Kesempatan kadang datang secara tidak terduga. Walau tidak sempat ngocok, tapi puas juga aku menggerayangi tubuh anak perempuan SD di dalam bus Brmn.
Di dalam bus Brmn, dini hari tanggal 31-08-2008 aku masih dalam perjalanan menuju Rhl. Aku duduk di bangku paling belakang, kebetulan di samping kiriku ada seorang anak perempuan yang tidur sambil menyandarkan kepalanya di pundak kiriku. Sepertinya dia masih SD, mungkin masih kelas 5. Begitu pulasnya dia tidur, dan tidak berapa lama kemudian, tangan kirinya merangkul pahaku. Lalu dia tidur tepat di pangkuanku. Kepalanya menindih kontolku. Jadi serba salah aku dengan posisi seperti itu. Begitu nyata kontolku ereksi dan bergerak-gerak di kepalanya, tapi anak perempuan itu tetap lelap tidurnya. Ah... kesempatan! Dengan perlahan, tangan kiriku meraba teteknya. Kuremas-remas sambil kunikmati setiap gerakan kontolku yang ereksi ditimpa oleh kepalanya. Santai saja aku meremas teteknya. Padahal di sebelahnya itu ada kakaknya, yang menurutku masih SMP. Dia juga tertidur. Dan di samping kananku, ada beberapa orang yang juga tertidur. Di bangku itu kami duduk berhimpitan sebanyak enam orang. Kemudian bus berhenti untuk rehat, dan sebagai formalitas, di depan kakaknya yang sudah lebih awal terbangun, aku pura-pura membangunkan anak perempuan itu. Setelah bus bergerak melanjutkan perjalanan, anak perempuan itu lalu merebahkan kepalanya di pundakku lagi. Dengan susah payah aku mengeluarkan kontolku dari sempak, karena aku yakin pasti dia akan tertidur di pangkuanku lagi. Sambil iseng, aku bimbing tangannya untuk memegang kontolku. Tapi tak lama dia memegang kontolku karena sejurus kemudian, dia merebahkan kepalanya di pangkuanku. Saat itu denyut ereksi kontolku begitu nyata bergerak-gerak di kepalanya. Dengan santai, tangan kiriku mulai meremas-remas teteknya lagi. Ah... teteknya itu sebenarnya masih terlalu kecil, tapi asik juga saat aku meremas-remasnya. Mungkin karena semakin lama semakin kuat aku remas teteknya, akhirnya anak perempuan itu terbangun. Lalu dia menyandarkan kembali kepalanya di pundakku. Sialan... padahal sedang asik-asiknya! Tapi aku tidak kehilangan akal. Dengan berpura-pura melipat tangan, aku kembali meraba teteknya. Pada mulanya tangan kananku agak sulit juga untuk dapat meraba teteknya. Tapi setelah dapat, wah... tak dapat kubayangkan asiknya aku meremas teteknya itu. Hingga kemudian anak perempuan itu tersentak bangun dan hari pun sudah mulai terang.