Sabtu, 06 September 2025

Ngocok Di Belakang "Yana" -*-

"Siapa kau, kontol," itu adalah jawaban WA yang dikirim Yana padaku setelah dia mendapatkan kiriman WA dariku yang berisi, "Pingin ngocok..." Yang kemudian aku jawab dengan, "Hanya penggemarmu yang ingin ngocok kontol," sambil aku sertakan gambar GIF kontolku sedang nembak mani.
Ah... Yana... dia adalah istri temanku yang sedari mereka pacaran, aku sudah mendampingi mereka. Jadi waktu itu aku sengaja WA dia dengan menggunakan WA bisnisku yang memang tidak pernah aku publikasikan, kecuali pada target-target pilihanku saja. Selain aku juga kagum pada keindahan tubuhnya, sebenarnya... sebab aku WA dia secara berkala adalah karena aku tahu mereka sedang mengalami pertengkaran yang lumayan besar. Jadi, seluruh jalan cerita mereka itu aku tahu dan dari itu aku mencoba mencari kesempatan aja dengan mengiriminya chat WA. Pada awalnya, gak ada sama sekali tanggapan dari Yana. Tapi akhirnya kata "kontol" itu keluar saat memang momennya mereka sudah berbaikan. Ah... dasar lonte pepek torok kau Yana. 
Jujur aja, setelah aku mendapati kata "kontol" dari Yana, aku jadi seperti tertantang untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi. Ada keinginan yang sangat besar untuk menjadikannya sebagai sasaran ngocokku secara nyata. Lekuk tubuhnya termasuk bagus juga, karena pada masa pacaran, temanku itu sering membawanya jalan dan dia sering memakai rok yang pendek. Dari situ aku bisa menilai bahwa selain pantatnya yang montok, pahanya juga sangat sesuai dengan bentuk tubuhnya.
Apalagi, saat mereka sudah kawin dan aku bertamu ke rumah kontrakan mereka, aku mendapati Yana keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang menutupi sedikit bagian tetek dan pahanya. Esh... lonte... mengingat kejadian itu, aku jadi tersenyum penuh tanda tanya. Karena begitu santai sikapnya saat dia keluar dari kamar mandi dan mendapati aku sedang menatap ke arahnya. Esh... saat itu kontolku pun langsung menggeliat, bersamaan dengan letupan birahi yang aku rasakan. Ah... yang paling lontenya si Yana itu adalah saat dia selesai berpakaian dan kemudian dia datang menyajikan minuman kepadaku, dia membungkukkan badannya, meletakkan gelas minuman sambil—entah itu sengaja atau tidak—mempertontonkan teteknya di depanku. Esh... dasar lonte si Yana itu, karena hanya puting teteknya aja yang gak nampak olehku. Selebihnya ya secara utuh aku melihat secara langsung kedua teteknya yang gak memakai BH itu. Di depanku juga dia mempertontonkan pahanya, padahal di sampingnya itu ada suaminya, yaitu temanku. Uh... dasar lonte kau Yana... benar-benar ereksi kontolku saat itu. Esh... mengingat kejadian itu, membuat keinginanku untuk menjadikan Yana sebagai sasaran ngocokku semakin menjadi. Dan akhirnya kesempatan itu bisa terlaksana, walau kejadiannya tidak aku rencanakan.
Seperti yang aku katakan, apapun yang terjadi di antara temanku dan Yana, aku pasti tahu. Apalagi saat Yana sedang sakit, yang membuat temanku itu harus mengambil cuti. Sebenarnya aku datang ke rumah mereka karena kondisi Yana yang sedang sakit itu, dan gak ada maksud yang lain, seperti ingin menjadikan dia sebagai target ngocokku. Aku datang di sore hari sekitar pukul 17:35, pada tanggal 06-09-2025.
Pada awal aku datang, aku merasa waktunya kurang tepat, karena saat itu anaknya temanku itu sedang rewel. Jadi kurang bisa ngobrol karena temanku itu sibuk membujuk anaknya, sementara Yana nampak tidur di kursi panjang ruang tamunya. Hanya beberapa menit setelah kedatanganku, aku pamit pulang karena melihat kerepotan yang dialami temanku. Namun, permintaanku ditolak oleh temanku dengan alasan aku sudah menyempatkan diri jauh-jauh datang ke rumah mereka. Sebenarnya aku sempat juga bersikeras untuk pulang karena kulihat Yana sedang pulas tidurnya. Tapi temanku itu tetap memaksaku untuk tidak pulang sambil mengatakan, "Sebentar, Bang, biar aku bawa **** jajan dulu." Dan aku langsung mengomentarinya, "Lah, di sekitar sini ada warung?" "Ada, Bang, Indomaret sekitar 10 menit dari sini," jawab temanku.
Akhirnya temanku itu membawa anaknya keluar untuk jajan sambil menyerahkan remote TV. Saat aku menerima remote tersebut, sempat juga aku katakan kalau nanti mengganggu Yana yang sedang tidur. Namun jawaban temanku, "Gak papa, Bang, itu Yana tidur karena efek obat yang dia minum," sepertinya membuat niat awalku yang hanya ingin membesuk jadi berubah. Saat temanku keluar dari rumahnya, aku juga ikut mengiringinya hingga teras. Dan jujur, baru beberapa meter temanku itu menutup pintu gerbang dan meninggalkan rumahnya, desiran birahiku secara perlahan mulai terasa, diiringi dengan denyut nikmat di kontolku.
Secara santai aku kembali masuk ke dalam rumah dan kemudian duduk sambil menghidupkan siaran TV. Sengaja suara TV itu aku kecilkan sambil aku melihat ke arah Yana yang tidur dalam posisi menyamping membelakangi aku. Esh... lonte... montok juga pantat si Yana itu... Secara seksama aku mulai memperhatikan Yana dan melihat kemungkinan pergerakannya. Ah... kontolku pun secara liar ereksi dan menyodok sempakku. Jujur, letupan birahiku benar-benar tidak dapat aku tahan dan secara perlahan aku bangkit sambil berjalan mendekati Yana. Ah... kesempatan yang tidak akan aku sia-siakan. Adrenalinku semakin terpicu, yang membuat aku akhirnya nekat untuk melangkahkan kakiku ke dapur dan membuka celanaku untuk melepaskan sempakku. Tak lupa, aku ambil tali yang biasa mengikat telor kontolku dari tas selempangku. Dalam keadaan setengah telanjang aku mengikat telor kontolku dengan tali tersebut. Kemudian aku masukkan sempakku ke dalam tas dan aku kembali mengenakan celanaku. Sengaja melalui resleting celana yang aku buka, aku keluarkan kontolku secara keseluruhan, termasuk telor kontolku yang sudah terikat itu. 
Santai saja aku kembali berjalan ke ruang tamu sambil meletakkan tas selempangku ke meja dan mendekati Yana yang sedang tidur. Dari jam tanganku dapat aku lihat saat awal tanganku mulai memegang kontolku yang sudah sangat ereksi itu pada pukul 17:43. Sambil berdiri sekitar 1 m di belakang Yana dan memperhatikan lekuk tubuhnya, perlahan aku mulai ngocok. Esh... lonte kau Yana... bohay juga tubuhmu...
Kondisi pintu gerbang yang tertutup dan suasana perumahan di sekitar kontrakan temanku yang terbilang sunyi itu membuat aku begitu santai ngocok di belakang Yana. Awalnya aku berdiri ngocok sekitar satu meter di belakang Yana. Perlahan, aku semakin mendekat hingga jarakku tinggal beberapa sentimeter saja darinya.
Ah... nikmat sekali setiap hentakan tanganku yang sedang mengocoki kontolku. Apalagi pengaruh telor kontolku yang terikat itu terbentur oleh tanganku yang sedang mengocoki kontolku. Begitu penuh birahi aku tatap si Yana yang tertidur di depanku sambil imajinasiku bermain dalam benakku. Esh... dasar lonte kau Yana... inilah kontol yang kau tanya di WA itu...
Karena gak ada gerakan yang berarti dari Yana, membuat aku semakin nekat dengan menyentuhkan kepala kontolku ke lengan atas kirinya sambil tangan kiriku bersiap untuk memasukkan kontolku jika ada reaksi dari si Yana. Tapi memang dasar lonte pepek torok pantat si Yana itu... masih sangat lelap tidurnya dan dia tidak bereaksi. Hal itu membuat aku semakin nekat dengan berpindah posisi yang awalnya berdiri di sekitar pantat dan pinggangnya, menjadi berdiri di sekitar belakang kepalanya. Secara perlahan aku menyentuhkan kepala kontolku di bagian belakang kepalanya sambil sedikit aku permainkan kepala kontolku di rambutnya. Memang lonte si Yana itu... membuat birahiku begitu menggelegaknya. Esh... sambil ngocok di sekitar kepala Yana, begitu bermainnya imajinasiku. Dari penilaianku, Yana ini tipe perempuan yang sedikit pasif kalau ngentot, walau dari cara bicaranya itu sedikit lebih pasaran. Tapi pasti bisa aku buat binal dia kalau mau aku ajak ngentot. Esh... dasar lonte kau Yana... 
Hingga akhirnya aku gak bisa menahan dorongan maniku untuk muncrat dari kontolku yang kemudian aku tahan dengan tangan kiriku. Penuh kenikmatan aku berkelonjotan di sekitar kepala Yana sambil meremas kepala kontolku dan menahan maniku agar tidak muncrat mengenai kepala atau tubuhnya serta tidak berceceran di lantai. 
Esh... lonte pepek pantat torok kau Yana... nikmatnya...
Dan setelah aku puas berkelonjotan, kemudian aku meraih tasku untuk mengambil sempakku. Sambil melihat ke jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 17:50, santai saja aku membersihkan maniku dengan sempakku. Setelah semua sudah bersih, termasuk aku kembali memperhatikan tubuh Yana dan lantai—mana tahu ada ceceran mani yang tak sempat aku tahan—kemudian aku memasukkan kontolku ke dalam celana dengan membiarkan telor kontolku tetap dalam posisi terikat. 
Setelah itu aku keluar dan duduk di teras sambil merokok hingga temanku kembali dari membeli jajan anaknya. Melihat aku duduk di teras, temanku sempat bertanya, "Loh, Bang, kok duduk di teras?" Dan aku menjawab, "Gak papa, biar santai merokoknya."
Akhirnya aku kembali masuk ke dalam rumah mereka dan ngobrol di ruang tamu. Sekitar jam 18:45, Yana terbangun dan hanya beberapa kata saja yang dia ucapkan dalam mengiringi obrolanku dengan suaminya. Saat itu dia masih dalam posisi terbaring karena memang aku larang untuk duduk. Jujur, saat aku pamit pulang pada jam 19:30 dan bersalaman dengan Yana, dalam hati aku berkata, "Inilah Yana... kontol yang tanya itu... sudah aku kocok di belakangmu dan menyentuh tubuhmu..."
Makasih bro... sudah meninggalkan aku berduaan dengan istrimu dan mewujudkan pertanyaan istrimu padaku tentang, "Siapa kau, kontol".

Kamis, 21 Agustus 2025

Bugil Ngocok Di Belakang "Novi" -*-

Tanggal 21-08-2025, jam 07:37–07:39, aku bugil ngocok di belakang Novi yang sedang duduk di pintu depan rumah sambil menelepon wali kelas anaknya. Awalnya, saat aku sedang menonton TV, tiba-tiba Novi datang. Tanpa sungkan, masih di depan pintu, dia berkata, "Bang, pinjam hotspotnya." Jujur, aku agak kaget, soalnya biasanya Novi tidak begitu. Setelah berpikir sebentar, aku masuk ke kamar, mengambil HP, lalu menyalakan hotspotku.
Ketika keluar dari kamar, aku mendapati Novi sedang duduk di pintu depan rumah. Aku pun mendekatinya dan memintanya masuk, tapi dia menolak dan memilih tetap duduk di sana. Setelah password dan hotspot tersambung, Novi mulai menelepon seseorang dengan posisi tubuh membelakangi ruang tamu. Dan aku pun kemudian duduk di kursi ruang tamuku juga. Dari percakapan yang kudengar sejak awal, ternyata dia sedang menelepon wali kelas anaknya. Esh..., lonte..., di saat itu, entah kenapa, pikiranku tiba-tiba melayang. Aku teringat pada kejadian beberapa waktu lalu, ketika aku ngocok di belakang Novi, saat dia memetik sayuran di halaman belakang rumah mertuaku. Dasar lonte pepek pantat torok..., kontolku mulai terasa menggeliat seiring dengan pandanganku yang semakin penuh birahi menelusuri lekuk tubuh belakang Novi.
Perlahan aku mulai meraba-raba kontolku yang sudah mulai ereksi dan memperhatikan setiap detail lekuk tubuh serta gerakan Novi yang sedang duduk di lantai. Menurutku, mungkin saat itu Novi sedang tidak enak badan, karena aku lihat dia memakai kaus kaki. Esh..., dasar lonte..., t-shirt dan celana training yang dia pakai itu membuat hayalan birahiku begitu berkelana. Pasti begitu mudah untuk melorotkan celana training yang dia pakai itu. Ah..., kontolku yang sudah ereksi terasa tertahan oleh sempakku dan itu membuatku tidak nyaman. 
Dalam posisi jongkok meringkuk, tangan kirinya memeluk betis dan dadanya menekan lutut. Dari belakang, terlihat Novi serius berbicara lewat telepon dengan tubuh sedikit membungkuk dan hampir tanpa gerakan. Dari pembicaraan Novi, selain dia meminta ijin agar anaknya tidak masuk sekolah, dia juga berkonsultasi tentang perkembangan anaknya. Pemandangan itu justru membuatku semakin nekat dengan lebih meremas kontolku yang sudah ereksi dan memberontak ingin dikocok. Esh..., dasar lonte pepek pantat torok kau Novi...
Perlahan aku bangkit dari kursi dan masuk ke kamar ****. Tujuanku saat itu sebenarnya aku ingin membuka sempakku karena mengganjal kontolku dan rencananya aku akan kembali lagi duduk di ruang tamu. Tapi begitu aku membuka celanaku dengan posisi pintu kamar yang terbuka lebar, tiba-tiba timbul ideku untuk bugil ngocok di belakangnya. Jujur, detak jantungku begitu terpacu seiring dengan letupan birahiku. Setelah aku membuka sempakku, aku kembali mengenakan celanaku, lalu pura-pura duduk sambil menghidupkan mode merekam melalui aplikasi Background Video, sementara Novi masih nampak serius berbicara melalui HP.
Melalui mode merekam dari kamera depan dan setelah meletakkan HP-ku itu sesuai sudut perekaman yang dapat mencakup posisi pintu kamar **** dan posisi Novi, kemudian aku mematikan layarnya. Hal itu aku lakukan untuk menghindari seandainya tiba-tiba Novi selesai menelepon dan melihat HP-ku. Esh..., dasar lonte kau Novi..., begitu menggelegaknya birahiku...
Setelah aku sudah yakin dengan posisi Novi yang tidak berubah itu, aku kembali masuk ke kamar **** dan dengan santai aku melorotkan celana pendekku. Dalam kondisi bugil, telanjang tanpa sehelai benang pun di tubuhku,  aku masih berdiri di kamar **** sambil lebih menyimak pembicaraan Novi. Setelah merasa aman, perlahan aku menjulurkan kepala keluar pintu untuk memeriksa posisinya. Esh..., lonte kau Novi..., begitu ereksinya kontolku...
Dengan gerakan perlahan aku keluar dan berdiri di depan pintu kamar ****. Desiran birahiku begitu kuat terasa dan sambil menelusuri setiap lekuk tubuh bagian belakang Novi yang sedang serius menelepon, tanganku mulai mengocoki kontolku. Saat itu jam dinding menunjukkan pukul 07:37. Esh..., dasar lonte kau Novi..., begitu perlahan tanganku mengocoki kontolku. Pandangan mataku begitu buas menelusuri setiap lekuk tubuh belakang Novi. Esh..., lonte pepek torok..., binal gak ya si Novi itu klo lagi ngentot...
Setiap hentakan tanganku yang sedang mengocoki kontolku begitu aku atur agar tidak terdengar. Ah..., begitu dekatnya tubuh bugilku dengan tubuh si Novi itu... Sensasi kenikmatan ngocok di belakang Novi dalam keadaan telanjang tanpa sehelai benang pun di tubuhku begitu aku nikmati. Posisi Novi yang duduk jongkok membelakangi aku itu begitu menguntungkanku. Karena gerakan yang akan Novi lakukan itu bisa terbaca olehku, walau kemungkinan untuk dapat cepat menghindar tidak dapat aku prediksikan, dan itulah resiko dan sensasinya.
Novi yang masih dalam posisi jongkok itu tampak serius berbicara, sementara aku begitu menghayati kenikmatan setiap kocokan tanganku di kontolku. Saat itu, secara perlahan pinggulku pun ikut bergoyang maju mundur seirama dengan kocokan di kontolku. Esh..., nikmat dan penuh sensasi. Adrenalinku terasa terpicu dengan keadaan tubuhku yang sedang berdiri telanjang di belakang Novi dengan kocokan perlahan di kontolku. Lonte..., benar-benar lonte si Novi itu..., seperti tak merasakan gerakan apapun di belakangnya, dia tetap serius berbicara dengan wali kelas anaknya. 
Jarak tubuh bugilku dengan Novi sekitar 2 m. Dan secara perlahan aku maju beberapa langkah tanpa menghentikan kocokan di kontolku. Dasar lonte..., begitu beresikonya aku saat itu. Selain gerakan cepat menoleh Novi seandainya dia curiga dengan gerakan yang ada di belakangnya, pintu yang terbuka lebar juga dapat memungkin seandainya anaknya datang menyusul, atau siapapun itu, termasuk mertuaku yang sedang belanja dapat melihat langsung keadaan tubuh bugilku yang sedang berdiri ngocok di belakang Novi. Esh..., lonte...
Sampai akhirnya, secara perlahan aku memundurkan langkahku, kembali ke depan pintu kamar dan nembak mani. Dasar lonte si Novi itu..., begitu kental dan banyak maniku yang keluar yang aku tahan dan tampung dengan tangan kiriku. Di belakang Novi, aku begitu menikmati kelonjotan puncak birahiku. Dengan jarak sekitar 2 m, begitu puasnya aku mengekspresikan birahiku, telanjang tanpa sehelai benang pun di tubuhku, dan berdiri ngocok hingga nembak mani di belakang Novi.
Setelah itu, sambil melirik ke arah jam dinding yang telah menunjukkan pukul 07:39, perlahan aku masuk ke dalam kamar **** untuk membersihkan mani yang ada di tangan dengan menggunakan sempakku. Lalu aku memakai kembali celana pendekku tanpa memakai sempak dan kemudian duduk di kursi tamu sambil meraih HP untuk mematikan aplikasi Background Video dengan sebelumnya aku sempatkan untuk merekam posisi dudukku dan posisi Novi yang sedang duduk jongkok di pintu rumahku. Sengaja aku tetap memegang HP dan bermain games untuk menutupi ereksi kontolku yang nampak jelas di bagian depan celanaku, walau saat itu aku dalam posisi duduk. Tanganku pun sengaja berada di kedua pahaku, sementara HP aku tempatkan di sekitar atas kontolku.
Beberapa saat setelah aku duduk di kursi sambil bermain HP, perlahan Novi bergerak bangkit dan kemudian menyudahi pembicaraan teleponnya. Aku pun mencoba berbasa basi  dengan mengajaknya ngobrol. Dan ternyata Novi menyambut dengan bercerita sedikit soal pembicaraannya melalui telepon itu. Posisiku saat itu masih dalam keadaan duduk di kursi, karena kontolku sebenarnya masih ereksi, sementara Novi berdiri di depan pintu rumahku. Dan setelah beberapa saat ngobrol, akhirnya Novi pamit pulang. Begitu Novi pamit, lalu secara perlahan aku bangkit dari kursi. Hal itu aku lakukan, karena saat itu Novi masih mengarah ke aku, mau gak mau akhirnya aku harus bangkit. Sengaja secara perlahan aku bangkit menunggu Novi membalikkan arah tubuhnya agar gak kelihatan kontolku itu menyodok bagian depan celana pendekku. Esh..., celana training yang dia pakai itu begitu menggoda untuk aku memelorotinya. Saat Novi berbalik badan dan mengucapkan terima kasih atas hotspot yang aku berikan, aku menjawabnya sambil berjalan mengikuti langkahnya hingga ke depan pintu rumahku.
Ah..., dasar lonte pepek torok si Novi itu..., begitu terpuaskan birahiku. Apalagi saat aku memutar ulang hasil rekaman videoku, ah..., begitu nekatnya aku ngocok dalam keadaan bugil di belakang Novi. Mengekspresikan birahiku ngocok dalam keadaan tanpa sehelai benang pun di tubuhku hanya sekitar 2 m di belakang Novi. Puas sekali rasanya melihat dalam hasil rekaman video itu, tubuhku begitu berkelonjot penuh nikmat saat aku nembak mani di belakangnya. Ah..., dasar lonte kau Novi...


Jumat, 04 Juli 2025

Chat Dengan "Fyra"

Tanggal 04-07-2025, jam 15:45 aku sengaja miscall Fyra dengan menggunakan WA bisnisku untuk memastikan reaksinya. Hal itu aku lakukan karena dalam foto profilku itu aku menggunakan foto kontolku sedang nembak mani dan pada foto sampulnya, aku menggunakan fotoku saat ngocok di depan Kia, di mana dalam foto itu kontolku itu benar-benar tepat berada di depan wajah Kia. Sebenarnya bukan Fyra saja yang sudah aku kirim chat seperti itu. Ada beberapa teman perempuanku yang sudah aku kirimi, yang mana ada 2 orang yang setelah tahu atau melihat foto profilku atau isi katalogku, mereka langsung memblokir nomorku.
Sebenarnya pada jam 15:58 si Fyra nelepon aku tapi tak terangkat olehku karena memang aku tidak mengaktifkan semua notifikasi pada WA bisnisku itu. Dan pada jam 16:00 Fyra chat ke aku yang menanyakan siapa aku. Ah..., dasar lonte si Fyra itu..., aku sangat yakin Fyra sudah melihat foto profil maupun foto sampul WA-ku, tapi dia masih mau tetap ngobrol menanyakan siapa aku dan dari mana tahu nomornya, serta obrolan lainnya. Dari jam 16:00-16:39 kami saling chat.
Hingga akhirnya, saat obrolan kami sedang asik-asiknya, tiba-tiba Fyra memblokir nomorku. Kemungkin yang bisa dipertimbangkan adalah selama lebih dari setengah jam kami chat, Fyra belum melihat isi katalogku. Dan begitu mengetahui isinya, langsung dia blokir nomor WA-ku. Ah..., dasar lonte si Fyra itu..., padahal foto di profilku itu merupakan screenshot dari video ngocokku yang ada di katalogku. Begitu juga foto sampul yang menampilkan bagaimana kontolku yang sedang aku kocok berada hanya beberapa sentimeter saja dari wajah Kia juga merupakan screenshot dari video yang ada di katalogku juga. Ah..., dasar lonte kau Fyra..., kenapa...?, takutnya gak menemukan sesuatu untuk mengocoki pepekmu saat kau berada di sekolah asramamu? Takut gak terasa kalau ngocok hanya pakai jarimu saat melihat foto dan video yang ada di katalogku? Esh..., dasar lonte..., padahal sangat nyata saat aku memutar kembali video aku ngocok di samping Fyra yang sedang tidur di rumahku beberapa waktu silam, nampak jelas Fyra sedikit membuka matanya dan kembali pura-pura tidur. Dasar lonte..., untuk Fyra, sebenarnya ada 2 video yang masih tersimpan olehku saat aku ngocok di sampingnya. Tapi sayangnya saat aku mencium pepeknya dan menggesekkan kontolku di kakinya, gak sempat aku rekam. 
Dan untuk foto terbaru Fyra adalah saat dia tidur di rumahku tanggal 03-04-2025. Dalam foto itu aku lebih fokus ke pantatnya, selain juga seluruh badannya. Dan jujur..., dalam masa usia peralihan yang dialamai Fyra, bentuk pantat yang sedikit turun biasanya menunjukkan kalau dia itu sering ngocok atau pernah dikentot. Entahlah..., karena bukan sekali dua kali dia datang ke M, tapi dia begitu jaga jarak padaku, yang membuat aku lebih mengabaikannya untuk tidak masuk dalam target ngocokku lagi. Bahkan kalau gak terpaksa, dia lebih memilih untuk tidak berjumpa denganku. Ya kalau menurutku, kemungkinan dia sudah mengenal apa itu kontol dikocok dan mungkin ingat dengan aku yang pernah ngocok di sampingnya saat dia terlihat tidur. Ya mungkin aja.

Minggu, 08 Juni 2025

Montoknya Pantat si "Un"

Tanggal 08-06-2025, dari jam 13:10-15:40 begitu bermanjanya pandangan mataku melihat keindahan tubuh Un, anak perempuan usia sekitar kelas 3 SD. Ah..., walau masih seusia itu, tubuhnya nampak lebih besar dari anak seusianya dan dibilang gemuk ya nggak, tapi memang berisi bentuk tubuhnya. Satu hal yang selama ini membuat aku tidak begitu memperhatikan si Un adalah dia mempunyai lipatan di leharnya, yang mana aku memang gak suka.
Tapi semua itu akhirnya teruntuhkan saat kami sedang liburan di NSS bersama keluarga besar, saat aku secara tidak sengaja memperhatikan Un yang baru saja keluar dari sungai dengan tubuh yang basah berdiri menghadap ke arah aku. Esh..., lonte..., nampak tembam sekali bentuk pepeknya. Esh..., dasar lonte cilik..., benar-benar nampak jelas montoknya pepek si Un itu karena saat itu dia memakai celana panjang yang sangat tipis dan sepertinya itu adalah celana untuk tidur. Ah..., dasar lonte..., benar-benar tembam seperti bentuk pepek yang divacum kalau merujuk dari film porno yang pernah aku lihat. Uh..., luar biasa bentuknya.
Apalagi saat Un membelakangi aku, nampak jelas bentuk pantatnya yang super montok seperti menantang untuk dikentot. Dari celana tipis yang dia pakai itu nampak jelas kalau sempak yang dia pakai hanya setengah dari pantatnya. Dan bukan karena sempak itu kekecilan, tapi memang tidak dapat menutupi seluruh pantatnya, mungkin sangking montoknya bentuk pantatnya. Karena kalau memakai ukuran sempak dewasa, pasti kebesaran. Un itu tidak gemuk, tapi pantatnya begitu menonjol dan begitu montok.
Aku pun, tanpa segan secara terang-terangan memandangi dan menelusuri keindahan tubuh si Un. Dan entah sengaja atau tidak, dia sering berdiri tepat di depanku, seperti sengaja menunjukkan pantatnya yang montok itu kepadaku. Esh..., lonte si Un itu..., salut untuk anak seusia dia yang mempunyai bentuk pantat yang semontok itu dengan tetek yang masih baru tumbuh, apalagi pepeknya yang super tembam itu.
Imajinasi birahiku begitu bermain sambil memperhatikan Un. Memperhatikan bentuk pepeknya dan pantatnya yang montok itu. Jujur, aku seperti nembak mani di dalam celana saat baju yang dia pakai itu tersingkap, dan langsung terlihat olehku pinggang hingga setengah dari pantatnya yang montok itu... Esh..., lonte kau Un..., memang sangat luar biasa bentuknya. Seandainya pantat si Un itu aku kocok dengan kontolku..., pasti terkencing-kencing pepeknya aku buat. Dan, esh..., pasti sangat menggigit pepek si Un yang montok itu seandainya aku kocok juga dengan kontolku. Ah..., pasti sangat nikmat seandainya secara bergantian aku kocok pepek dan pantatnya si Un itu dengan kontolku, dengan mengabaikan kalau dia masih duduk di bangku kelas 3 SD. Ah..., lonte kau Un...

Sabtu, 07 Juni 2025

Kia Datang

Tanggal 06-06-2025, jam 22:29 Nilma datang bersama suami beserta Kia dan 2 orang keluarga mereka. Esh..., lonte..., begitu jelas nampak montoknya tubuh si Nilma dengan celana legging yang dia pakai itu. Sementara Kia awalnya nampak begitu acuh padaku, berjalan begitu saja di depanku. Dasar lonte cilik..., saat itu aku hanya bisa tertawa dalam hati karena seacuh apapun Kia padaku, tapi aku sudah puas menjadikan dia sebagai target ngocokku. Puas aku secara langsung ngocok tepat di depan wajahnya. Puas aku memperhatikan setiap detail ekspresi wajahnya saat dia secara langsung memandang ke arah kontolku yang aku kocok hanya beberapa sentimeter dari wajahnya, bahkan aku juga memvideokannya. Ah..., Kia..
Aku akhirnya kembali ngobrol bersama teman-temanku yang memang sudah datang sebelum mereka sampai. Dan tiba-tiba, dari depan pintu rumah mertuaku, Kia memanggil aku dengan nada yang gembira. Ah..., dasar lonte..., bisa jadi saat dia tiba tadi masih dalam keadaan ngantuk dan belum menyadari kalau dia sudah sampai di M. Dan setelah sadar dari kantuknya, Kia teringat aku. Nampak penuh keceriaan Kia keluar dari rumah mertuaku dan langsung menghampiri aku.
Jam menunjukkan pukul 22:36-22:37, saat Kia bermanja dengan memeluk pahaku. Dan itu seperti memicu birahiku, karena tangan Kia seperti sengaja dia gesekkan ke kontolku. Esh..., dasar lonte cilik..., seandainya saat itu teman-temanku gak ada di sana, sudah pasti aku lumat bibirnya itu. Karena begitu menantang sikap Kia dengan menyodorkan wajahnya ke wajahku. Esh..., lonte..., aku hanya bisa memegang kepalanya dengan kedua tanganku. Apalagi sesaat kemudian dia merebahkan kepalanya di sekitar kontolku sambil tangannya lebih menekan kontolku. Esh..., lonte..., begitu terasa Kia menekan tangannya sambil dia gerak-gerakkan di kontolku, dan itu terekam jelas di kamera CCTV-ku. Lonte..., lonte..., dasar lonte kau Kia...
Dan di pagi harinya, begitu puasnya pandangan mataku saat melihat Kia mandi yang kebetulan pintu kamar mandi mertuaku yang menghadap ke dapur rumahku itu terbuka lebar. Benar-benar seperti lonte si Kia itu, dengan tubuh telanjang basah dan rambut yang terurai hingga melebihi bahunya. Esh..., saat itu kontolku langsung berekasi. Tapi sayangnya, di kamar mandi itu ternyata ada Nilma. Ah..., dasar lonte pepek pantat torok... Dan kedatangan mereka itu sangat singkat, karena dari rumah mertuaku, mereka mengantar keluarganya entah ke mana dan langsung pulang ke A S. 
Dasar pepek..., gak ada kesempatanku untuk menjadikan Kia maupun Nilma sebagai target ngocokku. Tapi aku yakin, suatu saat pasti aku jadikan Kia atau Nilma sebagai target ngocokku. Ah..., padahal malamnya Kia begitu agresif dengan tangannya yang sengaja menekan kontolku. Bahkan Kia merebahkan kepalanya di sekitar kontolku sambil tangannya lebih menekan kontolku. Ah..., dasar lonte cilik si Kia itu...

Jumat, 06 Juni 2025

Salut Untuk "Asni"

Tanggal 06-06-2025, jam 10:07-11:11 aku ngobrol bareng Asni. Ah... walau dari segi wajah tidak masuk kategoriku, tapi pantatnya itu lho.... Memang lonte si Asni itu... sangat serasi bentuk pantatnya yang sangat montok itu dengan tubuhnya. Ya jujur saja, pandanganku tak pernah luput untuk menelusuri lekuk tubuhnya, khususnya pantatnya saat dia berjalan di depanku.
Ah... entah kenapa dalam beberapa hari ini aku begitu ingin mengirim WA bisnis rahasiaku pada Asni. Tapi aku belum menemukan kesempatan dan waktu tepat, selain aku juga mempertimbangkan resiko yang ada. Aku agak khawatir kalau si Asni bakal cerita ke orang lain soal isi WA dariku. Walau dia mungkin nggak bakal tahu itu dari aku, masalahnya aku juga udah ngirim WA yang sama ke temennya yang dia kenal juga. Yang membedakan hanya foto profil aja. Kalau temannya itu dengan foto profil saat aku ngocok di depan wajah Kia, sementara Asni dengan foto profil saat kontolku sedang memuncratkan mani. Tapi kalau isi katalognya ya sama, di mana isinya ada foto dan video saat aku ngocok di depan wajah Kia, juga beberapa foto maupun video lainnya. Karena itulah, aku sempat ragu untuk mengirim pesan itu ke Asni. Tapi entah kenapa, keinginan itu justru makin besar. Begitu aku tahu Asni akan datang, tanpa pikir panjang, aku langsung menyiapkan chat yang akan kukirim padanya.
Sekitar 30 menit, chat yang kusiapkan untuk Asni hanya aku biarkan dalam posisi siaga. Begitu kudengar suara Asni datang, tanpa banyak mikir, langsung kukirim pesan itu sambil pura-pura keluar dari ruanganku, tanpa membawa HP. Waktu itu, Asni belum juga ngecek WA yang baru aja aku kirim. Dia masih berdiri dan terkadang berjalan di sekitarku, sibuk ngurusin sesuatu sambil mengajak aku ngobrol. Esh... dasar lonte si Asni itu... aku pun begitu bermanja dengan pandangan mataku yang langsung mengarah ke pantatnya yang montok itu. Imajinasi liarku begitu bermain saat dengan tatapan birahi aku menelusuri setiap detail tubuh Asni, khususnya pantatnya itu. Esh... lonte... suruh berak dulu dia dan kemudian aku kocok pantatnya dengan kontolku hingga dia terkencing-kencing, lalu gantian aku kocok pepeknya yang mungkin masih perawan itu. Ya istilah perawan untuk pepeknya itu karena bisa aja belum ada kontol yang pernah bersarang di pepeknya, tapi untuk jari... bisa aja sudah capek pepeknya itu dia kocok pakai jarinya sendiri.
Hal yang harus aku acungi jempol pada Asni adalah ketenangan sikapnya serta ekspresi wajahnya saat ngobrol denganku sambil membuka HP dan membaca WA yang aku kirim. Jelas sekali gerakan jari telunjuk dan jempolnya itu sedang memperbesar foto profil WA dariku yang berisi gambar kontolku yang sedang memuncratkan mani. Esh... benar-benar lonte si Asni itu... begitu tenangnya dia sambil ngobrol denganku, dia membuka link katalog di WA yang aku kirim dan itu terlihat jelas dari posisi HPnya yang sedikit dia miringkan sambil dia dekatkan seperti lebih memperjelas pandangannya memperhatikan gambar serta video detik-detik kontolku yang sedang aku kocok memuncratkan mani. Dasar lonte kau Asni....
Dan sebenarnya sekitar  2 bulan yang lalu, aku juga pernah menggunakan WA bisnisku itu untuk menelpon dia sebanyak 2 kali dalam jarak waktu hanya beberapa menit saja. Ah... aku ingat kejadiannya itu pada hari sabtu saat dia sedang mencuci motornya. Aku bahkan hanya berjarak beberapa meter saja dari posisi si Asni dan dapat begitu jelas melihat ekspresinya. Panggilan WA yang sengaja aku putuskan sebelum si Asni mengangkatnya membuat dia merasa penasaran yang akhirnya dia membuka HPnya dan melihat foto profilku. Begitu jelas perubahan wajah Asni pada saat itu. Apalagi saat panggilan ke dua yang aku lakukan, begitu jelas si Asni melihat dengan kesal foto profilku sambil berkata, "Ish... apalah ini...." Ah... dasar lonte kau Asni....
Dan itulah yang membuat aku salut pada Asni, karena tampak begitu tenang sikap serta ekspresi wajahnya saat ngobrol denganku sambil dia membuka WA yang aku kirim. Jujur, selama aku ngobrol dengan si Asni, imajinasi birahiku begitu bermain dalam pikiranku. Sangat santai obrolan kami yang saling berhadapan dengan pemisah meja. Dan beberapa kali aku pura-pura berdiri mengambil sesuatu, padahal aku sebenarnya sedang memperhatikan bagian selangkangannya. Ah... entahlah, saat itu sepertinya Asni sengaja berlama-lama ngobrol denganku dan tak nampak sedikit pun dia ingin menyudahi pembicaraan kami. Esh... lonte... beberapa kali aku lihat si Asni membuka kembali WA yang aku kirim sambil tetap ngobrol denganku. Ah... dasar lonte pepek pantatmu Asni....
Sampai akhirnya aku sudahi obrolan kami dengan mengatakan kalau aku mau jalan keluar karena ada keperluan. Ah... Asni.... 

Senin, 12 Mei 2025

Jariku di Pepek "Kia"

Tanggal 12-05-2025, antara jam 11:50-12:30 di pantai G daerah A S, begitu puasnya jariku meraba, menggesek dan bermain di pepek Kia. Sebenarnya kedatangan aku ke A S beserta keluarga adalah sebagai liburan yang tak terencana. Dan aku sampai A S sekitar jam 19:20 pada tanggal 11-05-2025. Nilma yang mengetahui kehadiran kami di sana langsung datang bersama suaminya tapi tanpa membawa Kia. Esh..., dasar lonte memang si Nilma itu..., makin montok aja pantatnya. Apalagi teteknya..., nampak begitu besar karena saat itu Nilma menggunakan daster dan pada bagian depan dasternya itu entah memang seperti itu model bajunya, tapi benar-benar menggambarkan bentuk tetek Nilma yang sebenarnya. Esh..., lonte..., seperti gak memakai BH. Dan nampak seperti pepaya yang menggantung di dadanya. Begitu banyak perubahan tubuh Nilma yang aku lihat saat itu. 
Dan pada tanggal 12-05-2025 akhirnya di pantai G aku ketemu Kia. Esh..., jujur..., dalam hatiku aku begitu menegaskan agar aku jangan gegabah dalam menjadikan Kia sebagai targetku. Berulang kali aku secara sembunyi-sembunyi memperhatikan setiap gerakan Kia. Aku sendiri juga sudah sangat yakin kalau Kia itu sudah ngerti tentang kontol dikocok. Apalagi dulu dia pernah begitu panik sampai menendang pahaku saat dia melihat aku ngocok tepat di hadapannya. Dah saat itu, aku sedang mencari cara untuk setidaknya Kia itu bisa bersama aku, dan pastinya ide berikutnya dengan apa yang akan aku perbuat untuk Kia akan disesuai dengan kondisi aja.
Sampai akhirnya Kia yang sedang bermain di tepi pantai memanggil aku dan ingin ikut bermain di air. Ah..., kesempatan yang memang aku tunggu-tunggu dan aku langsung menghampiri Kia sambil terus menggendongnya. Dengan tangan kiriku, sengaja aku gendong si Kia itu. Nampak begitu senang dia, hingga tertawa dan berteriak kegirangan tepat di depan wajahku. Esh..., dasar lonte kau Kia..., seandainya saat itu tidak ada orang di sekitarku, sudah pasti akan aku cium dan lumat bibirnya. Esh..., apalagi kaki Kia kadang menyentuh kontolku, yang membuat birahiku begitu terbakar. 
Sambil bermain di ombak laut, sengaja tangan kananku aku perlihatkan di permukaan air, agar nampak senatural mungkin. Sementara sambil bercanda dengan Kia, jari tangan kiriku mulai meraba-raba pepeknya. Esh..., lonte..., denyut kontolku benar-benar terasa nikmat. Dan lebih lontenya lagi si Kia itu adalah, sesaat setelah aku meraba serta menggesek-gesekkan jari tengah maupun jari telunjukku di pepeknya, kencing pula dia. Esh..., terasa hangat air di sekitar tanganku. Ah..., dasar lonte kau Kia... Untung saja saat itu aku berada dalam keramaian, kalau nggak...
Dan aku pun sengaja menahan kencingku hingga saat kaki Kia benar-benar nempel di kontolku. Esh..., dasar lonte cilik si Kia itu..., sepertinya dia tahu kalau saat itu aku sedang kencing di air dan dia langsung menarik kakinya menjauh dari kontolku. Tapi akhirnya terpuaskan juga aku dengan 2 kali kencing di sekitar leher dan dada Kia, saat dia tertarik untuk berdiri sendiri sambil memelukku untuk menikmati ombak laut yang menerjang kami. Kalau itu Kia benar-benar tidak dapat menghindari hangatnya kencingku karena gak mungkin dia merenggangkan pelukannya di pahaku.
Sebisanya aku terus saja menggendong Kia, walau sejujurnya terasa pegal tanganku, sambil jari tanganku menempel di pepeknya. Dengan selalu mengajaknya bercanda, jariku tetap bermain di pepeknya. Bahkan semakin jauh hingga tanganku masuk ke dalam celana dan sempaknya sambil mengelus dan memutar jariku itu di bagian itilnya. Ah..., sebenarnya apa yang aku lakukan itu sungguh sangat nekat. Karena benar-benar di tengah keramaian.
Aku bahkan bertahan bersama Kia sementara yang lainnya sudah pada menepi karena aku begitu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk meraba dan menikmati permainan tanganku di pepek Kia. Ah..., Kia yang merasa senang bermain ombak bersamaku sepertinya tidak menyadari kalau jariku itu begitu buas meraba dan menekan-nekan pepeknya. Karena begitu nampak ada ombak yang akan menerpa kami, sengaja aku masukkan tubuh Kia ke dalam air dan jari tanganku juga langsung bermain di pepeknya sampai kemudian gelombang air itu menerpa kami. Begitulah yang aku lakukan selama aku bersama Kia. 
Jujur saat itu aku sepertinya mulai hilang kendali dan berniat untuk melorotkan bagian depan celanaku mengingat saat itu hanya ada aku dan Kia yang berada di air. Tapi ada hal yang membuatku tersadar saat tangan Kia menggaruk pantatnya yang gatal dan aku membantunya juga dengan memasukkan tanganku ke dalam sempaknya, kemudian Kia menggeliat sambil menarik tanganku dari pantatnya sambil mengatakan sesuatu dalam istilah bahasa A S yang aku kurang memahaminya. Hal itu yang menyadarkan aku dan aku pun secara perlahan menarik tanganku keluar dari sempak Kia. Dan untuk menormalkan suasana, aku kembali mengajak Kia bercanda sambil jariku juga bermain di pepeknya dengan cara yang aku lakukan sebelumnya, yaitu sengaja memasukkan tubuhnya saat nampak ada ombak yang akan datang sambil jariku juga langsung berada di pepeknya.
Hingga akhirnya Kia memintaku untuk membawanya naik ke darat. Aku pun menurutinya karena ya memang hanya aku dan Kia saja yang berada di air. Ah..., dasar lonte cilik si Kia itu..., puasnya jariku bermain dan bermanja di pepeknya.

Rabu, 23 April 2025

Bugil Ngocok Di Pintu

Tanggal 23-04-2025, jam 09:11 aku bugil ngocok sampai nembak mani di pintu ruang tamu rumahku saat mertuaku sedang berjalan melewati aku yang hanya berjarak kurang dari 3 m. Ya seperti biasa, kalau aku di rumah dan mertuaku juga sedang berada di rumahnya, aku pasti selalu saja mencari kesempatan untuk bisa menjadikan mertuaku itu sebagai target ngocokku. Sering aku sambil berbugil ria di dalam rumah, menunggu mertuaku keluar dari rumahnya dan kemudian aku ngocok di jendela menikmati keindahan lekuk tubuhnya. Ah..., semakin tua kok semakin mantap bentuk tubuhnya. Pantatnya itu lho yang selalu menggelitik imajinasi birahiku. Waktu itu aku sebenarnya lagi di jendela ruang tamu. Dari sana, aku lihat teman-teman mertuaku datang dengan pakaian rapi. Dalam hati aku berharap mertuaku ikut keluar atau ngobrol bareng mereka di halaman, biar aku bisa ngocok. Tapi ternyata mereka malah ngobrol di dalam rumah.
Beberapa tamu datang dan pergi, sampai aku hampir lengah. Tiba-tiba mertuaku keluar juga, dengan pakaian rapi, mungkin karena ada acara. Cepat-cepat aku berdiri di atas kursi sambil terus ngocok ketika dia perlahan melangkah keluar dari teras rumahnya. Esh..., pepek pantat torok lonte..., tanggung sekali rasanya. Karena, jangankan nembak mani, bugil aja aku gak sempat. Ah..., akhirnya aku pun melanjutkan acara ngocokku tanpa mertuaku, karena dia sudah berlalu dari hadapanku. Santai saja aku membuka celanaku sambil terus melanjutkan ngocokku, lalu pindah ke kamar ****. Tujuanku ngocok di sana adalah berharap agar Novi keluar dari rumahnya dan melalui jendela aku bisa mengarahkan kontolku ke dia.
Baru beberapa saat aku ngocok, dari jendela aku lihat mertuaku berjalan menuju ke rumah. Esh..., pepek..., begitu bersemangatnya aku dan langsung keluar dari kamar, lalu berdiri di kursi menanti mertuaku lewat di hadapanku. Ah..., hentakan tanganku begitu liar mengocoki kontolku, saat dari balik kaca jendela aku menunggu mertuaku. Apalagi saat mertuaku benar-benar melintas di hadapanku, dengan penuh tatapan birahi aku ngocok dan menikmati setiap hentakan kocokan di kontolku.
Jujur, tiba-tiba aku berpikir untuk membuka pintu depan rumahku saat melihat mertuaku itu masuk ke dalam rumahnya. Dan memang aku lakukan dengan membuka sedikit pintu depan rumahku. Tapi..., entah kenapa aku tidak begitu yakin. Hingga mertuaku akhirnya keluar lagi dari rumahnya, aku hanya ngocok dan melihatnya melalui celah pintu depan yang aku buka sedikit. Esh..., pepek pantat lonte torok..., aku begitu merutuk, karena kesempatan untuk membuka pintu depan rumahku lebar-lebar saat mertuaku lewat, telah kusia-siakan begitu saja... Ah..., pepek..., akhirnya aku kembali masuk ke kamar **** untuk melanjutkan ngocokku di sana.
Baru beberapa saat aku ngocok, kembali aku lihat mertuaku berjalan menuju rumah. Esh..., lonte pepek torok..., aku pun segera keluar kamar dan langsung ngocok sambil menanti mertuaku itu melewati aku. Ah..., gejolak birahiku terasa begitu menggebu. Apalagi ketika mertuaku kembali masuk ke rumahnya. Adrenalinku kian terpacu, dan kenekatanku semakin menjadi, hingga aku kembali membuka sedikit pintu rumahku tepat saat mertuaku melangkah masuk. Posisi pintu saat itu terbuka sekitar 10 cm, dan dari tempatku berdiri aku bisa melihat kondisi gerbang rumah Novi. Esh..., suara hentakan tanganku yang begitu liar mengocoki kontolku terdengar sangat jelas, tapi aku gak begitu perduli. Bahwa desahan nafasku juga ikut memanggil nama mertuaku seiring semakin cepatnya tanganku mengocoki kontolku. 
Sampai akhirnya, kocokan itu aku perlambat saat aku melihat mertuaku mulai melangkah keluar dari pintu rumahnya. Perlahan, aku menutup pintu rumahku hingga tersisa celah sekitar 2 cm, di saat aku lihat mertuaku mengunci pintu rumahnya. Adrenalinku seolah meledak dan tubuhku terasa sedikit bergetar saat melihat mertuaku perlahan melangkah keluar dari teras rumahnya. Dari balik pintu yang hanya bercelah 2 cm itu, aku berdiri ngocok menanti saat mertuaku melintas di hadapanku. Esh..., lonte pepek pantat torok..., semua rasa bercampur aduk saat itu. Sedikit kesalahan saja, akan berakibat fatal.
Dan begitu mertuaku mulai jalan, tepatnya saat tubuhnya berada sejajar dengan pintu rumahku, secara perlahan tangan kiriku membuka pintu rumahku, sementara tangan kananku masih tetap dalam posisi mengocoki kontolku. Langsung saja tubuh bugilku itu menghadap ke mertuaku yang sedang berjalan perlahan di hadapanku. Saat itu aku benar-benar berdiri di pintu rumah yang sudah terbuka lebar dalam keadaan telanjang tanpa sehelai benangpun di tubuhku. Tak dapat aku bayangkan seandainya saat itu mertuaku melirik sedikit aja ke kiri..., pasti gak ada alasan yang dapat menguatkan penjelasanku kenapa aku dalam keadaan telanjang di pintu rumahku. Belum lagi seandainya pertanyaan kenapa tanganku dalam posisi mencengkram kontolku yang sangat ereksi itu.
Esh..., lonte pepek pantat torok..., hal itu pula yang menambah dan semakin memicu adrenalinku. Bahkan aku tetap bertahan dalam keadaan bugil ngocok di pintu depan rumahku hingga akhirnya aku nembak mani di saat mertuaku itu sudah berada di ujung halaman rumahku, sekitar gerbang rumah Novi. Esh..., dasar lonte pepek pantat torok..., nikmatnya sensasi kelojotan tubuhku sambil mengiringi langkah mertuaku hingga dia tiba di depan rumah Novi.
Ah..., benar-benar nekat aku saat itu. Masih pagi hari, masih jam 09:11, tapi aku begitu nekat ngocok di depan pintu rumahku dalam keadaan telanjang tanpa sehelai benangpun di tubuhku. Kenekatanku juga bukannya tanpa resiko yang besar. Jangankan menolehkan kepala, melirik sedikit saja mertuaku itu ke kiri, ke arah pintu rumahku, pasti sudah nampak jelas saat itu aku sedang bugil ngocok di sampingnya. Apalagi jarak tubuh bugilku dengan mertuaku itu kurang dari 3 m. Dan pastinya, aktifitas bugil ngocokku di depan pintu rumahku itu terlihat jelas dari gerbang rumah Novi maupun dari balik pagar bangunan di samping rumah Novi. Esh..., lonte pepek torok..., nikmatnya...

Kamis, 20 Maret 2025

Bugil Ngocok Di Samping Mertua

Tanggal 20-03-2025, jam 09:30-09:33 aku bugil ngocok sekitar 7 m di samping mertuaku yang sedang mencuci pakaian di kamar mandi rumahnya. Entahlah, sampai sekarangpun aku gak tahu, kenapa aku begitu terobsesi pada mertuaku itu. Selalu saja aku mencari kesempatan untuk dapat menikmati keindahan tubuhnya. Jujur saja, sebenarnya saat itu aku hampir gak semangat karena berulang kali mertuaku keluar dari rumahnya dan beraktifitas di halaman rumah, sementara **** ada juga di dalam rumah. Aku hanya bisa curi-curi pandang untuk menikmati keindahan tubuh mertuaku sambil berimajinasi doang, tanpa bisa ngocok. Jangankan ngocok, ngelus kontolkupun aku gak bisa. Padahal seandainya saat itu aku sedang sendirian di rumah, pasti aku bisa ngocok di belakang mertuaku.
Hingga akhirnya, saat **** hendak menjemput **, posisiku berada di pintu rumahku untuk menutup pintu dan mertuaku juga hendak masuk ke rumahnya, terdengar olehku suara mertuaku bergumam, "ah..., nyuci aja lah...", yang membuatku sepertinya mempunyai kesempatan untuk ngocok. Walau saat itu aku yakin yang dapat aku lakukan hanya bisa sebatas ngocok di pintu dapur rumahku sambil menghadap ke pintu kamar mandi mertuaku yang mungkin dia tutup, atau curi-curi kesempatan sambil pura-pura jalan dari kamar mandi rumahku dan mencari kesempatan untuk ngocok saat mertuaku tidak melihat ke arah aku, seandainya pintu kamar mandi rumah mertuaku itu terbuka. Karena sudah menjadi kebiasaan mertuaku, kalau dia sedang mencuci pakaian, pasti tubuhnya mengarah ke luar pintu kamar mandinya dan aku tahu dia sengaja melakukan itu karena curiga denganku, atau memang gak mau aku jadikan target ngocokku. Hal itu terbukti dengan seringnya kami beradu pandangan saat aku berada di dapur rumahku, saat dia sedang mencuci pakaian dan tak berapa lama kemudian dia pasti menutup pintu kamar mandinya. Ah..., seperti jinak-jinak merpati.
Dan sesaat setelah aku mendengar ucapan mertuaku itu, aku buru-buru menuju dapur rumahku sambil terus melorotkan bagian depan celana pendekku, ngocok di pintu sambil menghadap ke pintu kamar mandi rumah mertuaku yang memang sedari pagi sudah terbuka. Tapi hanya sesaat karena sejujurnya aku hanya memperhitungkan langkah mertuaku untuk masuk ke dalam kamar mandinya. Esh..., begitu besarnya hasratku untuk menjadikan mertuaku itu sebagai target ngocokku. 
Kemudian aku kembali ke ruang tamu rumahku untuk memastikan keberadaan mertuaku. Berulang kali aku hilir mudik dari ruang tamu rumahku ke kamar mandi untuk memastikan apakah mertuaku itu sudah berada di kamar mandinya. Tapi kemudian aku akhirnya memutuskan untuk merebahkan tubuhku di ruang tamu sambil mempermainkan kontolku. Karena kalaupun aku terlalu sering keluar masuk ke dapur rumahku dan seandainya mertuaku memang sudah berada di kamar mandinya dengan pintu yang terbuka, pasti dia akan curiga. Toh selama ini memang seperti itu, yang membuat akhirnya mertuaku menutup pintu kamar mandinya.
Sengaja aku tunggu beberapa saat, walaupun aku sudah mendengar ada suara aktifitas mencuci yang berasal dari kamar mandi mertuaku. Hingga akhirnya, secara perlahan aku masuk ke dapur rumah sambil melirik ke pintu kamar mandi mertuaku. Esh..., lonte pepek torok..., begitu strategisnya posisi mertuaku itu. Selama ini mertuaku kalau mencuci pakaian, pasti tubuhnya menghadap ke pintu kamar mandi yang otomatis dapat melihat langsung ke pintu dapur rumahku, tapi saat itu posisi tubuhnya menyamping mengarah ke pintu masuk kamar mandinya. Walau dapat aku pastikan dan tidak menutup kemungkinan hanya dengan sedikit melirik ke samping kiri, mertuaku itu pasti dapat melihat keberadaanku, tapi posisi tubuhnya itu begitu menggelitik adrenaliku. Walau aku sadar akan menimbulkan kecurigaan, tapi ya aku memang harus berulang kali keluar masuk dapur rumahku sambil sesekali pura-pura ke kamar mandi rumahku untuk memastikan posisi tubuh mertuaku itu tidak begitu banyak berubah. 
Dan akhirnya, setelah situasi aman, saat aku keluar dari kamar mandi rumahku, sengaja aku melorotkan bagian depan celana pendekku serta membiarkan kontolku keluar dari celanaku. Sambil lebih memastikan keberadaan mertuaku yang sudah beberapa kali aku tandai tidak terlalu banyak perubahan posisi tubuhnya, perlahan tanganku juga mulai mengocoki kontolku. Esh..., begitu terpicunya adrenaliku saat sambil berjalan aku ngocok dan melihat mertuaku itu begitu asik dengan pekerjaan mencucinya yang membuat aku akhirnya memutuskan untuk menghentikan langkahku di pintu dapur rumahku. Sambil tetap mengawasi setiap gerakan tubuh mertuaku yang sedang mencuci pakaian, tangan kananku tak henti-hentinya mengocoki kontolku, sementara tangan kiriku memegang bagian depan celanaku untuk mengantisipasi seandainya mertuaku itu melirik atau menoleh ke arah aku.
Esh..., lonte pepek pantat torok..., begitu terbakarnya birahiku melihat mertuaku yang nampak asik dengan cuciannya. Aku sadar, jangankan menoleh ke arah luar pintu kamar mandinya, seandainya mertuaku itu melirik saja, pasti dia dapat melihat aku dengan sangat jelas sedang ngocok mengarah ke dirinya. Esh..., lonte..., begitu meledak-ledak birahiku.
Melihat mertuaku itu tetap fokus pada pekerjaan mencucinya, kenekatanku semakin menjadi. Yang awalnya aku ngocok masih mengenakan celana pendekku, dengan perlahan aku mulai menurunkan celanaku hingga aku benar-benar bugil, telanjang tanpa sehelai benangpun di tubuhku, berdiri ngocok di pintu dapur rumahku dan langsung menghadap, mengarahkan kontolku yang sedang aku kocok itu ke posisi mertuaku. Ah..., begitu nekat dan penuh resiko.
Bahkan saat aku dalam kondisi telanjang seperti itu dan dengan tangan yang sedang mengocoki kontolku, masih juga aku sempatkan untuk melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 09:30. Padahal resiko saat aku melirik ke arah jam itu juga bukan main-main. Kan bisa saja mertuaku itu juga melihat ke arahku saat aku memalingkan wajahku melihat ke arah jam dinding. Tapi..., itulah sensasi kenikmatannya.
Dalam keadaan bugil aku berdiri di pintu dapur rumahku, sambil memandang ke tubuh mertuaku yang sedang jongkok mencuci pakaian dengan penuh tatapan birahi. Apalagi aku melihat pakaian yang dia kenakan itu tersingkap hingga ke pahanya. Esh..., lonte pepek pantat torok..., inginnya aku secara sadar mertuaku itu meminta aku untuk mengentotinya... Esh..., tatapanku begitu liar penuh birahi melihat ke arah mertuaku dan tanganku juga tak henti-hentinya mengocoki kontolku. Suara hentakan kocokan tanganku di kontolku sepertinya tertutupi dengan aktifitas mertuaku itu. Dan saat itu aku begitu liar ngocok mengarah ke mertuaku dengan jarak sekitar 7 m dengan keadaan bugil tanpa sehelai benangpun di tubuhku. Aku sadar dengan resiko yang ada. Ok..., suara kocokan tanganku yang begitu liar mengocoki kontolku tersamarkan dan tak terdengar oleh mertuaku yang sedang mencuci pakaian. Tapi..., hanya dengan sedikit melirik ke arah luar pintu kamar mandinya saja pasti dia akan dapat dengan jelas melihat aku sedang dalam keadaan bugil ngocok. Apalagi kalau mertuaku itu menoleh..., esh..., begitu nikmat sensasi yang aku rasakan saat itu.
Sampai akhirnya sambil berkelonjotan penuh kenikmatan, aku remas kepala kontolku yang sedang memuncratkan maniku. Begitu beraninya aku bertahan tetap di pintu rumahku, menikmati sensasi kelonjotan kenikmatan puncak birahiku. Ah..., benar-benar sangat beresiko. Dan setelah itu aku kemudian mengenakan kembali celanaku lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan mani yang ada di tangan kiriku. Ah..., nikmatnya...

Selasa, 19 November 2024

Hampir Kepergok Bugil Ngocok

Tanggal 19-11-2024, jam 07:54 aku hampir kepergok ngocok sama mertuaku. Ah..., entahlah..., apakah itu faktor kebetulan atau apa, aku tak tahu. Aku sadar, mertuaku itu kadang memperlihatkan secara jelas sikap kecurigaannya padaku. Itu sangat jelas nampak dari bahasa tubuhnya. Beberapa kali aku sering melihat mertuaku itu menoleh secara tiba-tiba saat aku sedang berada di belakangnya, atau sikapnya yang sepertinya menjaga jarak padaku. Walau kadang dia sepertinya membiarkan aku menyaksikan dan menelusuri keindahan lekuk tubuhnya saat dia berjalan di depanku. Bahkan, terkadang mertuaku itu seperti mempermainkan birahiku saat dia jongkok atau sedikit nungging di depanku yang otomatis menampilkan bentuk pantatnya yang montok itu, dan dia lakukan seperti sengaja berlama-lama mengerjakan sesuatu. Ah..., dengan usianya yang sudah hampir 63 tahun, tapi memang gak bisa aku pungkiri montok dan indahnya bentuk tubuh mertuaku itu. Begitu sangat menggoda dan membuat imajinasiku bermain seiring dengan letupan birahiku.
Dan di pagi hari saat aku hanya sendiri di rumah, saat aku di dapur, aku melihat pintu kamar mandi rumah mertuaku masih dalam kondisi tertutup. Ah..., begitu bermainnya imajinasiku seandainya mertuaku itu mau aku ajak ngentot di rumahnya. Pasti bisa sangat puas aku ngentot dengan mertuaku dari pagi hingga siang hari dengan pintu rumah mertuaku yang terbuka lebar karena pasti orang gak akan curiga. Esh..., lonte pepek torok..., begitu inginnya aku secara sadar mertuaku itu mau aku ajak ngentot denganku. Pasti tumpah lendir pepeknya dan melumuri batang kontolku. Esh..., pasti akan aku buat sampai terkencing-kencing pepeknya itu.
Ya..., aku sadar kok, gak akan mungkin mertuaku itu secara sadar mau aku ajak ngentot dan pastinya gak akan mungkin terjadi, itu semua hanya imajinasiku saja. Toh dengan sikap mertuaku saja yang kadang seperti itu, yang curiga dan terkadang menjaga jarak denganku, membuat aku begitu sangat berhati-hati dalam menjadikan dia sebagai target ngocokku. Bisa aja aku memberikannya obat tidur dan berbuat apa aja saat mertuaku itu terlelap, tapi sensasi dan adrenalinnya pasti gak aku dapatkan. Esh..., lonte pepek pantat torok memang mertuaku itu...
Dan pintu kamar mandi rumah mertuaku yang masih dalam posisi tertutup itu membuatku sepertinya tertantang untuk ngocok di depan pintu dapur rumahku. Esh..., entahlah..., begitu kuat rangsangan dan imajinasi birahiku pada mertuaku itu. Beberapa kali aku berjalan hilir mudik di dapur rumahku dan bahkan kadang aku membuka pintu depan rumahku sambil memastikan keberadaan mertuaku yang pintu depan rumahnya juga dalam kondisi tertutup. Ah..., pepek pantat torok lonte..., terasa semakin menggebu birahiku.
Beberapa kali aku sengaja ngocok di ruang tamu rumahku dengan posisi pintu depan rumah yang terbuka lebar, tapi sensasi yang aku dapat sepertinya kurang. Hal itu yang membuatku akhirnya melangkahkan kaki ke dapur rumahku dan berhenti di pintu dapur sambil melihat ke pintu kamar mandi mertuaku. Esh..., pepek pantat lonte kau mertuaku..., begitu tak tertahankan keinginanku untuk ngocok di depan pintu dapur rumahku. 
Saat itu aku begitu santai melorotkan bagian depan celanaku sambil mengeluarkan kontolku dan memandang ke pintu kamar mandi rumah mertuaku. Begitu santai tangan kananku mulai mengocoki kontolku, sementara tangan kiriku menahan bagian depan celanaku. Esh..., pepek lonte..., begitu aku nikmati setiap hentakan tanganku yang sedang mengocoki kontolku. Esh..., begitu nikmat...
Tapi jujur..., tak begitu besar adrenalin dan sensasi gemuruh di dadaku karena saat itu aku masih mengenakan celana. Dan itu yang membuatku akhirnya menghentikan acara ngocokku sambil melorotkan seluruh celanaku hingga saat itu aku benar-benar dalam kondisi bugil. Esh..., berdiri telanjang tanpa sehelai benangpun di tubuhku sambil menghadap langsung ke arah pintu kamar mandi rumah mertuaku. Ah..., kontolku benar-benar memberontak ingin dikocok.
Saat itu suara aktifitas mertuaku terdengar jelas. Prediksiku saat itu mertuaku itu sedang berada di dapurnya dan terkadang di kamar mandinya. Esh..., lonte pepek torok..., imajinasiku begitu bermain seiring dengan semakin cepatnya kocokan tanganku di kontolku. Suara hentakan tanganku begitu terdengar sangat jelas dan menambah sensasi kenikmatan ngocokku. Pinggulku juga ikutan bergoyang seiring kenikmatan yang aku rasakan saat itu. Ah..., nikmatnya...
Esh..., lonte pepek torok..., nikmatnya dan penuh sensasi, ngocok berdiri dalam keadaan telanjang sambil menghadap ke pintu kamar mandi rumah mertuaku. Walaupun aku tahu kalau mertuaku sedang berada di dalam rumahnya, bahkan sedang beraktifitas di dapur dan di dalam kamar mandi, tapi itu semua aku abaikan. Karena kondisi itu begitu memicu adrenalinku. Sejujurnya sudah beberapa kali aku menahan dorongan maniku agar tidak keluar, sampai akhirnya saat itu aku memutuskan untuk menyudahinya dan bersiap-siap untuk memuncratkan maniku dengan lebih mempercepat kocokan tanganku di kontolku. Suara desahan nafasku yang memanggil nama mertuaku sepertinya tertutupi oleh suara hentakan tanganku yang sedang mengocoki kontolku. Esh..., lonte..., begitu nikmatnya aku merasakan aliran maniku yang mulai naik dari pangkal kontolku hingga ke batang kontolku...
Tapi..., dasar pepek pantat torok..., tiba-tiba mertuaku membuka pintu kamar mandinya dan langsung mengeluarkan kepalanya, seakan ingin memergoki aku yang sedang berdiri bugil ngocok di pintu dapur rumahku. Pepek pantat lonte torok..., hanya sepersekian detik saja aku hampir kepergok ngocok oleh mertuaku. Dasar lonte pepek pantat torok..., aku muncrat mani di saat aku menghindar dan berlalu dari pintu dapur sebelum wajah mertuaku itu benar-benar menghadap ke arah aku. Ah..., pepek mertuaku itu..., berceceran mani jadinya lantai dapur rumahku.
Esh..., pepek pantat lonte..., sesaat setelah aku membersihkan ceceran mani yang berada di lantai dan mengenakan kembali celanaku, kemudian aku pura-pura ke kamar mandi sambil melirik ke pintu kamar mandi rumah mertuaku yang ternyata sudah dia tutup kembali. Pepek dasar pepek..., berarti mertuaku itu sengaja ingin memergoki aku ngocok. Hanya saja saat dia mengeluarkan kepalanya dari pintu yang dia buka setengah itu, dia kurang cepat memalingkan wajahnya ke arah aku. Esh..., dasar pepek pantat torok kau mertuaku. Mungkin saja yang membuat mertuaku melakukan hal itu karena suara hentakan tanganku yang begitu cepat mengocoki kontolku terdengar jelas olehnya. Apalagi saat itu dia beraktifitas di sekitar dapur dan terkadang di dalam kamar mandinya. Aku yakin dia mendengar jelas suara hentakan itu dan teringat pengalamannya yang pernah memergoki aku ngocok di ruang depan rumahnya saat dia berjalan dari dapur menuju ruang TV, kejadian itu tanggal 13-05-2022. Walaupun kejadian itu sudah 3 tahun berlalu, tapi pasti dia ingat. Pasti dia ingat bagaimana dia memalingkan wajahnya saat melihat aku ngocok dan mengurungkan langkahnya untuk meletakkan gelas di ruang TV. Aku begitu yakin mertuaku masih ingat saat dengan suara datar dan suasana yang begitu kaku dia bertanya padaku ,"ada apa, ***", saat dia mengetahui aku kembali masuk ke dapur rumahnya. Ah..., mertuaku...

Minggu, 08 September 2024

Ngocok Di Kamar 729

Tanggal 07-09-2024, jam 11:48-11:51 aku bugil ngocok sampai nembak mani di Hotel N kamar 729. Ah..., aku tidak menyangka akan mendapat kesempatan ngocok di sana karena sebenarnya keberadaan aku di hotel itu bersama beberapa team dalam rangka kegiatan kedinasan. Dan memang sangat mustahil aku bisa ngocok mengingat padatnya acara dan dalam 1 kamar diisi oleh 2 personil. 
Sebenarnya pada malam di saat aku baru tiba di hotel, aku mendapat sebuah kamar x13 sebagai kamar transit dan rekanku belum datang, keinginan aku untuk ngocok begitu menggebu. Tapi karena beberapa personil telah tiba yang juga menempati kamar di sebelahku, membuat aku jadi tak nyaman. 
Hingga akhirnya aku pindah ke kamar 729 setelah rekanku datang dan mengajakku untuk istirahat di sana. Dan jujur, begitu mengebunya keinginanku untuk ngocok tapi begitu aku tahan. Sama sekali pada malam itu aku benar-benar tidak dapat memenuhi hasratku untuk ngocok karena begitu ramainya suara personil dan memang begitu sangat padat aktifitas yang dilaksanakan. Hampir 80 % team yang mengikuti acara tersebut. Selain itu, posisi pintu kamarku memang terbuka karena ada simulasi untuk acara yang akan kami lakukan di hari esoknya yang menggabungkan beberapa team. Bahkan kegiatan simulasi tersebut menurut rekanku hingga dini hari, sementara aku sengaja tidur duluan.
Dan kesempatan yang aku tunggu-tunggu itu akhirnya datang setelah kegiatan kami di pagi hingga menjelang siang hari selesai. Di saat itu, setelah selesai kegiatan, aku melihat rekanku bersama beberapa personil team lain langsung menuju ke lobby hotel untuk ngopi menunggu makan siang. Akupun saat itu ijin tidak ikut gabung dengan alasan ingin mandi. Sambil pura-pura menanyakan kunci kamar kepada rekanku, yang dia jawab kalau kuncinya dia tinggal di kamar karena dia tahu kalau aku membawa kunci kamar juga, membuat aku merasa ada kesempatan buatku untuk ngocok dan mengekspresikan birahiku di kamar. Walau ada juga beberapa personil team yang kembali ke kamar mereka, tapi tidak begitu aku persoalkan.
Sambil berjalan menuju kamarku, begitu berdenyutnya kontolku. Dan begitu aku masuk ke kamar, langsung saja aku buka seluruh pakaianku dan berbugil ria sambil mempermainkan kontolku. Suara riuh personil team yang ada di kamar sekitarku tidak begitu aku perdulikan dan dengan begitu santai aku menghidupkan mode merekam melalui kamera depan HPku dan aku mulai ngocok.
Begitu aku ekspresikan birahiku di depan kamera HPku. Suara hentakan tanganku begitu jelas terdengar dan aku memang gak perduli. Dari jam 11:48 hingga jam 11:51 aku begitu menikmati setiap hentakan tanganku yang mengocoki kontolku hingga akhirnya muncratan maniku begitu liar keluar dari kontolku dan aku begitu menikmati kelonjotan tubuhku di depan kamera HPku. Dengan sempakku aku membersihkan maniku yang berceceran di lantai dan di meja tempat di mana aku meletakkan HPku untuk merekam aktifitas ngocokku. Ah..., nikmatnya...
Dan setelah aku mandi, aku kemudian kembali bergabung dengan rekan-rekanku untuk kemudian kami makan siang dan melanjutkan kegiatan berikutnya hingga malam hari. 

Rabu, 03 Juli 2024

Bugil Ngocok Di Belakang "Aseh" -*-

Tanggal 03-07-2024, jam 11:08-11:11 aku bugil ngocok sampai nembak mani di belakang Aseh yang sedang berada di halaman rumahku, tepat sekitar 4 m di depan pintu rumahku. Sebenarnya aku gak menyangka Aseh dan Rn benar-benar datang ke rumahku. Awalnya saat aku ke warung, aku jumpa sama Rn dan Aseh yang sedang ngobrol di teras rumah Rn. Mereka memanggilku dan nanya padaku apakah aku gak kerja karena pada jam segitu aku masih menggunakan pakaian rumahan aja, dengan bercelana pendek. Ya aku jawab aja klo aku sedang libur. Hingga akhirnya aku sedikit ngobrol bersama mereka dan kemudian aku pamit pulang dengan alasan ada kerjaan yang harus aku lakukan di rumah. Awalnya mereka memaksaku untuk tetap gabung ngobrol, tapi karena aku merasa itu gak terlalu penting, aku tetap beralasan ada kerjaan dan kemudian aku pulang. Dalam benakku, "ngapain pula aku di sana, lebih baik aku berbugil ria di rumahku sambil ngocok". 
Ya sampai di situ aja, dan saat aku sampai di rumah, aku kembali melanjutkan aktifitasku dengan berbugil ria di dalam rumah dengan posisi pintu yang terbuka lebar. Ah..., aku benar-benar memanfaatkan waktuku yang sedang sendirian di rumah. Sesekali aku berdiri ngocok di pintu rumahku walau aku memang belum punya niat untuk nembak mani. Sensasi kopyor-kopyor telor kontolku yang aku ikat begitu menambah kenikmatan ngocokku dan rasa untuk nembak mani yang aku tahan itu menjadi seni dalam ngocokku. Dan lagi enak-enaknya ngocok, tiba-tiba aku mendengar suara motor yang sepertinya akan masuk ke halaman rumahku. Dan akupun dengan terburu-buru mengambil celanaku yang berada di lantai lalu masuk ke kamar ****. Dasar lonte pepek pantat torok..., ternyata Rn dan Aseh yang datang. Ah..., lonte..., mengganggu keasikanku aja mereka itu. 
Singkatnya, mereka gak masuk ke dalam rumahku setelah tahu kalau rumahku sedang kosong. Ya udah, akhirnya aku mengambil kursi yang ada di teras rumah mertuaku dan menggeser sedikit motor mereka agar kursinya bisa aku letak di sekitar depan pintu rumahku. Gak ada yang menarik dan penting dalam obrolan kami, malahan lebih banyak ngerumpinya. Sebenarnya agak kesal juga sih, karena aku harus menghentikan aktifitas ngocokku karena kedatangan mereka.
Tapi ya jujur..., pengaruh telor kontolku yang aku ikat dan terhimpit oleh pahaku membuat denyut nikmat saat aku ngobrol dengan mereka. Apalagi saat aku memandang ke Aseh yang mempunyai tubuh sintal dengan pantat yang montok itu. Walau mereka adalah teman-temanku, tapi yang namanya gejolak birahi ya gak kenal kompromi... Apalagi Rn dulu pernah menjadi pacarku semasa kami masih sekolah dan aku juga punya imajinasi serta keinginan ngentot dengan Rn. Ditambah lagi sesekali Aseh berdiri sambil memperhatikan dan berusaha mengambil jambu yang ada di depan rumahku. Esh..., lonte..., montoknya pantat si Aseh itu... Walaupun secara curi pandang, aku begitu memperhatikan dan mengagumi tubuh si Aseh, khususnya pantatnya, yang membuat geliat kontolku begitu jelas terasa. Ah..., lonte pepek torok..., celana yang dipakai Aseh itu begitu menonjolkan bentuk pantatnya yang membuat aku jadi kepingin ngocok dan keinginan itu rasanya begitu tak tertahankan. Kalau aku bandingkan bentuk tubuh Rn dengan Aseh, ya kalah jauh keindahan tubuh si Rn itu. Pantat si Aseh itu lho..., begitu pas dengan bentuk teteknya yang besar. Aku malah tak begitu mendengarkan obrolan kami karena imajinasiku begitu bermain dalam benakku. Esh..., lonte..., montoknya pantat si Aseh itu...
Tapi saat itu aku merasa gak akan mungkin dan gak akan ada kesempatan untuk ngocok. Dan untuk menenangkan kontolku yang sudah mulai menggeliat seperti mau ereksi, akhirnya aku masuk ke rumah untuk membuat minuman lalu kembali bergabung dengan mereka setelah geliat kontolku mereda. Sebenarnya saat aku membuat teh manis untuk mereka, aku ingin ngocok dan mencampurkan maniku ke minuman mereka. Tapi aku merasa sayang aja, karena gak ada sensasinya... Saat itu aku merasa lebih baik aku ngocok dan mencari target lainnya setelah mereka pulang. Dan akhirnya aku hanya mencampurkan air kencingku ke dalam minuman mereka.
"Eh ***, lu diajak ngobrol kok ngelamun sih...", kata Rn yang membuat aku tersentak dari imajinasiku.
"Tu si **** mikiri kerjaannya ***...", sahut Aseh kepada Rn sambil memperhatikan jambu dan mencoba memetiknya dengan cara melompat.
"Ya udah lu kerjain aja dulu, ***...", kata Rn.
"Lama lho...", jawabku dengan hati yang sedikit berdebar penuh gejolak birahi karena keinginanku untuk ngocok dan berpikir bagaimana caranya aku bisa mengekspresikan birahiku dengan target Aseh maupun Rn. 
"Dah la..., kami tunggu ***, tapi jangan lama, kami abis makan siang mau belanja...", sahut Aseh.
"Ya udah, aku masuk dulu ya..., eh itu ada tangga mau pakai nggak...", kataku pada Aseh dan Rn.
"Kau angkat aja ke mari ***...", sahut Aseh yang sepertinya begitu berambisi untuk memetik jambu.
"Ntar klo ada perlu panggil aja ya...", kataku pada mereka.
"Iya, jangan lama-lama ya ***...", jawab Aseh.
Ah..., Aseh..., seandainya dia mau aku ajak ngentot, akan aku buat dia sampai terkencing-kencing karena kocokan kontolku di pepek dan pantatnya. Aku yakin Aseh itu tipe perempuan yang binal kalau ngentot. Dan jujur..., kalau kami ngumpul dan sedang jalan, aku sering berada di belakang si Aseh. Bahkan aku sering pura-pura jongkok atau sedikit membungkukkan tubuhku saat aku berada di belakang Aseh, yang semata-mata untuk lebih mendekatkan wajahku dan menelusuri keindahan pantatnya.
Kemudian, sesaat setelah aku meletakkan tangga di sekitar pohon jambu, lalu aku masuk ke rumah dan langsung masuk ke kamar ****. Ah..., begitu leluasanya aku memandang Aseh dan Rn dari balik kaca jendela itu walau posisinya sedikit menyamping ke kanan dari posisiku. Kontolku memang gak bisa diajak kompromi. Walau mereka adalah temanku, tapi ya jujur, saat itu aku benar-benar mengabaikannya. Bahkan aku keluar dari kamar **** untuk mengambil bangku yang ada di dekat TV untuk aku bawa masuk dan meletakkannya di dekat jendela. Aku sadar, bisa aja mereka secara iseng masuk dan ingin tahu dengan apa yang aku kerjakan. Dan sebagai antisipasinya, sengaja aku mengeluarkan beberapa alat dari lemari peralatan yang memang ada di kamar **** lalu aku meletakkannya di lantai.
Lalu aku berdiri di atas bangku, dan pandangan mataku begitu buas menelusuri lekuk tubuh Aseh sambil mempermainkan kontolku. Begitu juga dengan Rn yang sedang duduk. Posisi duduk Rn yang menyamping dan Aseh yang kadang menghadap ke jendela kamar membuat aku begitu tertantang. Dan secara perlahan, di atas bangku itu aku membuka baju serta celanaku yang aku lempar begitu saja di lantai.
Aku tahu, resiko yang bisa aja terjadi  dengan kemungkinan mereka masuk ke dalam rumahku mengingat pintu depan yang terbuka lebar dan pintu kamar **** yang juga terbuka. Tapi itu pula yang memicu adrenalinku. Ah..., kontolku sudah benar-benar sangat ereksi dengan urat-urat yang menonjol di sekitar batang kontolku. Dengan tatapan penuh birahi memandang ke tubuh Aseh, tanganku mulai mengocoki kontolku.
Aku tahu, momen ini sangat langka yang membuat aku mengakhiri dulu acara ngocokku dan mengambil HPku. Lalu aku kembali ngocok di atas bangku sesaat setelah aku menghidupkan mode merekam video melalui kamera belakang HPku. Esh..., nekat dan benar-benar nekat. Bayangin aja aku ngocok dalam keadaan bugil dengan posisi pintu rumah dan kamar yang terbuka lebar. Seandainya mereka masuk, kemungkinan aku gak akan sempat mengenakan kembali pakaianku dan keburu diketahui mereka.
Dari jam HP aku dapat melihat awal aku mulai ngocok pada pukul 10:48. Sambil ngocok aku mengarahkan kamera HPku itu ke kontolku dan ke arah mereka. Walau fokusku jadi terbagi, tapi gak mengurangi kenikmatan hentakan tanganku yang sedang mengocoki kontolku. Apalagi begitu aku nikmati keindahan pantat si Aseh. Esh..., dasar pepek pantat torok lonte..., indah sekali bentuk pantat si Aseh itu. Walau usia kami bisa dibilang sama karena kami merupakan teman sekelas, tapi dari sekian banyak teman perempuan sekelasku yang sering gabung, hanya Aseh yang nampak merawat tubuhnya dan begitu menggairahkan.
Setiap hentakan tanganku yang mengocoki kontolku begitu sangat aku nikmati seiring dengan pandangan mataku yang menelusuri keindahan tubuh Aseh. Esh..., lonte..., pantat Aseh itu lho..., besar dan sesuai dengan teteknya yang juga besar. Suara hentakan tanganku juga begitu jelas terdengar seiring dengan cepatnya kocokan di kontolku. Aku gak perduli apakah mereka dengar atau tidak. Walau akhirnya hentakan itu sedikit aku jaga agar tidak terlalu terdengar saat Aseh berdiri tepat di depan jendela. Benar-benar berhadapan denganku yang sedang berdiri bugil ngocok. Detak jantungku begitu terasa karena saat itu aku dan Aseh saling berhadapan dan hanya berbatas kaca jendela. Sempat aku sesaat memperlambat kocokan tanganku di kontolku untuk melihat reaksi Aseh yang sedang bercermin melalui kaca jendela kamar ****. Karena kalau Aseh bisa jeli, maka dia dapat melihat aku yang sedang dalam keadaan bugil ngocok tepat di hadapannya. Dan karena gak nampak ada perubahan mimik wajah Aseh yang sedang bercermin, akhirnya aku melanjutkan kembali kecepatan tanganku yang sedang mengocoki kontolku sambil sesekali mempermainkan kontolku serta menjaga hentakannya agar tidak terlalu jelas terdengar. Begitu terarahnya kamera HPku ke kontolku serta ke wajah Aseh yang sedang bercermin dengan jarak sekitar 30 cm dari kontolku. Dasar lonte..., nikmatnya...
Begitu aku tahan agar aku gak nembak mani saat aku berhadapan dengan si Aseh. Beberapa kali aku melepaskan tanganku dari kontolku atau menghentikan kocokan tanganku agar aku gak nembak mani. Esh..., lonte kau Aseh..., nikmatnya..., sensasi yang luar biasa yang aku rasakan saat itu, ngocok di depan Aseh, teman sekaligus sahabat perempuanku dan aku mendokumentasikannya melalui rekaman video HPku.
Alasanku saat itu untuk menahan agar aku gak nembak mani di depan Aseh, walaupun itu bisa jadi momen hasil rekaman video yang paling sempurna karena jarak kontolku dengan wajah Aseh hanya sekitar 30 cm adalah karena aku merasa adrenalinku terpicu untuk keluar dari kamar dan ngocok langsung di belakang mereka. Hal itu karena, hanya Aseh saja yang nampak sibuk memetik jambu sambil mengajak Rn ngobrol dan jarang duduk, sementara Rn duduk manis sambil menanggapi obrolan Aseh. Jadi niatku saat itu kalaulah tidak dapat ngocok di belakang mereka secara bersamaan, kemungkinannya aku ngocok di belakang Rn yang sedang duduk, dengan menunggu kesempatan Aseh yang sibuk memetik jambu itu sedikit menjauh dari posisi Rn.
Tapi tak berapa lama kemudian Rn menerima telepon dan dia bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri Aseh yang sedang memperhatikan bunga di halaman rumahku. Rupanya Sari yang menelpon dan oleh Rn diloud speakerkan agar bisa juga terdengar oleh Aseh dan mereka ngobrol bareng. Terdengar mereka sepertinya janjian untuk belanja di Mall dan terdengar Sari akan ke rumah Rn setelah makan siang. Esh..., lonte..., bulatnya pantat si Aseh yang sedang jongkok memperhatikan bunga itu... Begitu penuh birahi aku memperhatikan proses bagaimana Aseh yang sedang berdiri itu secara perlahan jongkok. Nampak heboh celoteh Aseh menanggapi obrolan dengan Sari sambil tangannya seperti memegang bunga atau daun di depannya. Jujur, suara bangku yang aku pijak itu sedikit berisik karena gerakan tubuhku yang sedang menikmati sensasi hentakan tanganku di kontolku begitu jelas terdengar dan aku jadi gak nyaman. Lalu aku turun dari bangku dengan tetap melanjutkan acara ngocokku sambil memperhatikan keindahan pantat Aseh yang sedang dalam posisi jongkok. Esh..., dasar lonte..., lekuk tubuh dan montok pantatnya si Aseh begitu terlihat jelas dengan posisi Aseh seperti itu. Esh..., lonte kau Aseh...
Tapi sangat disayangkan, karena tak begitu lama kemudian Aseh bangkit berdiri setelah obrolan dengan Sari  berakhir. Ah..., dasar lonte..., mereka kembali duduk sambil ngobrol yang membuat aku akhirnya juga kembali berdiri ngocok di atas bangku. Saat itu aku sempat merutuk karena anak Rn datang. Tapi kemudian aku merasa ada peluang besar karena kedatangan anak Rn itu rupanya untuk menyusulnya karena ada suatu keperluan.
"Aseh, bentar ya, aku pulang dulu..., ni si ***** minta uang pula...", kata Rn kepada Aseh.
"Dah ini pakai uangku...", kata Aseh sambil bangkit dari duduknya.
"Gak usah, nanti aku sekalian bawa cemilan, kita nunggu Sari di sini aja..., lu telpon dia ya bilang makan siang di rumahku", jawab Rn yang sepertinya membuat ada sedikit harapan dengan apa yang mungkin bisa aku lakukan saat Aseh sedang sendiri.
Beberapa saat aku masih ngocok di atas bangku dan begitu liar imajinasiku memperhatikan Aseh dari posisi samping kananku. Apalagi saat Aseh menelpon Sari dan dia kembali berdiri sambil memperhatikan bunga. Jujur, aku begitu bersemangat dan turun dari bangku. Ah..., begitu besar keinginanku untuk ngocok langsung di belakang Aseh dan menikmati keindahan pantatnya secara langsung tanpa ada penyekat apapun antara aku dan dia. Tapi begitu aku hendak berjalan menuju pintu, terlihat Aseh membalikkan posisi arah tubuhnya dan sambil tetap bertelponan dia sepertinya akan kembali duduk. Ah..., dasar lonte..., terpaksa aku urungkan niatku sambil tetap ngocok memperhatikan si Aseh yang nampak asik ngobrol dengan Sari. 
Dan momen yang luar biasa nekat, penuh resiko yang aku pertaruhkan adalah saat aku lihat posisi Aseh yang sedang duduk itu sepertinya memberi aku kesempatan untuk melancarkan aksiku. Kemudian, sambil tetap ngocok secara perlahan aku mulai berjalan keluar dari kamar ****. Begitu sangat hati-hati aku mengeluarkan sedikit kepalaku untuk mengintip Aseh dan memastikan posisinya. Esh..., lonte si Aseh itu..., gak tertahan rasanya keinginanku untuk mengekspresikan birahiku langsung di belakangnya.
Hingga akhirnya, sambil melihat ke jam HP yang telah menunjukkan pukul 11:08, dalam kondisi tubuh telanjang bulat dan dengan penuh birahi aku keluar dari kamar, lalu aku berdiri ngocok di ruang tamu rumahku, di depan pintu kamar **** dengan jarak sekitar 4 m dari posisi Aseh yang sedang duduk ngobrol dengan Sari melalui HP. Esh..., lonte kau Aseh..., nikmatnya... Penuh birahi aku ngocok dan mengekspresikan birahiku di belakang Aseh. Tangan kananku sibuk mengocoki kontolku, sementara tangan kiriku sibuk dengan HP yang merekam kontolku dan tubuh Aseh yang sedang duduk membelakangi aku. Benar-benar penuh resiko karena aku dalam keadaan bugil tanpa sehelai benangpun di tubuhku, berdiri ngocok di belakang Aseh yang hanya berjarak sekitar 4 m di depanku. Tapi ada suatu keuntungan dengan posisi Aseh yang sedang duduk itu, karena gerakan tubuhnya akan jelas terbaca olehku.
Sempat juga aku menghentikan acara ngocokku karena tiba-tiba Aseh nampak akan bangkit dari tempat duduknya yang membuat aku secara cepat menghindar dan masuk ke dalam kamar ****. Dasar lonte kau Aseh..., lonte pepek pantat torok kau Aseh... Dari jendela kamar dapat aku lihat Aseh yang beranjak dari tempat duduknya itu kemudian berdiri di dekat motornya. Dasar lonte..., jelas sekali nampak bentuk pantat si Aseh yang montok itu saat dia berdiri membungkuk karena tangannya bertopang di jok motor sambil tetap ngobrol melalui HPnya. Lonte kau Aseh..., seperti minta di kentot dari belakang... Esh..., dasar pepek pantat lonte... Adrenalinku begitu terpicu seiring dengan letupan birahiku saat melihat posisi Aseh seperti itu, apalagi melihat kakinya yang terentang layaknya bersiap untuk di kentot dari belakang. Esh..., lonte..., dasar lonte kau Aseh..., begitu terbakarnya birahiku saat itu. Dan tanpa berpikir dua kali, aku langsung keluar dari kamar ****.  
Penuh birahi dengan jarak sekitar 4 m aku bugil ngocok berdiri di belakang Aseh. Di ruang tamu, di depan pintu kamar ****, begitu liarnya imajinasi birahiku sambil memandang ke pantat si Aseh itu. Esh..., dasar lonte si Aseh itu..., celana panjang yang dia pakai begitu menggambarkan bentuk asli pantatnya yang montok itu. Sensasi kenikmatan ngocokku begitu terasa membakar birahiku. Seperti tak memikirkan resiko, aku begitu mengekspresikan gerakan ngocokku di belakang Aseh. Pinggulku juga kadang ikutan maju mundur seiring dengan imajinasiku seandainya dalam posisi Aseh yang seperti itu, kontolku mengocoki pepek dan pantatnya secara bergantian. Uh..., dasar lonte kau Aseh...
Hingga akhirnya aku harus mengalah pada dorongan maniku yang tidak dapat aku tahan untuk keluar dari kontolku. Muncratan maniku itu begitu liar keluar hingga mengenai dada dan perutku. Bahkan ada yang berceceran di lantai... Ah..., nikmatnya..., sambil meremas kepala kontolku dan menahan kelonjotan tubuhku, perlahan aku masuk ke dalam kamar **** dan sambil mematikan mode merekam video aku melihat ke jam HP yang sudah menunjukkan pukul 11:11 . Dari jendela aku melihat Aseh masih pada posisi yang sama dan masih ngobrol melalui HPnya. Esh..., dasar lonte kau Aseh...
Sekitar 3 menit aku benar-benar melakukan hal yang begitu nekat dengan bugil ngocok berdiri di belakang Aseh yang hanya berjarak sekitar 4 m dari posisiku. 3 menit yang penuh resiko dan aku begitu menikmati setiap lekuk tubuh bagian belakang Aseh, khususnya pantatnya yang begitu montok seperti minta dikentot dari belakang. Esh..., kalau memang memungkinkan, gak usah dikentot tapi Aseh membiarkan aku ngocok sambil menikmati keindahan tubuhnya, pasti bisa berkali-kali aku nembak mani di hadapannya. Dasar lonte kau Aseh...
Setelah membersihkan mani yang berada di tangan, dada dan perutku dengan bajuku, kemudian dengan hanya menggunakan celana pendek, aku keluar dari kamar. Karena Aseh masih berdiri di dekat motornya, akupun dengan segera membersihkan maniku yang berceceran di lantai ruang tamuku dan langsung masuk ke kamar mandi. 
Aku kemudian kembali duduk menemani Aseh setelah aku selesai mandi dan mengganti pakaianku. Aseh yang melihat aku dengan pakaian yang berbeda sempat menanyakannya, yang aku jawab kalau aku sedari pagi memang belum mandi dan berkeringat saat mengerjakan pekerjaanku, dan lontenya si Aseh itu, dia hanya mengangguk seperti mengiyakan saja sambil terus mengajakku ngobrol. Lonte..., cuma ngobrol doang, maunya sih si Aseh itu ngajak aku ngentot. Esh..., di samping Aseh kontolku kembali berdenyut nikmat. Esh..., lonte kau Aseh..., sensasi yang luar biasa yang aku rasakan dan itu terdokumentasi melalui kamera video HPku.
Beberapa saat kemudian Rn datang sambil membawa cemilan. Dan di sela-sela obrolan kami, Aseh meraih gelas minumannya yang telah bercampur dengan air kencingku dan tak berapa lama kemudian Rn juga meminumnya. Ah..., lonte pepek torok..., puas rasanya melihat mereka secara langsung meneguk minuman yang telah bercampur dengan air kencingku itu.
"Eh..., klo cemilan seperti ini enaknya pakai capucino ni..., gak cocok dengan teh manis...", kataku sedikit memancing mereka.
"Mau buat kami sakit gula ya...", jawab Aseh secara asal dengan nada bergurau.
"Tapi gak papa la, kalau ada..., ya kan ***...", sambung Aseh yang di jawab Rn dengan tawa dan anggukan kepala.
"Ya udah, habiskan dulu tehnya...", kataku lagi.
"Tu lihat Aseh..., bener mau buat kita sakit gula si **** tu...", kata Rn pada Aseh sambil tertawa. 
Mendengar ucapan Rn, aku dan Aseh juga tertawa dan tawaku semakin berlanjut di dalam hati saat aku melihat mereka benar-benar menghabiskan seluruh minuman yang telah bercampur dengan air kencingku. Dan jujur, dengan degup jantung yang sepertinya sedikit menggedor dadaku, kemudian aku meraih gelas mereka untuk aku bawa masuk ke dalam rumah.
"Gitu dong..., kan gak banyak gelas yang harus dicuci...", kataku dengan nada bercanda sambil meraih gelas mereka dan kemudian masuk ke dalam rumahku.
Esh..., benar-benar triple untuk Aseh dan double untuk Rn..., sambil membawa gelas mereka begitu riangnya hatiku. Dan setibanya aku di dapur, aku segera mengeluarkan kontolku dan langsung mengelus-elusnya agar ereksi. Esh..., lonte kau Aseh..., pantatmu itu lho... Dan untuk membuat dokumentasinya lagi, sesaat setelah air yang aku masak itu sudah mendidih dan kompor sudah aku matikan, aku kembali menghidupkan mode merekam video melalui kamera belakang HPku sambil berkata dengan nada yang perlahan kalau saat itu aku akan ngocok dan ingin nembak mani di gelas minuman Aseh dan Rn.
Sambil melihat ke jam HP yang menunjukkan pukul 11:59, aku mulai ngocok karena kontolku juga sudah ereksi secara sempurna. Esh..., sambil ngocok aku begitu berimajinasi pada tubuh Aseh seiring dengan hentakan tanganku yang semakin cepat mengocoki kontolku. Ah..., tangan kananku sibuk mengocoki kontolku, sementara tangan kiriku sibuk dengan HP yang sedang merekam video mengarah ke kontolku yang sedang aku kocok dan ke gelas mereka yang sedari awal sudah aku posisikan menidur agar saat aku nembak mani, aku bisa langsung mengarahkan kontolku itu masuk ke dalam gelas dan nembak mani di dalamnya. Dan saat aku hendak nembak mani, dengan segera aku sedikit menurunkan posisi tubuhku dan mengarahkan kontolku ke dalam gelas mereka. Esh..., nikmatnya..., begitu aku atur muncratan maniku itu agar secara bergantian muncat ke dalam gelas Aseh dan Rn. Esh..., lonte..., nikmatnya...
Sengaja aku tidak mematikan mode merekam video di HPku, sambil melihat ke jam HP aku berkata dengan suara perlahan bahwa waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 12:01. Ah..., ternyata gak sia-sia kedatangan Aseh dan Rn itu ke rumahku. Walau sedikit kesulitan saat membuka bungkus capucino dan menuang susu karena tangan kiriku memegang HP yang masih dalam posisi merekam, akhirnya capucino itu selesai aku buat. Setiap detail proses pembuatannya terekam jelas di HPku. Terekam jelas bagaimana kental dan lumayan banyak maniku yang berada di dalam gelas Aseh dan Rn itu secara perlahan aku aduk bersama dengan capucino yang aku buat. Akupun sengaja mengaduknya dengan chopstick metal dan memastikan agar benar-benar terlarut dengan capucino yang aku buat. Dan secara perlahan aku memasukkan HPku yang masih juga dalam posisi merekam ke dalam saku bajuku. Semua itu aku lakukan agar dokumentasinya benar-benar sempurna. Yaitu dari awal aku ngocok sampai aku nembak mani di dalam gelas Aseh dan Rn, kemudian proses saat aku menyajikannya ke mereka. Dan harapanku kalau beruntung, aku bisa merekam tanpa terjeda dalam satu rekaman video proses bagaimana mereka meneguk minuman capucino yang telah bercampur dengan maniku itu. Lagian gak akan mungkin curiga mereka melihat HPku berada di saku baju dengan posisi kamera mengarah ke depan karena itu hal yang wajar. Kan memang menjadi kebiasaan kalau layar HP posisinya ke arah tubuh.
"Langsung diminum *** dan Aseh..., sengaja dibuat hangat itu...", kataku sesaat setelah menyajikan capucino itu di hadapan mereka.
"Iya ***..., eh..., kental ya buatnya, pakai susu kah...", kata Rn sambil meraih gelasnya dan langsung meminumnya.
"Eh..., itu gelas aku atau punya kau ***...", kata Aseh sambil mengambil gelasnya juga dan ikut meneguk capucino yang telah aku campurkan dengan maniku.
"Halah..., sama aja lah...", jawab Rn yang membuat aku dan Aseh tertawa.
Apalagi aku..., tawaku berlanjut di dalam hatiku. Tawa penuh kepuasan menyaksikan mereka meminum maniku yang sengaja aku campur ke dalam capucino mereka.
"Pandai kau buat capucino ya..., kentalnya dan buihnya nampak...", kata Aseh lagi.
"Hadeh..., ini capucino bungkusan beli di warung la..., mujinya gak sopan...", jawabku dengan bercanda yang membuat Rn dan Aseh tertawa.
Singkatnya setelah Rn dan Aseh meneguk capucino mereka untuk yang pertama kali, dengan secara natural aku mengeluarkan HPku dari saku bajuku. Dan saat mengeluarkannya, jempolku menekan tombol volume bagian bawah untuk mematikan mode merekam video HPku. Ah..., jujur..., obrolan kami yang sebelumnya membuat aku sedikit kesal menjadi sangat menyenangkan. Karena begitu aku nikmati setiap gerakan tangan mereka meraih gelas dan meneguk capucino yang telah bercampur dengan maniku. Ah..., begitu puasnya aku. Apalagi saat Aseh beranjak ke motornya dan mengambil air mineral yang dia bawa untuk dia isi ke dalam gelas yang sudah habis capucinonya. Dia gerakkan seperti mengguncang-guncang gelas agar air yang ada di dalam gelas itu berputar yang membuat seluruh sisa capucino itu akhirnya terlarut.
"Ngapain Aseh..., ada-ada aja ni...", kataku saat melihat Aseh melakukan hal itu.
"Ni ***, biar kau gak susah nyuci gelasnya..., dah hampir bersihkan...", kata Aseh dengan nada bercanda yang membuat aku dan Rn tertawa.
"Eh..., ntar Aseh..., kita buat videonya ni..., buat bukti klo lu baik hati gak nyusahin aku...", kataku secara spontan dan sedikit memancing dengan nada bercanda, saat aku melihat sepertinya Aseh ingin meminumnya.
"Ooo, iya boleh..., ***..., kau gak ikutan juga...", kata Aseh di sela-sela tawa kami karena mendengar gurauanku dan ternyata Rn mau juga melakukannya.
"Ni gelasku tadi isinya capucino, enak buatan si ****..., dah habis tanpa sisa..., tu lihat **** juga habis minumannya sampai nambah pakai air mineral buatan cabang perusahaanku lho..., jadi gak repot si **** nyuci gelasnya..., kurang baik apa kami hayo...", kata Aseh dengan nada bercanda sambil menunjuk ke arah Rn yang sedang menuangkan air mineral dan menghabiskan air yang ada di dalam gelasnya, saat aku merekamnya melalui HPku, begitu juga dengan si Aseh yang menegak habis air yang ada di dalam gelasnya. 
Memang penuh canda obrolan kami hingga saat perekaman videopun dibarengi canda dan tawa. Ah..., benar-benar gak sia-sia kedatangan mereka. Terdokumentasi dengan begitu akurat, sesuai dengan harapanku. Dan aku yakin seluruh maniku itu sudah mereka minum dengan bukti gelas mereka yang sudah benar-benar bersih. Ah... Rn dan Aseh...
Dan mereka akhirnya kembali ke rumah Rn sesaat setelah Sari datang. Sempat juga mereka memaksaku untuk makan siang bersama di rumah Rn yang aku tolak karena aku beralasan kalau sedang libur jarang lapar dan memang aku sedang tidak lapar.
Wah..., benar-benar triple untuk Aseh karena sudah minum air kencingku, menjadi target ngocokku dan meminum maniku. Begitu juga double untuk Rn karena sudah meminum air kencing dan maniku. Thanks Aseh dan Rn. 




Selasa, 02 Juli 2024

Hari Spesial Buat "Diba" -*-

Pagi hari tanggal 02-07-2024, jam 09:15-09:22 aku bugil ngocok di depan Diba, anak perempuan yang berusia sekitar 4 tahun, yang sedang kencing di halaman rumahku, sekitar 3 m di depan pintu rumahku. Semua itu berawal saat aku sedang bugil di dalam rumahku dengan pintu depan yang sengaja aku buka lebar, menikmati sensasi kopyor-kopyor telor kontolku yang aku ikat beradu dengan selangkanganku. Dan saat aku mendengar suara Novi sedang ngobrol dengan seseorang, kemudian aku masuk ke kamar **** sambil melihat ke jendela untuk mengetahui dengan siapa Novi itu sedang mengobrol. Ah..., lonte..., aku lihat Novi sedang berdiri di depan pintu gerbang rumahnya sambil ngobrol dengan Ica yang saat itu ditemani oleh keponakannya, Diba, yang terlihat bermain di ujung halaman depan rumahku, tepat di samping gerbang rumah Novi. Jujur, saat itu aku begitu berimajinasi seandainya Novi dan Ica maupun Diba berada di halaman rumahku, yang membuat aku akhirnya keluar dari kamar **** dan melanjutkan imajinasiku itu dengan berdiri ngocok sekitar 30 cm sebelum pintu depan rumahku. Dan tiba-tiba muncul ideku untuk merekam aktifitas ngocokku karena suara tawa Ica dan Novi begitu jelas terdengar dan aku berharap suara mereka itu dapat terekam dan menjadi suara latar saat aku bugil ngocok di pintu rumahku. 
Dan untuk lebih memastikan posisi mereka, kemudian aku memakai celana pendekku, lalu aku pura-pura keluar rumah, berjalan langsung menuju teras rumah mertuaku sambil melirik ke arah mereka karena saat itu kontolku benar-benar menyodok bagian depan celana pendekku. Mungkin karena Ica dan Novi sedang asik ngobrol, sehingga mereka tidak menoleh ke aku. Sementara Diba yang sedang bermain di ujung halamanku nampak memperhatikan aku. Bahkan Diba sepertinya memperhatikan bagian depan celanaku saat aku kembali masuk ke dalam rumahku.
Setelah aku masuk ke dalam rumahku, lalu aku meraih HPku dan melalui kamera depan aku mencari posisi yang tepat agar dapat merekam dengan jelas saat aku bugil ngocok di depan pintu, sekaligus dapat merekam bagian halaman depan rumahku. Sesaat setelah aku lihat letak sudut perekamannya sudah sesuai, kemudian pada jam 09:01, aku mulai merekam dan membuka celana pendekku yang begitu saja aku campakkan ke dalam kamar ****, lalu aku kembali berdiri sekitar 30 cm sebelum pintu depan rumahku.
Ah..., suara obrolan disertai tawa si Ica dan Novi begitu menambah imajinasiku. Kontolku yang sudah begitu ereksi dengan urat-urat yang menonjol di sekitar batang kontolku perlahan mulai aku kocok sambil membayangkan seandainya mereka berdua mau aku ajak ngentot secara bergilir. Esh..., aku juga teringat bagaimana nekatnya aku ngocok di belakang Novi pada sore kemarin. Lonte..., begitu nikmatnya setiap hentakan tanganku yang sedang mengocoki kontolku. Suara kopyor-kopyor telor kontolku yang beradu dengan selangkangan dan tanganku terdengar begitu seirama. Esh..., lonte..., aku benar-benar gak perduli apakah Ica dan Novi mendengar suara hentakan tanganku itu atau tidak.
Aku tahu, bisa saja Novi dan Ica itu tiba-tiba masuk ke halaman rumahku dan memergoki aku yang sedang bugil berdiri ngocok di pintu rumahku, mengingat kemarin sore Novi memetik sayuran di halaman belakang rumah mertuaku yang gak menutup kemungkinan dia akan mengajak Ica untuk kembali memetiknya. Esh..., tapi hal itulah yang membuat adrenalinku begitu terpicu, ditambah lagi keberadaan Diba di sekitar halaman rumahku. Esh..., lonte...
Sambil ngocok, begitu bermainnya imajinasiku pada Novi, Ica dan Diba. Begitu nikmat sensasi bugil ngocokku di depan pintu saat itu. Terkadang aku sampai memejamkan mataku menikmati setiap hentakan tanganku yang sedang mengocoki kontolku. Esh..., begitu nikmatnya..., bugil ngocok hanya sekitar 30 cm di depan pintu rumahku yang terbuka lebar, sementara Novi dan Ica sedang ngerumpi dengan jarak hanya beberapa meter dari tempatku bugil berdiri ngocok.
Ah..., pepek pantat torok lonte..., aku merasa sensasinya kurang kalau aku hanya bugil berdiri ngocok di pintu rumahku saja, sementara posisi mereka masih berada di depan gerbang rumah Novi. Dan akhirnya aku menyudahi dulu acara ngocokku, lalu aku masuk ke kamar **** sambil dengan perlahan aku membuka jendela agar aku dapat secara langsung mengarahkan kontolku yang nantinya akan aku kocok ke arah mereka melalui celah jendela yang aku buka. Esh..., lonte..., binal gak ya kalau seandainya Ica dan Novi itu aku ajak ngentot...
Tapi baru saja aku selesai membuka jendela kamar, aku lihat Diba secara perlahan berjalan masuk ke halaman rumahku. Esh..., pepek lonte..., terasa begitu meledak birahiku. Nampak Diba berjalan sambil sesekali memalingkan wajahnya ke arah Ica dan Novi. Dan kemudian dia berhenti sekitar 3 m di depan pintu rumahku. Ah..., jujur..., sebenarnya aku mau saja untuk langsung keluar dari kamar **** dan menyambut kehadiran Diba itu. Tapi aku juga gak mau gegabah dan secara perlahan menutup kembali jendela kamar.
Di saat aku menutup jendala itulah aku melihat Diba sepertinya hendak membuka celananya. Ah..., desiran birahiku begitu terasa yang membuat aku akhirnya keluar dari kamar sambil melirik ke arah jam dinding yang telah menunjukkan pukul 09:15. Esh..., dasar lonte si Diba itu..., sambil melihat ke arah Ica dan Novi, tangannya perlahan membuka celana pendeknya. Saat itu dia belum melihat aku yang sudah berdiri di depan pintu kamar ****, padahal posisinya tepat menghadap ke pintu rumahku.
Dasar lonte..., montoknya pepek mungil si Diba itu..., sangat sesuai dengan tubuh montoknya yang masih berusia sekitar 4 tahun. Sambil memperhatikan Diba, tanganku juga secara perlahan mulai mengocoki kontolku. Esh..., sambil tetap melihat ke arah Ica dan Novi, perlahan Diba mulai jongkok dan kencing. Dan akupun seperti dimanja dengan pemandangan indah pepek Diba yang sedang menyemburkan air kencingnya. Rekahan pepek si Diba itu lho..., dasar lonte kau Diba..., membuat tanganku semakin cepat mengocoki kontolku.
Suara kopyor-kopyor kontolku yang beradu dengan selangkanganku terdengar begitu jelas. Dan di saat Diba masih dalam posisi kencing yang awalnya memandang ke arah Ica dan Novi, lalu memandang ke pintu rumahku, nampak dia begitu terkejut dengan kehadiranku yang sedang berdiri dalam kondisi telanjang. Terlihat jelas raut wajah terkejut Diba saat melihat aku hingga terhenti sesaat semburan kencingnya. Akupun yang saat itu dalam posisi ngocok sekitar 3 m di depannya langsung tersenyum sambil mendekatkan posisi tubuhku sekitar 30 cm sebelum pintu rumahku. Ah..., lonte..., aku jadi teringat saat aku ngocok di depan Dea yang sedang kencing di halaman samping rumah mertuaku pada 19-10-2011 silam. 
Dan mungkin karena aku tersenyum, membuat raut wajah terkejut si Diba perlahan mulai mereda dan dia melanjutkan kencingnya hingga selesai dengan pandangan matanya yang begitu tertuju pada kontolku yang sedang aku kocok. Seperti nampak tertegun, tapi si Diba memang memperhatikan dengan seksama bagaimana aku ngocok di depannya. Walaupun dia sudah selesai kencing, tapi Diba masih dalam posisi jongkok, yang membuat pandangan mataku begitu penuh birahi menelusuri rekahan pepeknya.
Di depan Diba aku juga mempermainkan kontolku dan membiarkan Diba memperhatikan bagaimana tubuh bugilku itu kadang aku arahkan ke samping sambil menunjukkan bagaimana tanganku mengocoki kontolku secara perlahan hingga kocokan yang begitu cepat menghentak kontolku. Esh..., suara kopyor-kopyor kontolku seirama dengan desah nafasku yang sedikit aku tahan. Lonte..., nikmatnya...
Begitu antusiasnya Diba memperhatikan aku yang sedang bugil ngocok di depannya. Pandangan matanya begitu terarah pada kontolku. Beberapa kali juga dia kadang memandang ke wajahku dan kemudian dia kembali memperhatikan tanganku yang sedang mengocoki kontolku. Akupun selalu tersenyum saat pandangan mata kami saling beradu. Dan kemudian, dengan masih tetap memandang ke kontolku, perlahan Diba bangkit berdiri dengan membiarkan celananya masih berada di sekitar lututnya. Esh..., lonte..., seperti sengaja mempertontonkan keindahan pepeknya di depan aku. Ah..., hampir sama kejadiannya dengan Dea. Bedanya Dea waktu itu sempat mengenakan kembali celananya sesaat setelah kencing dan kemudian dia melorotkan celananya lagi seperti mempertontonkan pepeknya sambil memandang ke arah aku yang sedang ngocok di depannya.
Ah..., belahan pepek Diba itu lho..., dasar lonte kau Diba..., membuat tanganku semakin cepat mengocoki kontolku. Dan secara iseng tangan kiriku memberi isyarat agar Diba lebih mendekat ke posisiku. Ah..., dasar lonte..., sambil perlahan mengenakan kembali celananya, dengan sedikit ragu Diba akhirnya berjalan mendekat ke posisiku, dan  berhenti sekitar 1 m di depanku.
Dalam kondisi bugil aku begitu mengekspresikan birahku di depan Diba yang begitu antusias menyaksikan aku ngocok. Hanya sekitar 1 m jarak tubuh bugilku dengan Diba yang begitu seksama memperhatikan aku yang sedang ngocok. 
"Apain om...", tanya Diba dengan mata yang tertuju pada kontolku yang sedang aku kocok.
"Om lagi senam...", jawabku asal saja dengan suara yang sedikit tertahan karena desah nafas yang memburu sambil lebih mempercepat kocokan tanganku di kontolku.
Esh..., suara kopyor-kopyor telor kontolku yang beradu dengan selangkangan serta tanganku begitu jelas terdengar seiring dengan semakin cepatnya kocokan tanganku di kontolku dan desahan kenikmatan yang aku rasakan. Dan Diba hanya berdiri sambil terus memperhatikan aku.
Hingga akhirnya aku gak bisa menahan dorongan maniku untuk muncrat keluar dari kontolku. Esh..., dengan sedikit terkejut Diba menyaksikan langsung bagaimana maniku itu secara liar muncrat keluar dari kontolku dan berceceran di lantai hingga ada yang sampai keluar ke depan pintu rumahku. Lonte..., nikmatnya..., begitu aku pertontonkan pada Diba bagaimana tubuhku itu berkelonjotan penuh kenikmatan. Dari ujung kaki hingga ujung kepalaku Diba memperhatikan aku yang sedang berkelonjotan dan kemudian matanya tertuju pada batang kontolku yang sedang aku peras agar tidak ada maniku yang tersisa di kontolku. Dan setelah aku selesai menikmati puncak birahiku, santai saja aku meninggalkan Diba yang masih berdiri, kemudian sambil melirik ke jam dinding yang telah menunjukkan pukul 09:22, aku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan mani yang ada di tanganku. Ah..., dasar lonte si Diba itu.  
Dan setelah aku selesai membersihkan maniku, kemudian aku keluar dari kamar mandi masih tetap dalam keadaan telanjang. Saat aku kembali masuk ke ruang tamu rumahku, ternyata Diba sudah berlalu dari depan pintu rumahku dan dia sedang memetik bunga yang ada di depan teras rumah mertuaku. Akupun dengan santai mengenakan kembali celanaku sambil meraih HPku untuk mematikan mode merekamnya. Kemudian aku keluar rumah untuk mengambil kain lap yang berada di jok motorku. Dan Diba yang mengetahui keberadaanku, dia langsung memandang ke aku. Akupun langsung tersenyum agar dia merasa nyaman.
Disaksikan Diba yang sedang berdiri di depan teras rumah mertuaku, santai saja aku membersihkan maniku yang berceceran di bagian luar pintu rumahku. Dan saat aku masuk ke dalam rumah untuk membersihkan maniku di lantai, Diba berpindah posisi menjadi berdiri sekitar 2 m di depan pintu rumahku, sambil memperhatikan apa yang sedang aku lakukan. 
"Diba..., ngapain di situ..., yuk pulang...", terdengar suara Ica memanggil Diba.
Ah lonte..., padahal rencananya setelah aku selesai membersihkan maniku di lantai, aku ingin membuka celanaku kembali di depan Diba. Dasar pepek lonte..., Diba yang mendengar panggilan dari Ica perlahan beranjak dari hadapanku. Dan aku juga sengaja tidak menampakkan diriku ke Ica agar dalam benak Ica kalau si Diba hanya sedang bermain dan kebetulan sedang berdiri di sekitar depan pintu rumahku saja. Ah..., benar-benar puas aku. Thanks ya Diba...
Dan di malam harinya aku berada di rumah mertuaku, sambil mengulang kembali hasil rekaman video ngocokku di depan Diba. Kemudian aku berdiri ngocok di kasur mertuaku sampai aku nembak mani dan membiarkan maniku itu berceceran di kasur mertuaku. Ah...