Kamis, 21 Agustus 2025

Bugil Ngocok Di Belakang "Novi" -*-

Tanggal 21-08-2025, jam 07:37–07:39, aku bugil ngocok di belakang Novi yang sedang duduk di pintu depan rumah sambil menelepon wali kelas anaknya. Awalnya, saat aku sedang menonton TV, tiba-tiba Novi datang. Tanpa sungkan, masih di depan pintu, dia berkata, "Bang, pinjam hotspotnya." Jujur, aku agak kaget, soalnya biasanya Novi tidak begitu. Setelah berpikir sebentar, aku masuk ke kamar, mengambil HP, lalu menyalakan hotspotku.
Ketika keluar dari kamar, aku mendapati Novi sedang duduk di pintu depan rumah. Aku pun mendekatinya dan memintanya masuk, tapi dia menolak dan memilih tetap duduk di sana. Setelah password dan hotspot tersambung, Novi mulai menelepon seseorang dengan posisi tubuh membelakangi ruang tamu. Dan aku pun kemudian duduk di kursi ruang tamuku juga. Dari percakapan yang kudengar sejak awal, ternyata dia sedang menelepon wali kelas anaknya. Esh..., lonte..., di saat itu, entah kenapa, pikiranku tiba-tiba melayang. Aku teringat pada kejadian beberapa waktu lalu, ketika aku ngocok di belakang Novi, saat dia memetik sayuran di halaman belakang rumah mertuaku. Dasar lonte pepek pantat torok..., kontolku mulai terasa menggeliat seiring dengan pandanganku yang semakin penuh birahi menelusuri lekuk tubuh belakang Novi.
Perlahan aku mulai meraba-raba kontolku yang sudah mulai ereksi dan memperhatikan setiap detail lekuk tubuh serta gerakan Novi yang sedang duduk di lantai. Menurutku, mungkin saat itu Novi sedang tidak enak badan, karena aku lihat dia memakai kaus kaki. Esh..., dasar lonte..., t-shirt dan celana training yang dia pakai itu membuat hayalan birahiku begitu berkelana. Pasti begitu mudah untuk melorotkan celana training yang dia pakai itu. Ah..., kontolku yang sudah ereksi terasa tertahan oleh sempakku dan itu membuatku tidak nyaman. 
Dalam posisi jongkok meringkuk, tangan kirinya memeluk betis dan dadanya menekan lutut. Dari belakang, terlihat Novi serius berbicara lewat telepon dengan tubuh sedikit membungkuk dan hampir tanpa gerakan. Dari pembicaraan Novi, selain dia meminta ijin agar anaknya tidak masuk sekolah, dia juga berkonsultasi tentang perkembangan anaknya. Pemandangan itu justru membuatku semakin nekat dengan lebih meremas kontolku yang sudah ereksi dan memberontak ingin dikocok. Esh..., dasar lonte pepek pantat torok kau Novi...
Perlahan aku bangkit dari kursi dan masuk ke kamar ****. Tujuanku saat itu sebenarnya aku ingin membuka sempakku karena mengganjal kontolku dan rencananya aku akan kembali lagi duduk di ruang tamu. Tapi begitu aku membuka celanaku dengan posisi pintu kamar yang terbuka lebar, tiba-tiba timbul ideku untuk bugil ngocok di belakangnya. Jujur, detak jantungku begitu terpacu seiring dengan letupan birahiku. Setelah aku membuka sempakku, aku kembali mengenakan celanaku, lalu pura-pura duduk sambil menghidupkan mode merekam melalui aplikasi Background Video, sementara Novi masih nampak serius berbicara melalui HP.
Melalui mode merekam dari kamera depan dan setelah meletakkan HP-ku itu sesuai sudut perekaman yang dapat mencakup posisi pintu kamar **** dan posisi Novi, kemudian aku mematikan layarnya. Hal itu aku lakukan untuk menghindari seandainya tiba-tiba Novi selesai menelepon dan melihat HP-ku. Esh..., dasar lonte kau Novi..., begitu menggelegaknya birahiku...
Setelah aku sudah yakin dengan posisi Novi yang tidak berubah itu, aku kembali masuk ke kamar **** dan dengan santai aku melorotkan celana pendekku. Dalam kondisi bugil, telanjang tanpa sehelai benang pun di tubuhku,  aku masih berdiri di kamar **** sambil lebih menyimak pembicaraan Novi. Setelah merasa aman, perlahan aku menjulurkan kepala keluar pintu untuk memeriksa posisinya. Esh..., lonte kau Novi..., begitu ereksinya kontolku...
Dengan gerakan perlahan aku keluar dan berdiri di depan pintu kamar ****. Desiran birahiku begitu kuat terasa dan sambil menelusuri setiap lekuk tubuh bagian belakang Novi yang sedang serius menelepon, tanganku mulai mengocoki kontolku. Saat itu jam dinding menunjukkan pukul 07:37. Esh..., dasar lonte kau Novi..., begitu perlahan tanganku mengocoki kontolku. Pandangan mataku begitu buas menelusuri setiap lekuk tubuh belakang Novi. Esh..., lonte pepek torok..., binal gak ya si Novi itu klo lagi ngentot...
Setiap hentakan tanganku yang sedang mengocoki kontolku begitu aku atur agar tidak terdengar. Ah..., begitu dekatnya tubuh bugilku dengan tubuh si Novi itu... Sensasi kenikmatan ngocok di belakang Novi dalam keadaan telanjang tanpa sehelai benang pun di tubuhku begitu aku nikmati. Posisi Novi yang duduk jongkok membelakangi aku itu begitu menguntungkanku. Karena gerakan yang akan Novi lakukan itu bisa terbaca olehku, walau kemungkinan untuk dapat cepat menghindar tidak dapat aku prediksikan, dan itulah resiko dan sensasinya.
Novi yang masih dalam posisi jongkok itu tampak serius berbicara, sementara aku begitu menghayati kenikmatan setiap kocokan tanganku di kontolku. Saat itu, secara perlahan pinggulku pun ikut bergoyang maju mundur seirama dengan kocokan di kontolku. Esh..., nikmat dan penuh sensasi. Adrenalinku terasa terpicu dengan keadaan tubuhku yang sedang berdiri telanjang di belakang Novi dengan kocokan perlahan di kontolku. Lonte..., benar-benar lonte si Novi itu..., seperti tak merasakan gerakan apapun di belakangnya, dia tetap serius berbicara dengan wali kelas anaknya. 
Jarak tubuh bugilku dengan Novi sekitar 2 m. Dan secara perlahan aku maju beberapa langkah tanpa menghentikan kocokan di kontolku. Dasar lonte..., begitu beresikonya aku saat itu. Selain gerakan cepat menoleh Novi seandainya dia curiga dengan gerakan yang ada di belakangnya, pintu yang terbuka lebar juga dapat memungkin seandainya anaknya datang menyusul, atau siapapun itu, termasuk mertuaku yang sedang belanja dapat melihat langsung keadaan tubuh bugilku yang sedang berdiri ngocok di belakang Novi. Esh..., lonte...
Sampai akhirnya, secara perlahan aku memundurkan langkahku, kembali ke depan pintu kamar dan nembak mani. Dasar lonte si Novi itu..., begitu kental dan banyak maniku yang keluar yang aku tahan dan tampung dengan tangan kiriku. Di belakang Novi, aku begitu menikmati kelonjotan puncak birahiku. Dengan jarak sekitar 2 m, begitu puasnya aku mengekspresikan birahiku, telanjang tanpa sehelai benang pun di tubuhku, dan berdiri ngocok hingga nembak mani di belakang Novi.
Setelah itu, sambil melirik ke arah jam dinding yang telah menunjukkan pukul 07:39, perlahan aku masuk ke dalam kamar **** untuk membersihkan mani yang ada di tangan dengan menggunakan sempakku. Lalu aku memakai kembali celana pendekku tanpa memakai sempak dan kemudian duduk di kursi tamu sambil meraih HP untuk mematikan aplikasi Background Video dengan sebelumnya aku sempatkan untuk merekam posisi dudukku dan posisi Novi yang sedang duduk jongkok di pintu rumahku. Sengaja aku tetap memegang HP dan bermain games untuk menutupi ereksi kontolku yang nampak jelas di bagian depan celanaku, walau saat itu aku dalam posisi duduk. Tanganku pun sengaja berada di kedua pahaku, sementara HP aku tempatkan di sekitar atas kontolku.
Beberapa saat setelah aku duduk di kursi sambil bermain HP, perlahan Novi bergerak bangkit dan kemudian menyudahi pembicaraan teleponnya. Aku pun mencoba berbasa basi  dengan mengajaknya ngobrol. Dan ternyata Novi menyambut dengan bercerita sedikit soal pembicaraannya melalui telepon itu. Posisiku saat itu masih dalam keadaan duduk di kursi, karena kontolku sebenarnya masih ereksi, sementara Novi berdiri di depan pintu rumahku. Dan setelah beberapa saat ngobrol, akhirnya Novi pamit pulang. Begitu Novi pamit, lalu secara perlahan aku bangkit dari kursi. Hal itu aku lakukan, karena saat itu Novi masih mengarah ke aku, mau gak mau akhirnya aku harus bangkit. Sengaja secara perlahan aku bangkit menunggu Novi membalikkan arah tubuhnya agar gak kelihatan kontolku itu menyodok bagian depan celana pendekku. Esh..., celana training yang dia pakai itu begitu menggoda untuk aku memelorotinya. Saat Novi berbalik badan dan mengucapkan terima kasih atas hotspot yang aku berikan, aku menjawabnya sambil berjalan mengikuti langkahnya hingga ke depan pintu rumahku.
Ah..., dasar lonte pepek torok si Novi itu..., begitu terpuaskan birahiku. Apalagi saat aku memutar ulang hasil rekaman videoku, ah..., begitu nekatnya aku ngocok dalam keadaan bugil di belakang Novi. Mengekspresikan birahiku ngocok dalam keadaan tanpa sehelai benang pun di tubuhku hanya sekitar 2 m di belakang Novi. Puas sekali rasanya melihat dalam hasil rekaman video itu, tubuhku begitu berkelonjot penuh nikmat saat aku nembak mani di belakangnya. Ah..., dasar lonte kau Novi...