontolku terdengar sangat jelas, tapi aku gak begitu perduli. Bahwa desahan nafasku juga ikut memanggil nama mertuaku seiring semakin cepatnya tanganku mengocoki kontolku. 
Sampai akhirnya, kocokan itu aku perlambat saat aku melihat mertuaku mulai melangkah keluar dari pintu rumahnya. Perlahan, aku menutup pintu rumahku hingga tersisa celah sekitar 2 cm, di saat aku lihat mertuaku mengunci pintu rumahnya. Adrenalinku seolah meledak dan tubuhku terasa sedikit bergetar saat melihat mertuaku perlahan melangkah keluar dari teras rumahnya. Dari balik pintu yang hanya bercelah 2 cm itu, aku berdiri ngocok menanti saat mertuaku melintas di hadapanku. Esh..., lonte pepek pantat torok..., semua rasa bercampur aduk saat itu. Sedikit kesalahan saja, akan berakibat fatal.
Dan begitu mertuaku mulai jalan, tepatnya saat tubuhnya berada sejajar dengan pintu rumahku, secara perlahan tangan kiriku membuka pintu rumahku, sementara tangan kananku masih tetap dalam posisi mengocoki kontolku. Langsung saja tubuh bugilku itu menghadap ke mertuaku yang sedang berjalan perlahan di hadapanku. Saat itu aku benar-benar berdiri di pintu rumah yang sudah terbuka lebar dalam keadaan telanjang tanpa sehelai benangpun di tubuhku. Tak dapat aku bayangkan seandainya saat itu mertuaku melirik sedikit aja ke kiri..., pasti gak ada alasan yang dapat menguatkan penjelasanku kenapa aku dalam keadaan telanjang di pintu rumahku. Belum lagi seandainya pertanyaan kenapa tanganku dalam posisi mencengkram kontolku yang sangat ereksi itu.
Esh..., lonte pepek pantat torok..., hal itu pula yang menambah dan semakin memicu adrenalinku. Bahkan aku tetap bertahan dalam keadaan bugil ngocok di pintu depan rumahku hingga akhirnya aku nembak mani di saat mertuaku itu sudah berada di ujung halaman rumahku, sekitar gerbang rumah Novi. Esh..., dasar lonte pepek pantat torok..., nikmatnya sensasi kelojotan tubuhku sambil mengiringi langkah mertuaku hingga dia tiba di depan rumah Novi.
Ah..., benar-benar nekat aku saat itu. Masih pagi hari, masih jam 09:11, tapi aku begitu nekat ngocok di depan pintu rumahku dalam keadaan telanjang tanpa sehelai benangpun di tubuhku. Kenekatanku juga bukannya tanpa resiko yang besar. Jangankan menolehkan kepala, melirik sedikit saja mertuaku itu ke kiri, ke arah pintu rumahku, pasti sudah nampak jelas saat itu aku sedang bugil ngocok di sampingnya. Apalagi jarak tubuh bugilku dengan mertuaku itu kurang dari 3 m. Dan pastinya, aktifitas bugil ngocokku di depan pintu rumahku itu terlihat jelas dari gerbang rumah Novi maupun dari balik pagar bangunan di samping rumah Novi. Esh..., lonte pepek torok..., nikmatnya...

Kamis, 20 Maret 2025

Bugil Ngocok Di Samping Mertua

Tanggal 20-03-2025, jam 09:30-09:33 aku bugil ngocok sekitar 7 m di samping mertuaku yang sedang mencuci pakaian di kamar mandi rumahnya. Entahlah, sampai sekarangpun aku gak tahu, kenapa aku begitu terobsesi pada mertuaku itu. Selalu saja aku mencari kesempatan untuk dapat menikmati keindahan tubuhnya. Jujur saja, sebenarnya saat itu aku hampir gak semangat karena berulang kali mertuaku keluar dari rumahnya dan beraktifitas di halaman rumah, sementara **** ada juga di dalam rumah. Aku hanya bisa curi-curi pandang untuk menikmati keindahan tubuh mertuaku sambil berimajinasi doang, tanpa bisa ngocok. Jangankan ngocok, ngelus kontolkupun aku gak bisa. Padahal seandainya saat itu aku sedang sendirian di rumah, pasti aku bisa ngocok di belakang mertuaku.
Hingga akhirnya, saat **** hendak menjemput **, posisiku berada di pintu rumahku untuk menutup pintu dan mertuaku juga hendak masuk ke rumahnya, terdengar olehku suara mertuaku bergumam, "ah..., nyuci aja lah...", yang membuatku sepertinya mempunyai kesempatan untuk ngocok. Walau saat itu aku yakin yang dapat aku lakukan hanya bisa sebatas ngocok di pintu dapur rumahku sambil menghadap ke pintu kamar mandi mertuaku yang mungkin dia tutup, atau curi-curi kesempatan sambil pura-pura jalan dari kamar mandi rumahku dan mencari kesempatan untuk ngocok saat mertuaku tidak melihat ke arah aku, seandainya pintu kamar mandi rumah mertuaku itu terbuka. Karena sudah menjadi kebiasaan mertuaku, kalau dia sedang mencuci pakaian, pasti tubuhnya mengarah ke luar pintu kamar mandinya dan aku tahu dia sengaja melakukan itu karena curiga denganku, atau memang gak mau aku jadikan target ngocokku. Hal itu terbukti dengan seringnya kami beradu pandangan saat aku berada di dapur rumahku, saat dia sedang mencuci pakaian dan tak berapa lama kemudian dia pasti menutup pintu kamar mandinya. Ah..., seperti jinak-jinak merpati.
Dan sesaat setelah aku mendengar ucapan mertuaku itu, aku buru-buru menuju dapur rumahku sambil terus melorotkan bagian depan celana pendekku, ngocok di pintu sambil menghadap ke pintu kamar mandi rumah mertuaku yang memang sedari pagi sudah terbuka. Tapi hanya sesaat karena sejujurnya aku hanya memperhitungkan langkah mertuaku untuk masuk ke dalam kamar mandinya. Esh..., begitu besarnya hasratku untuk menjadikan mertuaku itu sebagai target ngocokku. 
Kemudian aku kembali ke ruang tamu rumahku untuk memastikan keberadaan mertuaku. Berulang kali aku hilir mudik dari ruang tamu rumahku ke kamar mandi untuk memastikan apakah mertuaku itu sudah berada di kamar mandinya. Tapi kemudian aku akhirnya memutuskan untuk merebahkan tubuhku di ruang tamu sambil mempermainkan kontolku. Karena kalaupun aku terlalu sering keluar masuk ke dapur rumahku dan seandainya mertuaku memang sudah berada di kamar mandinya dengan pintu yang terbuka, pasti dia akan curiga. Toh selama ini memang seperti itu, yang membuat akhirnya mertuaku menutup pintu kamar mandinya.
Sengaja aku tunggu beberapa saat, walaupun aku sudah mendengar ada suara aktifitas mencuci yang berasal dari kamar mandi mertuaku. Hingga akhirnya, secara perlahan aku masuk ke dapur rumah sambil melirik ke pintu kamar mandi mertuaku. Esh..., lonte pepek torok..., begitu strategisnya posisi mertuaku itu. Selama ini mertuaku kalau mencuci pakaian, pasti tubuhnya menghadap ke pintu kamar mandi yang otomatis dapat melihat langsung ke pintu dapur rumahku, tapi saat itu posisi tubuhnya menyamping mengarah ke pintu masuk kamar mandinya. Walau dapat aku pastikan dan tidak menutup kemungkinan hanya dengan sedikit melirik ke samping kiri, mertuaku itu pasti dapat melihat keberadaanku, tapi posisi tubuhnya itu begitu menggelitik adrenaliku. Walau aku sadar akan menimbulkan kecurigaan, tapi ya aku memang harus berulang kali keluar masuk dapur rumahku sambil sesekali pura-pura ke kamar mandi rumahku untuk memastikan posisi tubuh mertuaku itu tidak begitu banyak berubah. 
Dan akhirnya, setelah situasi aman, saat aku keluar dari kamar mandi rumahku, sengaja aku melorotkan bagian depan celana pendekku serta membiarkan kontolku keluar dari celanaku. Sambil lebih memastikan keberadaan mertuaku yang sudah beberapa kali aku tandai tidak terlalu banyak perubahan posisi tubuhnya, perlahan tanganku juga mulai mengocoki kontolku. Esh..., begitu terpicunya adrenaliku saat sambil berjalan aku ngocok dan melihat mertuaku itu begitu asik dengan pekerjaan mencucinya yang membuat aku akhirnya memutuskan untuk menghentikan langkahku di pintu dapur rumahku. Sambil tetap mengawasi setiap gerakan tubuh mertuaku yang sedang mencuci pakaian, tangan kananku tak henti-hentinya mengocoki kontolku, sementara tangan kiriku memegang bagian depan celanaku untuk mengantisipasi seandainya mertuaku itu melirik atau menoleh ke arah aku.
Esh..., lonte pepek pantat torok..., begitu terbakarnya birahiku melihat mertuaku yang nampak asik dengan cuciannya. Aku sadar, jangankan menoleh ke arah luar pintu kamar mandinya, seandainya mertuaku itu melirik saja, pasti dia dapat melihat aku dengan sangat jelas sedang ngocok mengarah ke dirinya. Esh..., lonte..., begitu meledak-ledak birahiku.
Melihat mertuaku itu tetap fokus pada pekerjaan mencucinya, kenekatanku semakin menjadi. Yang awalnya aku ngocok masih mengenakan celana pendekku, dengan perlahan aku mulai menurunkan celanaku hingga aku benar-benar bugil, telanjang tanpa sehelai benangpun di tubuhku, berdiri ngocok di pintu dapur rumahku dan langsung menghadap, mengarahkan kontolku yang sedang aku kocok itu ke posisi mertuaku. Ah..., begitu nekat dan penuh resiko.
Bahkan saat aku dalam kondisi telanjang seperti itu dan dengan tangan yang sedang mengocoki kontolku, masih juga aku sempatkan untuk melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 09:30. Padahal resiko saat aku melirik ke arah jam itu juga bukan main-main. Kan bisa saja mertuaku itu juga melihat ke arahku saat aku memalingkan wajahku melihat ke arah jam dinding. Tapi..., itulah sensasi kenikmatannya.
Dalam keadaan bugil aku berdiri di pintu dapur rumahku, sambil memandang ke tubuh mertuaku yang sedang jongkok mencuci pakaian dengan penuh tatapan birahi. Apalagi aku melihat pakaian yang dia kenakan itu tersingkap hingga ke pahanya. Esh..., lonte pepek pantat torok..., inginnya aku secara sadar mertuaku itu meminta aku untuk mengentotinya... Esh..., tatapanku begitu liar penuh birahi melihat ke arah mertuaku dan tanganku juga tak henti-hentinya mengocoki kontolku. Suara hentakan kocokan tanganku di kontolku sepertinya tertutupi dengan aktifitas mertuaku itu. Dan saat itu aku begitu liar ngocok mengarah ke mertuaku dengan jarak sekitar 7 m dengan keadaan bugil tanpa sehelai benangpun di tubuhku. Aku sadar dengan resiko yang ada. Ok..., suara kocokan tanganku yang begitu liar mengocoki kontolku tersamarkan dan tak terdengar oleh mertuaku yang sedang mencuci pakaian. Tapi..., hanya dengan sedikit melirik ke arah luar pintu kamar mandinya saja pasti dia akan dapat dengan jelas melihat aku sedang dalam keadaan bugil ngocok. Apalagi kalau mertuaku itu menoleh..., esh..., begitu nikmat sensasi yang aku rasakan saat itu.
Sampai akhirnya sambil berkelonjotan penuh kenikmatan, aku remas kepala kontolku yang sedang memuncratkan maniku. Begitu beraninya aku bertahan tetap di pintu rumahku, menikmati sensasi kelonjotan kenikmatan puncak birahiku. Ah..., benar-benar sangat beresiko. Dan setelah itu aku kemudian mengenakan kembali celanaku lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan mani yang ada di tangan kiriku. Ah..., nikmatnya...