Tanggal 29-07-2018 tanpa rencana akhirnya aku singgah ke rumah Eli. Dia adalah adik temanku. Sebenarnya tadi aku ke kos temanku dan tidak mendapatinya di sana. Makanya aku kemudian mengarahkan motorku untuk mampir dan sekedar menanyakan keberadaan temanku pada adiknya, yaitu Eli.
Di teras rumah Eli aku dapati Ica—anak Eli yang berumur 2 tahun—sedang bermain dan aku langsung saja memanggil Eli sambil mencolek pipi Ica. Hehehe, aku suka sekali melihat Ica yang selalu saja salah tingkah, begitu grogi padaku. Apalagi setelah aku colek tadi pipinya. Saat itu dalam hatiku sempat aku berkata, "Kapan kau Ica bisa kujadikan target ngocokku."
Aku masih berdiri di depan pintu masuk saat aku lihat Eli keluar dari dapur dengan hanya memakai baju daster terusan yang pendek. Dasar pepek lonte, pepek torok dan entah apalagi rutukan hatiku saat melihat Eli. Jujur, baru kali ini aku melihat Eli dengan pakaian seperti itu. Biasanya, kalaupun dia memakai daster terusan yang pendek pasti dia memakai legging. Dan terus terang saja, aku begitu menikmati keindahan tubuh Eli yang gemuk tapi sangat berbentuk. Apalagi saat itu Eli hanya memakai daster tanpa legging. Dasar lonte... begitu jelas putihnya paha Eli dan begitu memicu birahiku.
Eli mempersilahkan aku masuk dan duduk. Lonte... lonte... Dasar lonte... teriak hatiku saat tanpa merasa bersalah Eli duduk di hadapanku dan mempertontonkan keindahan pahanya yang putih mulus itu. Ah... dasar pepek... kalau sedikit saja pakaiannya agak ke atas, pasti nampak sempaknya.
Kontolku terasa begitu memberontak dan sudah sangat ereksi. Untungnya tertutupi oleh bajuku. Tapi kalau saja aku berdiri, ya pastilah langsung menyodok bagian depan celana pendekku. Jujur, saat itu aku merutuk karena gak memakai sempak dan gak menyangka kejadiannya seperti ini.
Aku jadi serba salah, seandainya aku cepat-cepat pamit pulang, pasti nampak kalau kontolku sedang ereksi. Kalau aku berlama-lama di rumahnya, segan dengan suaminya.
Eli mengatakan padaku kalau tadi memang abangnya, yaitu temanku, ada datang ke rumahnya dan berpesan kalau aku datang disuruh menunggunya di rumah ini. Temanku itu sedang ke rumah kakak mereka karena tadi ada kerusakan di sana.
Aku akhirnya mencoba berbasa-basi—walau dengan resiko pasti terlihat ereksi kontolku oleh Eli—dengan mengatakan kalau aku pulang saja karena segan dengan suaminya.
Dan tanpa disangka Eli mengatakan dengan sedikit ketus, "Sudah mau cerai aku, bang, dengan suamiku. Gak di sini lagi dia tinggalnya."
Dan aku hanya mengatakan, "Waduh maaflah, Eli, abang gak tahu. Tapi kok bisa seperti itu? Lha inikan rumah mertua Eli, kok bisa pula suami Eli yang gak tinggal di sini?"
"Mampus situ mereka. Mana berani mereka ngusir aku dari rumah ini. Mampuslah anaknya yang keluar dari sini," jawab Eli dengan sangat ketus.
"Aku lagi masak, lah, bang, duduk di dapur aja, bang. Ni orang-orang gila itu lagi pergi," sambung Eli. Dan aku langsung dapat mengerti maksud orang gila yang dikatakan Eli itu mengarah ke mertuanya.
Aku mengatakan pada Eli kalau aku mau duduk di ruang tamu dulu dan sebentar lagi aku menyusulnya ke dapur.
Eli kemudian bangkit dari duduknya dan dasar pepek lonte... pepek lonte... nampak pula sempaknya warna coklat muda walau sekilas.
Saat Eli sudah membelakangi aku dan berjalan masuk ke dapur, begitu penuh tatapan birahi aku memandang tubuh Eli. Ah... besarnya pantatmu Eli... Big size tapi indah bentuknya... Lonte... lonte... kalau saja bisa kupendam kontolku di pantatmu itu dan kunikmati pepekmu, Eli...
Sebelum Eli benar-benar berlalu dan masuk ke dapur, aku sempatkan mengeluarkan kontolku dan ngocok di belakangnya.
Dan setelah Eli masuk ke dapur pun aku tetap melanjutkan acara ngocok kontolku sambil membayangkan keindahan tubuh Eli sampai akhirnya aku baru menyadari kalau Ica sedari tadi memandangiku dari jendela.
Itu pun aku baru menyadarinya saat aku sangat menikmati hentakan tanganku yang sedang mengocoki kontolku sambil aku sedikit memalingkan wajahku ke arah pintu depan yang otomatis nampak juga jendelanya. Di situ aku lihat Ica sedang berdiri di kursi memandang aku dari jendela.
Walau aku terkejut, tapi akhirnya aku masa bodo saja, lagian Ica juga sepertinya belum lancar berbicara, dan santai aku teruskan acara ngocokku walau saat itu Ica sedang memperhatikan dengan tatapan penuh keingintahuan, melihat gerakan tanganku yang sedang mengocoki kontolku.
Akhirnya aku bangkit dari tempat dudukku dan kemudian sambil tetap ngocok, aku dekati jendela di mana Ica sedang memperhatikan aku. Di depan Ica aku permainkan kontolku, dan kubiarkan Ica begitu antusias memperhatikan aku ngocok.
Begitu sangat aku ekspresikan cara ngocokku di depan Ica. Tak aku hiraukan suara Eli yang sedang berbicara padaku, dengan hanya menjawab dengan suara sedikit bergetar dengan kata "Iya, Eli," "O," "Hehehe," dan sebagainya.
Lalu dengan sedikit berbisik aku katakan kepada Ica, "Sini Ica masuk."
Ica terlihat seperti sebelum-sebelumnya, yaitu nampak begitu salah tingkah saat aku ajak bicara. Dan akhirnya aku sudahi acara ngocokku sambil memasukkan kontolku ke celana pendek yang aku kenakan dan aku berjalan keluar sambil memegang tangan Ica yang nampak begitu grogi untuk aku ajak masuk ke dalam rumah.
Kudengar di dapur Eli sepertinya sedang menggoreng sesuatu dan dengan sedikit keras suaraku mengatakan pada Eli, "Ngapain, Eli."
"Kemarilah, bang, duduk di sini aja," kata Eli dari dapur dan aku mengatakan sebentar lagi aku ke sana.
Ica sengaja aku ajak duduk di sebelahku, di kursi panjang. Dan sangat santai aku kembali mengeluarkan kontolku di samping Ica. Aku tahu Ica memperhatikan tanganku yang perlahan menarik bagian depan celanaku untuk mengeluarkan kontolku.
"Ica cantik..." kataku pada Ica saat kontolku sudah aku keluarkan dari celanaku sambil aku colek pipinya dan kulihat jam di tangan kiriku menunjukkan pukul 08:21.
Benar-benar salah tingkah anak perempuan usia 2 tahunan itu padaku.
Kubiarkan Ica memperhatikan tanganku yang mulai mengelus-elus kontolku dan kemudian dengan santai aku mulai ngocok di samping Ica.
Walau duduk di sampingku, tapi wajah dan pandangan mata Ica mengarah ke kontolku. Ica memperhatikan dengan seksama sedari perlahan tanganku mengocoki kontolku hingga begitu cepat tanganku mengocoki kontolku. Bergantian dia memandang wajahku dan kontolku yang aku kocok.
Lalu aku berdiri dan ngocok di depan Ica yang masih dalam posisi duduk. Kudekatkan kepala kontolku ke wajah Ica yang nampak begitu grogi dan salah tingkah di depan aku sambil menggigit jari telunjuk tangan kanannya. Sampai akhirnya aku gesekkan kepala kontolku yang aku kocok itu ke wajahnya, tapi dia diam saja.
Itu yang membuatku semakin nekat. Aku raih tangan Ica dan aku bimbing tangannya untuk memegang kontolku sambil terus mengocoki kontolku. Terasa dingin tangan Ica saat memegang kontolku. Perlahan tangan Ica aku bimbing untuk mengocoki kontolku. Tangan Ica mulai mengocoki kontolku dari perlahan hingga sedikit cepat sampai akhirnya aku hentikan kocokan tangannya.
Ini merupakan kesempatan langka, karena di rumah itu hanya ada aku, Ica dan Eli. Saat aku menghentikan kocokan tangan Ica di kontolku, kulihat jam menunjukkan pukul 08:27. Lalu, masih dalam posisi kontol yang keluar dari celanaku dan aku tutupi dengan ujung bajuku, aku ajak Ica untuk ikut denganku masuk ke dapur rumah, di mana di sana Eli, mamanya Ica, sedang masak.
Sengaja aku berjalan di belakang Ica sambil sesekali merapatkan kontolku ke bagian belakang kepala Ica. Dan tak ada reaksi apapun dari Ica selain gerakan yang begitu grogi dan salah tingkah di depanku.
"Wah... Ica kok mau sekarang ya sama si Om..." kata Eli begitu mengetahui kami berdiri di depan pintu dapur. Dan sambil bercanda aku jawab kalau Ica mau, tapi masih grogi kalau berdekatan denganku.
Jujur saja, sedari aku mulai berjalan masuk ke dapur, begitu bergemuruhnya detak jantungku karena kenekatanku membiarkan kontolku berada di luar celana. Nekat dan sangat nekat. Sangat beresiko. Dan jujur, sangat menantang bagiku.
Saat aku dan Eli sedang berhadap-hadapan, gemuruh jantungku semakin kencang. Aku tidak yakin apakah ini akan berhasil atau tidak, tapi setidaknya posisi Ica sudah sangat membantuku menyamarkan ereksi kontolku—begitu juga ujung bajuku—walau sebenarnya ujung bajuku itu posisinya terangkat karena sodokan kontolku.
"Duduk, bang, sorry aku masak dulu, tanggung ni," kata Eli sambil kembali membalikkan tubuhnya membelakangi aku.
Sambil memasak dan dalam posisi membelakangi aku, Eli mengajak aku ngobrol. Aku hanya mengomentari seadanya saja. Karena saat itu aku begitu menikmati pemandangan indah tubuh bagian belakang Eli. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 08:31 saat Eli mulai mengajakku ngobrol, sementara pandangan mataku begitu penuh birahi mengarah ke pantat Eli yang besar dan montok itu sambil aku menelusuri setiap lekuk tubuhnya.
Kalau dikategorikan, Eli memang gemuk. Tapi gemuknya Eli berbentuk. Lekuk tubuhnya ada. Bukan gemuk pada umumnya. Ah... bodoh sekali suaminya mau menceraikan Eli. Wajahnya juga lumayan cantik dan menambah keindahan tubuhnya.
Ah... dasar pepek pantat lonte... torok lonte... teriak hatiku. Dan gemuruh jantungku pun masih begitu terasa menyesakkan nafasku.
Besar dan indahnya bentuk pantat Eli... seandainya Eli sudah berak dan Eli mau aku pendamkan kontolku ke pantatnya... ah... dalam posisi berdiri masak seperti itu pasti nikmat... Apalagi bisa secara bergantian aku masukkan kontolku ke pantat dan pepek si Eli...
Dengan tangan sedikit gemetar aku mulai menyingkapkan bajuku yang menutupi kontolku. Aku tahu Ica merasakan gerakan tanganku dan Ica menoleh ke belakang. Kubiarkan Ica sedikit menggeserkan tubuhnya hingga posisi tubuh dan wajahnya menghadap ke aku. Ica memperhatikan bagaimana aku dengan perlahan mulai mengocoki kontolku di belakang mamanya, yaitu Eli. Kubiarkan juga akhirnya Ica berdiri sedikit menjauh, dia berdiri bersandar di dinding sekitar 50 cm di sampingku sambil tatapan matanya terkadang memperhatikan kontolku yang perlahan aku kocok, dan mamanya yang sedang berdiri membelakangi aku.
Kadang dengan sedikit terburu-buru aku menyembunyikan kontolku di balik bajuku, saat tiba-tiba Eli membalikkan badannya mengambil sesuatu atau terkadang menunggu reaksiku dalam obrolan kami. Dan semua itu tidak pernah luput dari perhatian Ica yang berdiri sambil menggigit jari telunjuk tangan kanannya sekitar 50 cm dariku.
Sensasi luar biasa... penuh resiko, sangat nekat, dan entah mau bagaimana lagi yang dapat aku gambarkan dengan aksi ngocokku di belakang Eli dan anaknya, dan mungkin hanya sekali ini saja kesempatannya.
Gila... ya terserah mau dibilang begitu. Bayangkan saja aku ngocok di belakang Eli—sementara anaknya juga melihat dan memperhatikan bagaimana aku begitu mengekspresikan birahiku, sampai terkadang pinggulku pun ikutan maju mundur seirama dengan hentakan tanganku yang mengocoki kontolku—dan itu disaksikan langsung oleh anaknya, yaitu Ica.
Eli sendiri sepertinya terlalu sibuk dengan aktivitas memasaknya hingga dia tidak menyadari kalau selama kami ngobrol, di belakangnya aku berdiri ngocok sambil menelusuri keindahan tubuhnya.
"Duduklah, bang, itu kan ada kursi," kata Eli saat membalikkan badannya melihat aku masih berdiri, dan aku pun saat melihat gerakan tubuh Eli yang sepertinya hendak membalikkan badan dengan cepat menyembunyikan kontolku di dalam bajuku.
Lonte... pepek lonte... seandainya aku bisa menyingkapkan daster bagian belakang Eli dan memeluknya... Akan kupendam kontolku ini ke pantatnya... dan akan kupendam juga kontolku ke pepeknya... Pasti akan kubuat pepek si Eli itu becek penuh kenikmatan.
"Iya, Eli, biar abang berdiri aja sama si Ica. Lagian lebih enak begini," jawabku sambil mengeluarkan kembali kontolku dan mempermainkan kocokan kontolku di belakang Eli sesaat setelah Eli kembali membelakangi aku melanjutkan aktivitas memasaknya.
Ah... besar dan begitu menggoda sekali pantat si Eli... Pingin rasanya aku lebih mendekatkan posisiku ke Eli. Tapi, posisiku berdiri ngocok di belakang Eli saat itu saja sudah kurang dari 3 meter, gak mungkin aku lebih mendekat lagi...
Tanganku pun tak henti-hentinya mengocoki kontolku. Imajinasiku bermain seiring dengan pandangan mataku yang menelusuri keindahan bagian belakang tubuh Eli. Tak begitu aku perhatikan obrolan antar aku dan Eli. Ah... begitu sibuknya mataku menelusuri keindahan tubuh Eli dan tanganku pun semakin cepat mengocoki kontolku.
Ica tiba-tiba berjalan mendekati Eli. "Ngapain kok dekat mama, sama Om saja sana," kata Eli pada Ica sambil sedikit memiringkan badannya ke arah aku. Dan aku pun dengan sigap kembali menyembunyikan kontolku di balik bajuku.
"Malu mungkin Ica sama Om, ya..." kataku pada Eli dan Ica sekaligus.
Ica kemudian berdiri di samping Eli, tapi tubuhnya mengarah ke aku sambil memegang ujung daster Eli.
Lalu Eli kembali membelakangi aku melanjutkan aktivitas memasaknya, sementara Ica di samping Eli, masih dalam posisi berdiri menghadap ke aku.
Aku kemudian mencoba menanyakan sesuatu sebagai pemicu obrolan saja pada Eli dan perlahan kukeluarkan kontolku dari balik bajuku. Disaksikan Ica, aku kembali ngocok. Kali ini aku sepertinya lebih agresif. Sering pinggulku ikutan maju mundur seiring kenikmatan kocokan tanganku di kontolku.
Sambil ngocok dan memperhatikan penuh birahi tubuh belakang Eli—khususnya pantatnya yang besar itu—begitu kunikmati hentakan tanganku yang mengocoki kontolku.
"Eli, itu kamar mandi, ya...?" kataku berbasa-basi pada Eli saat aku baru menyadari kalau kamar mandi rumah mereka itu tepat di samping Eli.
"Iya, bang, mau pakai kamar mandi, abang?" jawab Eli sambil memalingkan sedikit wajahnya, dan aku mengambil resiko dengan tidak menyembunyikan kontolku dan hanya memperlambat kocokan di kontolku.
"O... ya udah ntar lagi," kataku.
Kembali Eli meneruskan aktivitas memasaknya dan aku pun semakin mempercepat kocokan di kontolku.
Obrolan ringan antara aku dan Eli tetap berlanjut, walau sering hanya aku iya kan saja jawaban, maupun tanggapanku pada obrolan kami.
Perlahan, dengan gemuruh jantung yang sedikit menyesakkan dadaku, aku beranikan diri sambil tetap ngocok, aku berjalan mendekati Eli dan Ica sampai akhirnya sekitar kurang dari 1 meter aku tidak dapat menahan dorongan maniku yang ingin keluar dari kontolku.
Saat jarak antara aku dan Eli kurang dari 1 meter, akhirnya aku nembak mani disaksikan Ica yang sedari tadi tanpa bicara memperhatikan aku yang begitu mengekspresikan birahiku ngocok di belakang Eli, mamanya.
Nikmatnya... Dengan mata kepalanya sendiri Ica menyaksikan muncratan maniku keluar dari kontolku yang aku tampung dengan tangan kiriku. Tak dapat aku tahan kenikmatan saat nembak mani di belakang Eli yang membuat aku berkelonjotan. Dan itu semua disaksikan langsung oleh Ica.
Dalam kondisi tubuh yang masih berkelonjotan, sambil menampung maniku, aku berjalan semakin mendekat ke Eli, lalu aku perlihatkan ke Ica mani yang aku tampung tadi.
Beruntung, dengan cepat aku memasukkan kontolku ke dalam celana saat tiba-tiba Eli memalingkan wajahnya dan membalikkan badannya tepat sekitar 50 cm jarak antar aku dengan Eli.
"Uh... numpang pipis ya, Eli..." dengan spontan aja aku mengatakan itu pada Eli.
"Hahaha, sampai kek gitu, bang, jalannya nahan kencing," kata Eli sambil tertawa melihat aku berjalan sambil sedikit berjinjit dan bergetar, padahal saat itu aku baru saja berkelonjotan penuh kenikmatan di belakangnya dan Eli sangka aku berjalan seperti itu karena menahan rasa ingin kencing.
Dengan cepat aku berjalan melewati Eli dan masuk ke kamar mandi dan tawa Eli rupanya belum selesai juga. Beruntung Eli tidak memperhatikan tangan kiriku yang saat itu dalam posisi menggenggam maniku. Mungkin terlihat lucu melihat aku berjalan sambil berkelonjotan yang dia sangka menahan rasa sesak kencing.
Dasar lonte... pepek pantat lonte... nikmatnya...
Kubersihkan mani yang belepotan di tangan kiriku sambil kulirik jam tanganku yang menunjukkan pukul 08:44. Saat itu aku tak sengaja melihat sempak Eli yang tergeletak di tumpukan paling atas pakaian kotornya yang berada di ember. Dengan menggunakan bajuku, aku seka bekas air di tanganku dan kemudian aku ambil sempak tersebut. Ini pasti sempak Eli, nampak dari bentuknya yang besar.
Pepek lonte... torok lonte... pantat lonte maki aku dalam hati saat aku mulai mencium sempak Eli. Pesingnya aroma sempak Eli itu... Dasar pepek lonte... Kontolku kembali denyut dan tegak ereksi sempurna.
"Jangan lama-lama, bang..." terdengar suara Eli diiringi tawanya.
Aku juga tertawa sambil terus saja menghirup aroma pesing sempak Eli. Begitu lekatnya sempak Eli menempel di hidungku tepat pada bagian pepeknya. Tangan kananku kembali mengocoki kontolku dengan cepat dan mungkin gak sampai 1 menit aku kembali nembak mani.
Sambil senyum aku keluar kamar mandi dan kembali tawa Eli sepertinya tidak dapat dia tahan.
Sambil tertawa dia bilang, "Abang... abang... kayak baru kenal aja sampai segitu segan mau numpang kamar mandi..."
"Iya, Eli, sorry ya, agak lama pakai kamar mandi, soalnya dari tadi nahannya", jawabku dan kembali Eli tertawa, sementara kulihat Ica masih seperti biasanya. Ica masih berdiri di samping Eli dengan jari telunjuk yang dia gigit terlihat agak malu memandang aku.
Lalu aku duduk di kursi dapur dan sepertinya Eli juga menghentikan aktivitas masaknya. Dia membuatkan aku teh hangat.
Paslah, sudah dua kali nembak mani, dapat pula teh hangat...
"Sini, Ica, sama Om," kataku pada Ica dan Ica hanya menggeleng penuh rasa malu.
Tapi pandangan mata Ica sering mengarah ke kontolku. Nampak jelas pandangan matanya tertuju ke selangkanganku yang saat itu dalam posisi duduk.
Lonte... lonte... kembali hatiku merutuk saat Eli dalam kondisi membelakangi aku, dia tiba-tiba nungging mengambil sesuatu yang jatuh...
Menggoda sekali...
Eli berdiri dan aku dalam posisi duduk kembali melanjutkan obrolan ringan kami sambil sesekali tertawa, karena Eli mengulang kembali kejadian yang dia sangka aku menahan kencing tadi.
Benar-benar pepek pantat lonte kau Eli... begitu menggodanya tubuhmu... Gemuk tapi mempunyai bentuk yang indah. Kalau saja kau mau pantatmu dan pepekmu aku kocok pakai kontolku, pasti dengan senang hati aku mau melakukannya. Berak dulu kau Eli sebelum kontolku masuk ke pantatmu. Dan pastinya kau akan terkencing-kencing saat kontolku ini mengocoki pantatmu. Pepekmu pasti becek dengan lendir kenikmatan saat kontolku mengocoki pepekmu.
Akhirnya, setelah aku habiskan teh hangat yang dia buat, aku pamit pulang dengan alasan terlalu lama abangnya belum datang juga.
Kembali aku dekati Ica sambil aku colek pipinya, "Yuk, ikut Om..."
Jam 09:02 aku keluar dari rumah Eli dengan membawa berjuta rasa kenikmatan dan kepuasan.
Kesempatan yang sangat langka. Entah kapan bisa aku ulangi lagi.
Terima kasih Eli telah memuaskan aku. Walau cuma ngocok di belakangmu, tapi kenikmatan dan sensasinya sangat luar biasa. Debaran jantungku, getaran tanganku dan kelonjotan tubuhku saat nembak mani sekitar 1 meter di belakangmu serta di depan anakmu, Ica, begitu aku nikmati.