Hari ini kak Dk sudah menempati rumah barunya, dari T M dia pindah ke Mbr. Yang selama ini aku masih sering curi-curi pandang melihat montoknya pantat kak Dk—karena rumahnya ada di sebelah rumahku—mulai sekarang jadi gak bisa lagi.
Ada banyak kenangan yang pernah aku lakukan pada kak Dk. Apalagi dulu sewaktu kami masih tinggal dalam satu rumah di S J. Sering sekali dia menjadi sasaran ngocokku. Sudah menjadi kebiasaanku kalau kak Dk mandi, aku bugil ngocok berdiri di depan pintu kamar mandi sambil mendengarkan riak air, mengkhayalkan tubuhnya yang basah saat mandi dan berharap pintu kamar mandi terbuka dan dia memergoki aku sedang ngocok. Ah... dalam khayalanku kak Dk membiarkan aku masuk ke kamar mandi dan dia memperbolehkan aku ngocok di depannya.
Kalau kak Dk menjemur pakaian, aku paling suka mengambil sempaknya yang masih basah, kemudian ngocok dan menembakkan maniku ke sempaknya hingga terkadang bekas maniku itu nampak jelas di sempaknya saat sudah kering.
Satu hal yang sangat berkesan dari kak Dk adalah sikapnya yang biasa saja setelah dia memergoki aku yang sedang ngocok dengan tubuh setengah bugil di dapur rumahku.
Berikut ini adalah beberapa peristiwa yang sangat berkesan antara aku dengan kak Dk.
SF atau yang biasa
aku panggil kak Dk adalah kakak iparku yang sering membuat kontolku terasa
digelitik bila aku memandangi tubuhnya. Wajahnya tidaklah seperti yang
ada dalam kriteriaku, tapi pantatnya itu lho! Jujur, aku sering ngocok sambil
membayangkan keindahan tubuhnya. Dan tanpa sepengetahuannya juga, aku
sering ngocok di belakangnya. Kalau kak Dk pulang kerja, sengaja aku tutup
pintu depan dan aku buka pintu samping dengan tujuan agar dia masuk rumah
melalui pintu samping. Pada saat dia jalan menuju pintu samping itulah aku ngocok
di ruang tamu, di depan jendela nako sambil memandangi keindahan tubuhnya.
Aku sadar sepenuhnya, bila kak Dk memalingkan wajahnya ke arah kaca nako,
pasti dia dapat melihat aku ngocok, berdiri menghadap ke arahnya. Entah,
aku sendiri tidak tahu mengapa aku mengambil resiko seperti itu. Karena
seandainya dia tahu? Terkadang dalam benakku terlintas pengharapanku untuk
dipergoki ngocok olehnya. Dan kukhayalkan kak Dk mau melepaskan
bajunya, bugil di depanku dan membiarkan aku menikmati keindahan tubuhnya.
Tapi kenyataannya sungguh di luar dari harapan. Ah... dasar pepek pantat torok lonte kau kak Dk... Karena pada tanggal 08-08-2002, jam 17:12,
sangat telak kak Dk memergoki aku sedang berdiri ngocok setengah bugil di dapur
rumah. Tidak seperti yang aku bayangkan dalam khayalanku—bahwa dia akan bugil di depanku—melainkan ekspresi wajah kecut yang dia hadirkan di hadapanku. Pepek pantat kau kak Dk!
Awalnya saat aku hanya berdua dengan kak Dk di rumah, aku memang sedang kepingin ngocok. Jujur saat itu aku menunggu kak Dk untuk mandi dan sudah menjadi kebiasaanku saat dia mandi, aku bugil ngocok di depan pintu kamar mandi. Tapi karena aku lihat kak Dk sedang menyeterika dengan tumpukan pakaian yang lumayan banyak di ruang TV, tiba-tiba timbul keinginanku untuk ngocok di dapur rumahku. Lagian kalo aku menunggunya selesai menyeterika akan terlalu lama.
Setelah memastikan kondisi sudah aman, kemudian aku berdiri di depan lemari di dapur rumahku. Perlahan aku membuka celana pendekku dan dalam keadaan bugil aku bersiap untuk ngocok. Tapi ada rasa was-was yang tiba-tiba muncul hingga akhirnya membuat aku mengurungkan niatku untuk bugil ngocok dan kemudian aku memakai celanaku kembali. Awalnya aku ngocok dengan posisi celana yang aku tarik sedikit ke bawah. Tapi karena kurang nyaman, akhirnya celana itu aku lorotkan hingga ke lututku.
Ah... sambil ngocok aku membayangkan keindahan tubuh kak Dk. Membayangkan di saat aku sering melihatnya berjalan keluar dari kamar mandi menuju ke kamarnya hanya berbalut handuk saja. Handuk yang hanya menutupi teteknya dan sedikit pahanya. Jujur, paha kak Dk sangat seimbang dengan bentuk pantatnya yang montok itu. Esh... dasar pepek torok pantat lonte kak Dk itu... begitu aku nikmati hentakan tanganku yang sedang mengocoki kontolku.
Sambil membayangkan keindahan tubuh kak Dk, aku pejamkan mataku. Saat itu aku benar-benar tidak memikirkan posisiku yang sedang berada di dapur dengan celana yang melorot hingga ke lututku, karena aku begitu menikmati sensasi ngocokku. Lagian posisi kak Dk yang sedang sibuk menyeterika di ruang TV membuat aku lupa diri.
Dan tanpa aku duga, begitu aku membuka mata, kak Dk sudah berada di pintu dapur! Aku tak tahu, sudah berapa lama dia berada di pintu itu. Yang jelas, saat aku membuka mataku, langsung aku melihat kak Dk sambil dia berkata, "Eh..." Dasar lonte pepek torok kau kak Dk... Aku tak tahu apa yang harus aku
lakukan saat itu selain menarik celanaku dan masuk ke dalam kamarku sambil
merutuki kejadian yang terjadi. Wuih... begitu kecutnya wajah kak Dk dan aku benar-benar tidak menyangka dia masuk ke dapur
dengan tiba-tiba. Lonte pepek torok kau kak Dk, akhirnya aku mengambil keputusan untuk keluar dari kamar, melihat situasi dan
bersikap biasa aja. Saat itu kak Dk sudah masuk ke dalam kamarnya.
Dan karena masih tanggung, akhirnya aku selesaikan juga aktivitas ngocokku di dapur
rumah sampai aku nembak mani.
Sore hingga malam hari setelah kejadian itu, dia benar-benar tidak keluar dari kamarnya. Dan di hari berikutnya dia bersikap biasa saja padaku. Hanya saja kak Dk sudah tidak pernah keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk saat aku berada di rumah. Ah... dasar lonte pepek torok pantat kau kak Dk...
Jujur, aku sedikit bingung dengan sikap kak Dk padaku. Semenjak kejadian dia memergoki aku ngocok di dapur, hampir 1 bulan kak Dk saat selesai mandi gak pernah memakai handuk bila keluar dari kamar mandi. Dia langsung memakai pakaiannya di dalam kamar mandi. Tapi di lain sisi, kak Dk masih tetap memakai celana pendeknya dan bahkan lebih pendek ukurannya dari yang biasa dia pakai. Ah... dasar lonte... aku hanya bisa curi-curi pandang untuk melihat keindahan tubuhnya.
Selama 1 bulan itu juga aku gak berani untuk bugil ngocok di depan pintu kamar mandi saat dia mandi. Lepas sebulan lebih setelah kejadian itu baru aku berani menjadikannya sebagai sasaran ngocokku lagi. Itu pun setelah aku merasa kalau kak Dk sepertinya memancing-mancing birahiku dengan dia sering memakai pakaian yang longgar dan celana tipis yang super pendek. Hal yang menjadikan aku merasa kak Dk sepertinya sudah bersikap biasa padaku adalah saat kami ngobrol dan dia duduk bersamaku di lantai. Memang saat itu suasana ramai, dan kak Dk lebih mendekat ke aku dengan tangannya yang memegang pahaku untuk melihat luka yang ada di kakiku.
Sebenarnya, selama hampir sebulan kak Dk tidak pernah membiarkan aku menutup seluruh pintu saat kami hanya berdua di dalam rumah. Ada saja alasan yang dia buat agar dia bisa membuka kembali pintu yang sudah aku tutup. Entah itu dengan dia berpura-pura menyapu atau apalah... yang intinya dia bisa membuka pintu rumah yang sudah aku tutup. Ah... kebiasaanku ngocok dan nembak mani di sempak yang baru dia cuci juga tidak berani aku lakukan setelah kejadian itu. Apalagi kebiasaan bugil ngocokku di depan pintu kamar mandi saat dia sedang mandi.
Tapi setelah hampir sebulan lebih setelah kejadian itu—kak Dk sepertinya sudah bersikap biasa saja padaku—akhirnya aku mulai kembali berani untuk setidaknya mengambil sempaknya untuk aku ciumi saat aku ngocok. Dan bahkan aku mulai kembali berani ngocok di ruang tamu saat dia pulang kerja seperti yang aku lakukan sebelumnya.
Aku juga kembali berani bugil ngocok di depan pintu kamar mandi saat kak Dk mandi setelah dia sendirilah yang menutup pintu belakang rumah saat dia mau mandi. Tapi pada awal-awalnya, aku hanya ngocok di ruang TV. Dan di hari itu juga aku melihat kak Dk kembali hanya berbalut handuk saat dia keluar dari kamar mandi menuju kamarnya.
Dasar lonte pepek torok kak Dk... membuat aku begitu geregetan dengan sikapnya itu. Dan di hari-hari berikutnyalah aku secara terang-terangan berani menutup seluruh pintu rumah saat kami hanya berdua di rumah, khususnya saat aku tahu dia akan mandi. Entah, apakah dia tahu dan sengaja membiarkan aku atau gimana. Tapi yang aku rasakan kak Dk sepertinya selalu saja memancing birahiku dengan dia yang selalu berpakaian vulgar. Baju longgar yang tipis dengan celana yang sangat pendek selalu saja dia pakai saat kami hanya berdua di rumah.
Jujur, birahiku begitu menggelegak setiap aku memandang ke tubuhnya. Dan akhirnya kenekatanku semakin menjadi dengan aku melakukan bugil ngocok merebahkan diri di depan pintu kamar mandi saat dia mandi. Iya... kalau sebelumnya aku hanya bugil ngocok berdiri di depan pintu kamar mandi, tapi setelah kejadian dipergoki ngocok olehnya, malah aku lebih berani dengan merebahkan tubuhku di depan pintu kamar mandi sambil ngocok saat dia berada di dalamnya. Entah itu saat dia mandi atau sedang mencuci baju.
Jujur, kadang aku merasa kak Dk sengaja memberi kesempatan padaku untuk ngocok dan mengkhayalkan dirinya. Tak akan mungkin dia tak curiga karena kalau kami hanya berdua di rumah, sesaat sebelum dia mandi, pasti aku menutup seluruh pintu rumahku. Gak akan mungkin dia gak tahu bercak maniku yang menempel di sempaknya yang akan dia cuci. Apalagi sering aku ngocok dan nembak mani di sempaknya yang dia jemur. Begitu jelas bercak maniku itu di sempaknya saat sudah mengering. Dan sepertinya dia membiarkan itu semua.
Ah... kak Dk... dari sikapnya itu aku jadi berani telentang dalam kondisi bugil, ngocok di depan pintu kamar mandi sambil mendengarkan dia mandi atau mencuci pakaiannya, sementara baju dan celanaku berada di dalam kamarku. Iya... setiap aku tahu kak Dk akan mandi, langsung saja aku tutup seluruh pintu rumahku dan aku langsung melepas seluruh pakaianku di dalam kamarku sambil menunggu kak Dk masuk ke kamar mandi. Dan sesaat setelah aku mendengar kak Dk menutup pintu kamar mandi, langsung saja aku keluar dari kamarku dalam kondisi bugil menghampiri pintu kamar mandi. Di depan pintu kamar mandi itulah kemudian aku merebahkan tubuhku dan ngocok sampai aku nembak mani. Hal itu sering aku lakukan dan pastinya di setiap hanya aku dan kak Dk saja yang sedang berada di rumah.
Itu yang membuat aku salut pada kak Dk. Walau awalnya kak Dk begitu terkejut dan menampilkan wajah kecutnya saat memergoki aku ngocok, tapi kemudian dia membiarkan dirinya menjadi imajinasi ngocokku. Lonte pepek pantat torok kau kak Dk... dari 1996-2005 selalu saja aku bugil ngocok di depan pintu kamar mandi saat kak Dk mandi atau mencuci pakaian. Dari 1996-2005 begitu puasnya hampir setiap hari aku ngocok dan nembak mani di sempaknya. Dari 1996-2005 begitu nikmatnya sensasi ngocokku sambil mencium sempaknya. Dan semua itu berakhir di tahun 2005 saat kak Dk dan aku pindah rumah dari S J ke T M.
Sore itu tanggal 19-08-2006
aku sedang iseng checking motor di samping rumahku. Tiba-tiba kak Dk datang
dan kemudian berdiri di pintu gerbang samping, entah mau apa dia. Posisinya
tepat membelakangi aku. Pepek pantat lonte kak Dk! Montoknya... jadi kepingin
ngocok nih... Kontolku juga sudah ereksi. Akhirnya, dengan perlahan aku berdiri
dan membuka resleting celanaku. Saat itu jam 15:33, tepat di belakang kak Dk
dengan jarak kurang dari 3 m aku berdiri ngocok. Menikmati keindahan tubuhnya dari belakang. Begitu nikmatnya, sampai begitu banyak mani yang keluar
hingga berceceran di lantai samping rumahku. Pepek pantat lonte memang kak Dk, baru saja
aku selesai nembak, tiba-tiba dia membalikkan badannya. Untung saja aku sudah
nembak mani dan dengan cepat aku tutupi kontolku dengan bajuku. Hampir saja...
Sudah lama sekali aku tidak menjadikan kak Dk
sebagai target ngocokku. Dan tanggal 01-06-2011, jam 11:47-11:52 aku
begitu santai ngocok sampai nembak mani sekitar 3 m di arah samping kak Dk
yang sedang membaca majalah di ruang tamu rumahku.