Minggu, 26 Agustus 2018

Bugil Ngocok Di Depan "Weni" -*-

Hari minggu pagi ini aku berada di sekitaran L D. Aku mengambil barang pesananku dari temanku. Rencananya mau santai di rumah temanku, itu sebabnya aku hanya memakai celana pendek serta t-shirt biasa, tapi rupanya dia ada kegiatan lain. Akhirnya aku permisi pulang dan di jalan aku teringat kalau rumah pamanku yang sudah RIP ada di daerah sini juga. 
Kemudian aku mengarahkan motorku ke rumah pamanku itu. Dan sampai di rumah pamanku, aku dapati bibi dan sepupuku sepertinya sudah bersiap-siap hendak keluar rumah. Ya sudahlah, begitu aku disuruh masuk dan duduk, tak berapa lama kemudian aku pamit pulang dengan alasan karena mereka hendak pergi dan aku sedikit pusing.
Tanpa disangka, bibiku menawarkan kepadaku untuk istirahat dulu di rumah mereka sambil mengatakan kalau di rumah ada Weni dan kalau aku sudah pulih serta ingin pulang, aku di suruh meletakkan kunci di suatu tempat sambil bibiku menunjukkan tempat tersebut. 
Aku kemudian bertanya kenapa Weni dikunci di dalam rumah dan bibiku menjawab kalau Weni masih seperti yang dulu, belum pulih gangguan psikologisnya. Bibiku pun menambahi kalau nanti Weni keluar dari kamarnya—apakah dia mau menonton TV atau lainnya—tanpa menyapa aku, agar aku memakluminya. 
"Sudah beberapa tahun ini Weni jarang ngomong, tapi kalau ada lagu yang dia suka, kadang dia mau ikutan menyanyi," kata bibiku. 
Dan entah kenapa akhirnya aku ada ide, yang membuat aku mengatakan untuk ijin istirahat di rumah mereka. 
Ah... banyak sekali anak-anak perempuan yang lewat dan bermain di jalan depan rumah pamanku ini. Dan setelah bibiku pergi, sengaja aku duduk di kursi tamu yang mengarah ke jalan. Perlahan dan dengan sangat santai aku keluarkan kontolku. Sambil membuat ereksi kontolku, aku memandangi anak-anak perempuan itu bermain di jalan. Santai aku duduk ngocok, mempermainkan kontolku dan mengarahkan kontolku ke arah anak-anak perempuan itu.  Malahan, ada 3 anak perempuan yang usianya sekitar 3 tahunan, tiba-tiba berhenti bermain dan langsung ketiganya mengarahkan pandangannya ke aku yang sedang ngocok.
Ah... sepertinya mereka sangat tertarik melihat tanganku yang sedang mengocoki kontolku. Begitu nampak antusias pandangan mereka sampai akhirnya mereka bertiga perlahan mendekati pintu yang sengaja aku buka lebar. Walau sedikit berdebar, tapi tetap aku lanjutkan kocokan tanganku di kontolku, sementara ketiga anak perempuan usia 3 tahunan itu sudah benar-benar berdiri di depan pintu dengan pandangan yang mengarah ke kontolku yang sedang aku kocok. Penuh rasa keingintahuan aku lihat pandangan ketiga anak perempuan itu memandangi tanganku yang turun naik mengocoki kontolku.
Tapi tak berapa lama kemudian, aku dengar suara pintu kamar dibuka dan dengan segera aku masukkan kontolku ke dalam celana pendek yang aku pakai. 
Seperti merasa tidak ada orang, Weni berjalan melewati aku yang masih dalam kondisi duduk dan dia langsung menutup pintu depan, tanpa mengatakan apa-apa pada 3 anak perempuan yang saat itu masih berdiri di depan pintu.
Aku langsung memaklumi kondisi Weni yang seperti itu. Benar kata bibiku, kalau Weni tidak ada kemajuan pada gangguan psikologisnya, dan itu juga pernah aku lihat beberapa tahun yang lalu. 
Tapi aku tetap menyapanya saat dia melewati aku lagi.
"Weni... ingat aku, nggak..." kataku pada Weni dan tidak ada ekspresi apa pun yang nampak dari wajahnya. 
Lalu aku lihat Weni menyalakan TV dan kemudian dia duduk di kursi ruang TV. Kalau dilihat sepintas,  sepertinya Weni tak nampak ada gangguan psikologisnya, karena dia bisa menghidupkan TV dan mencari serta memindahkan chanel program TV. Aku bangkit dari kursi dan mendekati Weni di ruang TV. 
Sengaja aku tarik dan menempatkan kursi ruang TV sedikit di depan Weni. Aku duduk dan memandang ke Weni yang sekarang lebih putih kulitnya dari waktu beberapa tahun yang lalu. Tampak cuek Weni tetap mengarahkan pandangannya ke TV. 
Sebenarnya wajah Weni dapat aku katakan cantik. Dulu aku juga sangat akrab dengannya. Sampai beberapa tahun yang lalu, tiba-tiba terjadi gangguan psikologis pada Weni dan dia terlalu banyak diam serta tidak mau keluar dari rumahnya. 
Jujur saja, dulu sempat juga Weni itu aku jadikan imajinasi ngocokku. Sebatas imajinasi saja, bukan langsung ngocok di depan atau pun di belakangnya. 
Dan sekarang... tiba-tiba kenekatanku terpicu dengan kondisi rumah yang hanya tinggal kami berdua saja.
"Kok sombong ya, Weni...?" kataku pada Weni. 
Kali ini Weni tampak melirik ke aku yang duduk sedikit di depannya, tapi tetap tanpa ada satu ekspresi apa pun. 
Kembali nampak asik Weni mengarahkan pandangannya ke TV tanpa menghiraukan kehadiranku. Ah... jadi muncul tiba-tiba niatku untuk menjadikan Weni sebagai target ngocokku. Dan setelah beberapa kali aku mencoba untuk mengalihkan perhatiannya, tapi tetap juga Weni sepertinya tidak terpengaruh, akhirnya aku bisa memastikan kalau saat inilah kesempatan yang langka itu bisa aku lakukan. 
Secara perlahan, sambil aku tetap memperhatikan ekspresi wajah Weni, aku mengeluarkan kontolku dari celanaku. Sambil duduk di depan Weni, aku biarkan kontolku berada di luar celanaku. Karena juga tidak ada ekspresi dari Weni, akhirnya aku mulai mempermainkan kontolku  yang saat itu belum terlalu ereksi di depan Weni sambil aku lihat jam menunjukkan pukul 10:17.
Perlahan tapi pasti akhirnya kontolku ereksi sempurna dan di depan Weni perlahan aku mulai ngocok. Jarak antara aku dengan Weni saat itu kurang dari 50 cm. Aku lihat pandangan mata Weni tetap tertuju pada siaran TV dan sangat mengabaikan aku yang sedang ngocok di depannya. Sambil ngocok aku mengatakan pada Weni tentang ambisiku beberapa tahun silam pada dirinya. Aku katakan padanya kalau dulu saat aku ngocok, aku sering berimajinasi pada kecantikan dan tubuhnya. Ah... entah apa-apa saja yang aku katakan pada Weni sambil tanganku tak henti-hentinya mengocoki kontolku. 
Akhirnya aku hentikan kocokan tanganku di kontolku, lalu aku bangkit dari kursi sambil aku ambil HP dari saku celanaku dan menghidupkan mode merekam video. Lalu aku tempatkan di dispenser mengarah ke posisi di mana Weni dan TV dapat terlihat jelas. Kemudian aku berjalan hingga ke depan TV. Sengaja aku berdiri di depan TV dan kembali aku ngocok menghadap ke Weni. 
Kali ini pandangan mata Weni yang tertuju ke TV secara terpaksa mengarah ke aku yang sedang ngocok, karena layar TV-nya tertutup oleh aku. 
Entah kenapa, Weni sepertinya tidak terganggu dengan ulahku yang berdiri menutupi layar TV dan ngocok di depannya. Sengaja aku pertontonkan bagaimana aku mengocoki kontolku di depan Weni. Sengaja aku matikan TV, lalu aku mempermainkan kontolku di depannya. Dari perlahan cara aku mengocoki kontolku hingga sangat cepat tanganku ini mengocoki kontolku, sengaja aku pertontonkan di depan Weni. 
Akhirnya kenekatanku semakin bertambah setelah tidak ada reaksi dari Weni—ditambah lagi aktivitas ngocokku di depan Weni ini sengaja aku rekam dengan video HP-ku—membuat ide nakalku semakin menjadi. 
"Sorry ya, Weni, aku ngocok di depanmu. Sudah lama aku kepingin ngocok di depanmu. Kalau kukentot pepekmu gak mungkinlah, kau sepupuku..." kataku pada Weni, sementara tanganku tak henti-hentinya mengocoki kontolku. Dan masih banyak lagi perkataan-perkataanku pada Weni yang sengaja aku ucapkan sambil ngocok di depannya dan semakin menambah kenikmatan sensasi ngocokku di depan Weni.
Kesempatan yang sangat langka dan tak akan aku sia-siakan. Reaksi Weni yang kali ini sudah benar-benar mengarahkan pandangannya ke aku juga semakin menantang bagiku. Terbukti dengan pandangan matanya mengikuti gerakan tubuhku, tapi masih tanpa ekspresi. 
Akhirnya aku hentikan kembali kocokan tanganku di kontolku. Secara santai dan perlahan aku membuka baju dan celanaku di depan Weni. 
"Gak papa ya, Weni, aku ngocok di depanmu... tuh aku rekam kalau aku sedang ngocok di depanmu dan sekarang aku mau bugil ngocok di depanmu... nanti kalau kau mau, kita nonton video ngocokku, ya..." kataku pada Weni sambil aku tunjukkan HP-ku yang berada di atas dispenser yang mengarah ke kami. 
Hal yang luar biasa adalah sepertinya Weni mengerti ucapanku. Karena saat aku menunjukkan posisi HP-ku, pandangan matanya juga ke arah dispenser. Sempat berdebar kencang juga jantungku. Tapi karena sudah sedari tadi aku ngocok di depannya dan sudah tanggung, akhirnya lanjutlah...
Jujur saja, agak sedikit bergetar tanganku ini saat aku mulai melorotkan sempakku di depan Weni. Sudah basah ya mandi sekalian... Toh Weni bereaksi setelah aku buka baju serta celana pendekku di depannya dan menunjukkan posisi HP-ku. Toh saat itu aku sudah setengah bugil karena tinggal sempakku saja yang belum aku buka. Dan ini sudah terlalu jauh untuk menghentikannya. Kalau saja Weni pura-pura mempunyai gangguan psikologis, aku sudah terlanjur ngocok dan mengekspresikan birahiku di depannya, mau bilang apa lagi. Atau tiba-tiba gangguan psikologisnya sembuh, ya mau apa lagi, toh sekarang tinggal sempakku doang yang belum aku buka di depannya.
Akhirnya aku benar-benar bugil di depan Weni. Jujur saja kontolku memang sedikit hilang ereksinya karena tadi aku sempat terkejut dengan reaksi Weni yang—walau tanpa ekspresi—pandangannya mengikuti arah tanganku yang menunjukkan posisi HP-ku yang sedang merekam aktivitas ngocokku. Tapi masa bodo saja. Dengan perlahan aku mulai mengekspresikan birahiku di depannya. Santai aku kembali membuat ereksi kontolku. 
Bugil berdiri di depan Weni dan setelah kontolku kembali ereksi sempurna secara perlahan aku mulai ngocok. Kuperlihatkan kepada Weni bagaimana secara perlahan aku mulai mengocoki kontolku hingga kecepatan biasa tanganku ini mengocoki kontolku. 
Sengaja aku ekspresikan secara penuh birahi di depan Weni. Kubiarkan tatapan tanpa ekpresi Weni mengarah ke kontolku yang aku kocok. Pinggulku pun terkadang ikut maju mundur seirama dengan hentakan tanganku yang kadang dengan cepat mengocoki kontolku, seiring kenikmatan yang aku rasakan saat aku bugil ngocok di depan Weni. 
Sudah tidak aku perdulikan lagi apakah saat itu Weni dalam kondisi sehat dari gangguan psikologisnya atau tidak. Dan aku pun semakin mendekatkan tubuhku ke Weni hingga aku berdiri bugil ngocok sekitar 50 cm di depan Weni yang sedang duduk di kursi. 
Aku juga tidak memperdulikan reaksi Weni saat aku semakin mendekatkan tubuhku ke Weni hingga benar-benar kontolku yang aku kocok itu tepat di depan wajahnya. Iya, saat itu tangan Weni terlihat seperti bergerak hendak menahan tubuhku yang semakin rapat dengan wajahnya. Nampak jelas dari gerakan mata Weni memandang kontolku yang aku kocok di depan wajahnya sementara kedua tangan Weni memegang pahaku dan Weni sedikit memundurkan kepalanya menjauhkan sedikit dari kontolku dengan pandangannya tetap mengarah ke kontolku yang aku kocok. 
Aku juga terus semakin mendekatkan kontolku ke wajah Weni hingga akhirnya kepala kontolku menyentuh dahi Weni. Sambil ngocok aku gesekkan kepala kontolku ke dahi Weni, lalu ke hidung, pipi serta bibirnya. Aku tahu, dari tangannya yang memegang pahaku dapat aku rasakan Weni sepertinya secara perlahan mencoba mendorong atau menjauhkan tubuhku dari wajahnya. 
Tapi... reaksi seperti kegelian saat kontolku ini kugesekkan ke wajahnya, membuat aku semakin nekat. Dan secara perlahan aku memegang dagu Weni dan sengaja aku posisikan wajah Weni untuk menengadah lebih ke atas saat seluruh wajahnya telah puas kugesekkan dengan kepala kontolku. 
Kuhentikan kocokan di kontolku dan kuarahkan kepala kontolku ke bibirnya. Perlahan aku tekan kepala kontolku untuk masuk ke mulutnya. Tapi sayangnya terhalang oleh giginya. Dan akhirnya aku hanya mempermainkan kepala kontolku di bibir si Weni. Ah... tanpa ekspresi Weni menerima perlakuanku dan hanya dorongan-dorongan halus tangannya  yang dapat aku rasakan di pahaku. 
Entah apa-apa saja ucapanku yang aku katakan pada Weni, seiring hentakan tanganku yang mengocoki kontolku dan saat aku menggesek-gesekkan kontolku ini di wajahnya. Lalu aku memundurkan tubuhku dan menjauhkan kontolku dari wajah Weni. Saat itu wajah dan pandangan mata Weni sepertinya selalu mengarah ke aku.
Kemudian aku ambil HP-ku yang berada di dispenser. Dan masih dalam posisi merekam, aku kembali mendekati Weni. Secara close up aku videokan bagaimana tangan kananku mengocoki kontolku di depan wajah Weni dan terkadang aku gesekkan kepala kontolku ini ke wajahnya. Dan Weni masih tanpa ekspresi, tapi pandangannya sudah nampak jelas memandang ke kontol yang aku kocok. 
Saat itu aku merasa kurang nyaman karena tangan kiriku memegang HP yang sedang merekam, dan akhirnya aku geser kursi yang aku pakai tadi untuk kujadikan support HP-ku.
Tak aku perdulikan tatapan mata Weni yang tampak memperhatikan gerak-gerikku. Setelah HP sudah tepat posisinya, kembali aku dekati Weni. Ngocok dalam keadaan bugil sekitar 1 meter di depannya. Semua itu tanpa ada ekspresi apa pun dari Weni. Dan aku semakin cepat mengocoki kontolku. 
Semakin aku ekspresikan gerakan-gerakan penuh kenikmatan saat semakin cepatnya tanganku ini mengocoki kontolku. Hingga akhirnya jam 10:57 aku sudah tidak dapat menahan dorongan maniku yang sedari tadi aku tahan untuk tidak keluar. 
Begitu terasa maniku mau muncrat dari kontolku, secara cepat aku memundurkan  tubuhku serta kontolku menjauh dari wajah Weni. 
Aku tahu, walau tanpa ekspresi—tapi dengan mata kepalanya sendiri—Weni menyaksikan bagaimana maniku muncrat keluar dari kontolku, dan merasakan sebagian muncratan maniku itu mengenai wajahnya. Ah... tubuh bugilku begitu berkelonjotan penuh kenikmatan di depan Weni. Begitu banyak maniku yang muncrat dan berceceran di lantai.
Lalu aku membersihkan maniku yang berceceran di lantai itu dengan sempakku. Setelah maniku yang di lantai sudah bersih, lalu—masih dengan sempakku itu—kubersihkan juga maniku yang mengenai wajahnya. 
"Makasih ya, Weni... nikmatnya, Weni..." bisikku di telinga Weni saat aku membersihkan muncratan maniku di wajahnya. 
Begitu selesai aku membersihkan maniku di wajahnya, tiba-tiba Weni bangkit dari kursinya dan terus saja berjalan masuk ke kamarnya tanpa ada ekspresi apa-apa.
Jujur saja aku sedikit terkejut dengan gerakannya yang tiba-tiba bangkit dari kursi serta langsung masuk ke kamarnya, tapi aku biarkan saja. Lalu setelah aku mematikan rekaman video HP-ku, kemudian aku kenakan kembali pakaianku.
Perlahan aku dekati kamar Weni, dan aku buka pintu kamarnya. Ternyata pintu kamarnya tidak terkunci dan aku dapati Weni di atas ranjangnya dalam posisi telungkup. Rupanya dia menangis. 
Aku lihat dinding kamar Weni penuh dengan coretan yang tak jelas. Lalu aku mendekati Weni dan saat tanganku memegang bahu belakangnya untuk mengatakan sesuatu, aku dengar Weni masih dalam kondisi menangis sambil bersenandung yang tak begitu jelas aku dengar. Aku urungkan niatku untuk mengatakan betapa aku begitu berterima kasih padanya karena dengan leluasa aku bisa bugil ngocok di depannya sampai nembak mani. 
Aku keluar dari kamarnya dan kemudian aku keluar rumah sambil kukunci pintu rumah pamanku. Setelah kunci aku letak di tempat yang diberitahu bibiku, kemudian aku pulang dengan penuh kepuasan yang tidak dapat aku gambarkan. Sepanjang jalan aku teringat betapa beruntungnya hari ini aku bisa bugil ngocok sambil berinteraksi dengan target ngocokku yang tak lain adalah adik sepupuku yang kami berbeda usia sekitar 5 tahun. 
Sore harinya aku telpon bibiku sambil aku ingin memastikan apakah aksiku itu Weni ceritakan atau tidak. Malahan bibiku menanyakan padaku kapan aku bisa ke rumahnya lagi agar bisa ketemu Weni dan bibiku bilang kalau dia yakin aku belum ketemu Weni karena TV-nya belum menyala. Biasanya kalau Weni keluar kamar pasti dia menyalakan TV dan meninggalkan TV menyala begitu saja, walaupun dia sudah masuk ke kamar lagi. Dan kalau TV belum menyala, berarti Weni belum ada keluar kamarnya kecuali bibiku yang memanggilnya dan itu pun pasti Weni menghidupkan TV-nya.
Hehehehe... sudah pun aku jumpa sama si Weni... sambil bugil ngocok mengekspresikan birahi dan sampai muncrat-muncrat maniku di depannya...