Tanggal 12-05-2025, antara jam 11:50-12:30 di pantai G daerah A S, begitu puasnya jariku meraba, menggesek dan bermain di pepek Kia. Sebenarnya kedatangan aku ke A S beserta keluarga adalah sebagai liburan yang tak terencana. Dan aku sampai A S sekitar jam 19:20 pada tanggal 11-05-2025. Nilma yang mengetahui kehadiran kami di sana langsung datang bersama suaminya tapi tanpa membawa Kia. Esh..., dasar lonte memang si Nilma itu..., makin montok aja pantatnya. Apalagi teteknya..., nampak begitu besar karena saat itu Nilma menggunakan daster dan pada bagian depan dasternya itu entah memang seperti itu model bajunya, tapi benar-benar menggambarkan bentuk tetek Nilma yang sebenarnya. Esh..., lonte..., seperti gak memakai BH. Dan nampak seperti pepaya yang menggantung di dadanya. Begitu banyak perubahan tubuh Nilma yang aku lihat saat itu.
Dan pada tanggal 12-05-2025 akhirnya di pantai G aku ketemu Kia. Esh..., jujur..., dalam hatiku aku begitu menegaskan agar aku jangan gegabah dalam menjadikan Kia sebagai targetku. Berulang kali aku secara sembunyi-sembunyi memperhatikan setiap gerakan Kia. Aku sendiri juga sudah sangat yakin kalau Kia itu sudah ngerti tentang kontol dikocok. Apalagi dulu dia pernah begitu panik sampai menendang pahaku saat dia melihat aku ngocok tepat di hadapannya. Dah saat itu, aku sedang mencari cara untuk setidaknya Kia itu bisa bersama aku, dan pastinya ide berikutnya dengan apa yang akan aku perbuat untuk Kia akan disesuai dengan kondisi aja.
Sampai akhirnya Kia yang sedang bermain di tepi pantai memanggil aku dan ingin ikut bermain di air. Ah..., kesempatan yang memang aku tunggu-tunggu dan aku langsung menghampiri Kia sambil terus menggendongnya. Dengan tangan kiriku, sengaja aku gendong si Kia itu. Nampak begitu senang dia, hingga tertawa dan berteriak kegirangan tepat di depan wajahku. Esh..., dasar lonte kau Kia..., seandainya saat itu tidak ada orang di sekitarku, sudah pasti akan aku cium dan lumat bibirnya. Esh..., apalagi kaki Kia kadang menyentuh kontolku, yang membuat birahiku begitu terbakar.
Sambil bermain di ombak laut, sengaja tangan kananku aku perlihatkan di permukaan air, agar nampak senatural mungkin. Sementara sambil bercanda dengan Kia, jari tangan kiriku mulai meraba-raba pepeknya. Esh..., lonte..., denyut kontolku benar-benar terasa nikmat. Dan lebih lontenya lagi si Kia itu adalah, sesaat setelah aku meraba serta menggesek-gesekkan jari tengah maupun jari telunjukku di pepeknya, kencing pula dia. Esh..., terasa hangat air di sekitar tanganku. Ah..., dasar lonte kau Kia... Untung saja saat itu aku berada dalam keramaian, kalau nggak...
Dan aku pun sengaja menahan kencingku hingga saat kaki Kia benar-benar nempel di kontolku. Esh..., dasar lonte cilik si Kia itu..., sepertinya dia tahu kalau saat itu aku sedang kencing di air dan dia langsung menarik kakinya menjauh dari kontolku. Tapi akhirnya terpuaskan juga aku dengan 2 kali kencing di sekitar leher dan dada Kia, saat dia tertarik untuk berdiri sendiri sambil memelukku untuk menikmati ombak laut yang menerjang kami. Kalau itu Kia benar-benar tidak dapat menghindari hangatnya kencingku karena gak mungkin dia merenggangkan pelukannya di pahaku.
Sebisanya aku terus saja menggendong Kia, walau sejujurnya terasa pegal tanganku, sambil jari tanganku menempel di pepeknya. Dengan selalu mengajaknya bercanda, jariku tetap bermain di pepeknya. Bahkan semakin jauh hingga tanganku masuk ke dalam celana dan sempaknya sambil mengelus dan memutar jariku itu di bagian itilnya. Ah..., sebenarnya apa yang aku lakukan itu sungguh sangat nekat. Karena benar-benar di tengah keramaian.
Aku bahkan bertahan bersama Kia sementara yang lainnya sudah pada menepi karena aku begitu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk meraba dan menikmati permainan tanganku di pepek Kia. Ah..., Kia yang merasa senang bermain ombak bersamaku sepertinya tidak menyadari kalau jariku itu begitu buas meraba dan menekan-nekan pepeknya. Karena begitu nampak ada ombak yang akan menerpa kami, sengaja aku masukkan tubuh Kia ke dalam air dan jari tanganku juga langsung bermain di pepeknya sampai kemudian gelombang air itu menerpa kami. Begitulah yang aku lakukan selama aku bersama Kia.
Jujur saat itu aku sepertinya mulai hilang kendali dan berniat untuk melorotkan bagian depan celanaku mengingat saat itu hanya ada aku dan Kia yang berada di air. Tapi ada hal yang membuatku tersadar saat tangan Kia menggaruk pantatnya yang gatal dan aku membantunya juga dengan memasukkan tanganku ke dalam sempaknya, kemudian Kia menggeliat sambil menarik tanganku dari pantatnya sambil mengatakan sesuatu dalam istilah bahasa A S yang aku kurang memahaminya. Hal itu yang menyadarkan aku dan aku pun secara perlahan menarik tanganku keluar dari sempak Kia. Dan untuk menormalkan suasana, aku kembali mengajak Kia bercanda sambil jariku juga bermain di pepeknya dengan cara yang aku lakukan sebelumnya, yaitu sengaja memasukkan tubuhnya saat nampak ada ombak yang akan datang sambil jariku juga langsung berada di pepeknya.
Hingga akhirnya Kia memintaku untuk membawanya naik ke darat. Aku pun menurutinya karena ya memang hanya aku dan Kia saja yang berada di air. Ah..., dasar lonte cilik si Kia itu..., puasnya jariku bermain dan bermanja di pepeknya.