Rabu, 30 Juli 2014

Montoknya Mertuaku

Jujur, untuk usia 53 tahun mertuaku masih terlihat sangat menggairahkan. Lekuk tubuhnya begitu membangkitkan birahiku. Ah... yang paling aku suka adalah pantat mertuaku. Nampak begitu sekal dan sangat indah. Sering aku ngocok sambil mengkhayalkan kalau saja aku bisa menikmati tubuhnya. Memendamkan kontolku ke dalam pepek dan pantatnya. Begitu nikmat saat aku ngocok sambil mengkhayalkan kalau saja dia mau aku ajak bercinta, mencumbui dirinya sampai akhirnya aku dapat menyingkap bajunya, membuka sempaknya, dan merekahkan pepeknya.
Sering juga aku curi-curi kesempatan untuk dapat memandang keindahan tubuhnya—apalagi pantatnya—sambil aku ngocok di belakangnya.
Dan ini adalah saat-saat aku mengekspresikan birahiku dengan cara ngocok di dekat mertuaku.

Aku tidak menyangka kenapa aku bisa seperti itu. Secara tak sengaja malam itu tanggal 17-08-2007, aku mendapati mertuaku sedang tertidur di ruang TV. Jujur, mertuaku itu punya bentuk tubuh yang lumayan juga. Aku jadi salah tingkah. Ah... karena aku tidak memakai sempak, otomatis kontolku langsung menyodok celana pendek yang aku pakai. Kondisi rumah saat itu juga sedang sunyi. Ya sudah... dengan perlahan aku buka bajuku, lalu aku buka celana pendekku. Wuih... saat itu aku benar-benar bugil! Baju dan celanaku berada 1 m di belakangku saat dengan perlahan aku mendekati mertuaku yang sedang tidur. Aku berdiri ngocok di atas kepala mertuaku dengan begitu santai. Padahal, begitu besar resiko yang dapat terjadi. Bayangkan, aku berdiri bugil ngocok tepat di atas kepala mertuaku. Seandainya dia terbangun? Pasti aku tidak dapat berbuat apa-apa karena baju dan celanaku berada 1 m dari posisiku! Aku bugil ngocok sampai nembak mani di atas kepala mertuaku dari jam 20:51-20:55.  Selama 4 menit ngocok dengan kondisi bugil yang sangat beresiko.

Kejadian itu terjadi di bulan Mei 2009. Aku lupa tanggal dan waktunya, tapi yang pasti waktunya di atas jam 20. Saat itu aku baru sampai di rumah mertuaku dan mertuaku sendiri yang membukakan pintu depan rumahnya. Kemudian karena aku memang berniat mau nginap di rumah mertuaku, lalu aku memasukkan motorku ke ruang tamu. Sedikit berbasa-basi dengan mertua, aku masih tetap berdiri di samping depan motorku. Mertuaku rupanya sedang menjahit sesuatu dengan mesin jahitnya, karena setelah membukakan pintu untukku dan sambil tetap mengajakku ngobrol kemudian mertuaku itu duduk membelakangi aku. Dia menghadap ke arah mesin jahitnya, sementara jarak aku berdiri dengan mertuaku hanya 1½ m. Kuperhatikan mertuaku tetap serius dengan pekerjaannya walau sesekali dia mengajakku ngobrol. Ah... ada kesempatan nih... Jujur, jantungku berdetak begitu keras saat dengan perlahan aku mengeluarkan kontolku dari celanaku. Untungnya aku memakai baju yang panjang, jadi aku masih bisa menutupi kontolku dengan bajuku. Kemudian aku pura-pura membersihkan motorku. Dan setelah aku yakin kalau mertuaku itu sedang serius dengan pekerjaannya, perlahan aku mulai ngocok di belakangnya. Tapi aku sempat juga terkejut dan buru-buru menghentikan kocokanku saat dengan tiba-tiba mertuaku itu merubah posisi duduknya dari membelakangi aku menjadi duduk menyamping ke arah aku sambil mengajakku ngobrol. Terpaksalah aku ngobrol lagi dengan mertuaku sambil pura-pura sibuk membersihkan motorku. Tak lama kemudian aku pura-pura ke ruang TV, dan aku kembali lagi ke ruang tamu sambil berjalan ngocok menuju ke arah mertuaku yang sudah dalam posisi membelakangi motorku. Aku kembali berdiri tepat di samping depan motorku dan dengan sangat leluasa aku ngocok di belakangnya hingga akhirnya aku nembak mani.

Malam tanggal 26-11-2009, begitu santainya aku ngocok di samping mertuaku yang sedang tidur di ruang TV bersama Ning. Dengan perlahan tapi pasti aku keluarkan kontolku dari celanaku, dan sangat santai kubuat kontolku ereksi di samping mertuaku. Dari jam 23:51-23:54 aku ekspresikan birahiku di samping mertuaku dengan jarak tidak lebih dari 30 cm antara kontolku dengan tubuh mertuaku sambil memandangi montoknya pantat Ning yang juga sedang tertidur membelakangi posisiku. Ah... begitu banyak maniku yang keluar yang aku tampung dengan tangan kiriku.

Malam tanggal 02-04-2010, sepulang kerja aku tidur di rumah mertuaku. Karena aku nginap di sana tanpa rencana, akhirnya aku hanya memakai sarung saja sebagai pengganti celana kerjaku yang sudah kotor. Dalam benakku, aku sudah menyusun beberapa rencana agar setidaknya aku bisa sedikit leluasa ngocok di rumah mertuaku. Dan benar saja, kulihat mertuaku tidur di ruang tamu. Saat itu aku tidur di ruang TV, di dalam kelambu, sementara In sepertinya belum tidur di kamar sebelahku. Sambil mengambil posisi tidur di luar kelambu, aku menyingkapkan sarungku dan ngocok sambil mengarahkan kontolku ke pintu kamar In. Tapi sepertinya hal itu tidak membuatku merasa tertantang. Akhirnya aku putuskan untuk mencoba sedikit keberuntunganku. Lalu bangkit dari posisiku, kemudian aku berjalan ke ruang tamu dan mendekati mertuaku yang sedang tidur di sana. Dengan perlahan aku jongkok di dekat kakinya, dan dengan bertumpu pada lututku, aku menyingkapkan kain sarungku. Kemudian aku mulai ngocok di dekat mertuaku sambil pandangan mataku menelusuri keindahan tubuhnya. Aku tandai waktu menunjukkan pukul 02:35, saat aku ngocok kurang dari 10 cm dari tubuh mertuaku sampai aku nembak mani.

Tanggal 04-09-2011, jam 01:24-01:29 begitu nekatnya aku ngocok di depan mertuaku yang sedang tidur dengan posisi wajahnya menghadap ke kontolku. Sebelumnya aku sempat ragu juga untuk masuk ke dalam kamar mertuaku. Tapi... karena pintu kamarnya terbuka lebar membuat aku seperti digoda untuk masuk. Berulang kali aku melewati pintu kamar mertuaku itu sambil sesekali melirik ke arahnya, memastikan apakah mertuaku itu sudah tidur atau belum. Ah... pepek... pepek... bertambah tergoda aku untuk masuk ke dalam kamarnya. Akhirnya dengan perlahan, sambil mengeluarkan kontolku dan ngocok, aku berjalan masuk ke dalam kamar mertuaku. Tidak aku pikirkan lagi posisi wajah mertuaku yang benar-benar menghadap ke pintu, apakah dia sudah tidur atau belum. Sudah kepalang tanggung, terus saja aku dekati mertuaku sambil ngocok. Setelah hampir 50 cm jarak kontolku dengan wajah mertuaku, kemudian aku berhenti dan dengan santai aku ngocok di depan mertuaku. Dalam benakku, kalau mertuaku itu belum terlalu nyenyak tidur, mungkin sedari awal dia sudah dengar langkah kaki dan suara hentakan tanganku yang mengocoki kontolku mendekatinya, dan pasti dia akan pura-pura batuk atau bergerak menandakan dia akan bangun, bahkan bisa lebih ekstrim lagi dengan langsung bertanya padaku ngapain aku masuk ke kamarnya dengan kontol yang dikocok seperti itu. Tapi sepertinya mertuaku itu memang sedang nyenyak tidurnya, sampai-sampai dia tidak mengetahui kehadiranku. Santai saja aku ngocok dengan kontolku yang berada tepat di depan wajahnya, sambil memandang montok dan sekalnya tubuh mertuaku, serta mengkhayalkan kalau saja dia mau aku ajak ngentot. Ah... pepek... pepek... akhirnya aku nembak banyak mani tepat di depan wajahnya dengan rasa penuh kepuasan...

Tanggal 11-03-2012, jam 01:38-01:41 dengan birahi yang begitu menggebu aku ngocok di depan mertuaku dan adik iparku si Ning yang sedang tidur di kamar depan. Posisi wajah Ning tepat menghadap ke pintu kamar di mana aku berdiri ngocok. Sedangkan mertuaku tidur telentang dengan posisi baju daster yang tersingkap ke atas. Mungkin kalau tersingkap sedikit lagi sudah tampaklah pepek mertuaku. Itu yang membuat birahiku begitu menggebu. Sambil ngocok dan memandangi mereka berdua, aku membayangkan nikmatnya kalau saja mertuaku dan Ning mau aku ajak ngentot. Saat itu aku ngocok masih memakai baju dan celana pendek. Karena baju daster mertuaku tersingkap ke atas dan sepertinya menantang untuk kukentot, kemudian aku ke ruang TV untuk membuka bajuku, lalu ke ruang tamu untuk membuka celanaku. Aku benar-benar bugil ngocok di depan mertuaku dan adik iparku Ning dengan jarak tidak lebih dari 2 meter. Dari jam 01:41-01:44 aku bugil ngocok dan begitu menikmati setiap hentakan tanganku yang mengocoki kontolku sambil memandangi tubuh mereka berdua. Sampai akhirnya aku nembak mani. Kemudian, karena kesempatan itu sangat langka dan birahiku masih juga bergelora, pada jam 02:29-02:32 aku kembali ngocok sampai nembak mani lagi di depan mereka berdua.

Tanggal 10-08-2012, jam 06:37-06:40 awalnya dari balik tirai pintu yang tersingkap sedikit aku ngocok di belakang mertuaku yang sedang membuat kue dengan jarak kurang dari 1 m. Sambil ngocok aku berpikir bagaimana aku dapat membuka tirai pintu kamarku—dengan tidak membuatnya curiga—agar aku bisa lebih jelas lagi ngocok sambil menikmati montoknya tubuh mertuaku itu. Kemudian aku sudahi dulu aktivitas ngocokku, lalu aku keluar kamar sambil mencoba menyingkap lebih lebar lagi tirai pintu kamarku. Ada beberapa kali aku keluar-masuk kamarku sambil menyingkapkan tirai itu, tapi tak berhasil. Sampai akhirnya karena waktu yang sudah mulai mepet—dengan bersikap biasa aja—sambil masuk ke kamar aku buka tirai pintu kamarku dengan selebar-lebarnya dan aku sangkutkan tirai tersebut agar tidak jatuh. Kemudian aku keluar kamar lagi dan tak berapa lama aku masuk lagi. Ah... posisi mertuaku sudah tepat membelakangi pintu. Dengan perlahan aku keluarkan kontolku lagi, lalu dengan santai aku mengambil posisi lebih mendekat ke tubuh mertuaku sambil ngocok. Begitu nikmatnya aku ngocok saat itu sambil memperhatikan setiap lekuk tubuh belakang mertuaku. Posisi aku ngocok yang juga tidak lebih dari 1 m membuat kontolku benar-benar begitu ereksi. Walau mertuaku itu sering merubah posisi duduknya, tapi aku cuek saja tetap ngocok di belakangnya. Sampai akhirnya aku nembak mani dengan rasa yang begitu puas. Aku ngocok dari jam 07:13-07:15.

Tanggal 28-10-2012, jam 21:59-22:01 begitu puasnya aku ngocok di depan mertuaku yang sedang tidur di kamar depan. Sebenarnya aku nekat-nekatan aja ngocok sekitar 2 m di depan pintu kamar mertuaku, karena posisi wajah mertuaku tertutup dengan tangannya dan mengarah ke pintu. Beberapa kali—sambil berjalan—aku ngocok melewati pintu kamarnya untuk memastikan kalau mertuaku itu benar-benar sudah tidur. Namun akhirnya karena kontolku sudah tidak sabar untuk memuncratkan mani, kemudian dengan nekat aku berdiri di depan pintu, mengarahkan kontolku yang sedang kukocok ke arah mertuaku sambil menikmati montoknya tubuh mertuaku yang sedang tidur telentang bagaikan menantang untuk aku kentot sampai akhirnya aku nembak mani.

Tanggal 29-11-2012, jam 10:09 aku ngocok di belakang mertuaku. Saat itu dia sedang menonton TV, duduk di lantai dan membelakangi pintu kamar. Jarak aku ngocok dengan mertuaku tidak lebih dari 2 m dan mertuaku itu benar-benar membuat muncrat maniku...

Berada di dekat mertuaku selalu saja membuat kontolku terasa seperti digelitiki, pingin dikocok. Jujur aja, tubuhnya itu lho yang membuat geregetan... Sering aku ngocok di kamarku dengan pintu yang sengaja aku buka dan terkadang juga dengan hanya berbatas kain penutup pintu aku bugil berdiri ngocok di depan pintu kamarku saat mertuaku sedang menonton TV yang menghadap ke arah pintu kamarku. Dan tanggal 15-02-2014 jam 06:01-06:04 aku ngocok sampai nembak mani dalam posisi duduk di belakang mertuaku dengan jarak tidak lebih dari 3 m. Ah... entah kenapa pada saat aku bangun di pagi itu kontolku begitu memberontak ingin dikocok. Aku tahu pada jam seperti itu mertuaku sudah bangun dan dengan segera aku keluar dari kamarku untuk melihat situasi yang ada. Kudapati mertuaku sedang masak dan *****ku berada di kamar mandi. Wuih... denyutnya kontolku saat aku duduk dan memperhatikan tubuh bagian belakang mertuaku yang sedang memasak itu. Pepek... pepek... montoknya pantatnya... Bagaimana nikmatnya ya seandainya dalam posisi mertuaku yang sedang masak seperti itu, dari belakang aku pendamkan kontolku ke dalam pepek dan pantatnya secara bergantian? Ah... karena sudah sangat memberontaknya kontolku untuk dikocok, dengan santai aku keluarkan kontolku dari celana pendek yang aku pakai. Posisi mertuaku sedang masak membelakangi aku yang sedang ngocok dengan jarak sekitar 5 m. Dengan leluasa kuperhatikan setiap detail tubuh mertuaku sambil tanganku terus saja mengocoki kontolku. Nikmat sekali... apalagi kemudian mertuaku itu membalikkan badannya dan berjalan menuju kulkas. Dengan sedikit mengangkat kakiku seperti melipat kaki, aku tutupi kontolku. Saat mertuaku membuka pintu kulkas, kemudian aku turunkan lagi kakiku dan meneruskan aktivitas ngocokku. Saat itu posisi  mertuaku hanya 3 m di depanku. Semakin jelas setiap lekukan tubuh mertuaku yang membuat letupan birahiku semakin menjadi-jadi. Kutandai saat mertuaku membuka kulkas dan membelakangi aku pada jam 06:01. Dan masih dalam posisi membelakangi aku, di depan kulkas mertuaku masih berdiri memilih bahan masakan, sementara aku, tidak sedikit pun menghentikan aktivitas ngocokku. Hitung-hitung kesempatan yang langka yang tidak akan aku sia-siakan begitu saja. Dan entah kenapa kemudian mertuaku itu nungging. Wuih... pepek... pepek... menggoda sekali pantatnya seperti mau minta dikentot. Lama juga mertuaku dalam posisi nungging di depanku. Dan aku pun semakin mempercepat kocokan di kontolku sambil memperhatikan pantat mertuaku itu. Aku nembak begitu banyak mani saat mertuaku masih dalam posisi nungging. Dan aku nembak mani pada jam 06:04, jadi sekitar 3 menit aku ngocok langsung di belakang mertuaku yang sedang nungging seperti minta di kentot. Pepek... pepek...

Selama 2 hari berturut-turut sekitar jam 05:30 tanggal 12-04-2014 dan 13-04-2014 aku ngocok—walau tidak sampai nembak mani—kurang dari 1 m di belakang mertuaku yang sedang masak.

Memang mertuaku itu selalu saja membuatku ingin ngocok kalau aku berada di dekatnya. Malam tanggal 20-05-2014 dari jam 00:37-00:41 terpuaskan birahiku saat begitu jelasnya aku memandangi lekuk tubuh mertuaku yang sedang tidur dengan pintu kamar yang terbuka. Saat itu aku memang agak gelisah. Mau tidur, tapi sebelum aku masuk ke kamar, kulihat pintu kamar mertuaku sepertinya tidak ditutup dan itu merupakan kesempatan baik bagiku.  Ah… ya udah aku keluar kamar lagi dan pura-pura minum sambil melihat situasi yang ada. Dan benar saja… pintu kamar mertuaku masih dalam posisi terbuka lebar dan kulihat pemandangan yang indah di luar dari perkiraanku sebelumnya. Wuih… dasar pepek pantat torok… rutuk dalam hatiku melihat posisi tidur mertuaku yang menyamping, membelakangi pintu sambil memeluk guling dengan baju daster yang terangkat dan menampilkan pemandangan yang membuat birahiku meledak. Dapat kusaksikan dengan jelas montoknya pantat mertuaku yang hanya dibalut rok dalam dan sempak yang tipis. Begitu menggairahkan seakan memang minta untuk dikentot. Aku begitu santai ngocok sambil terus saja menelusuri setiap lekukan tubuh mertuaku. Walau jarak antara aku berdiri ngocok dengan mertuaku kurang dari 2 m sebenarnya sudah lumayan dekat, tapi aku memberanikan diri untuk lebih mendekat lagi. Tapi sayang, pada saat aku ingin masuk ke dalam kamarnya dengan posisi tanganku yang sedang mengocoki kontolku, tiba-tiba mertuaku terbatuk. Ah… dasar pepek... pepek… akhirnya aku mundur ke posisi semula sambil melambatkan kocokan di kontolku, berjaga-jaga kalau saja mertuaku bangun dan mendengarkan hentakan tanganku yang sedang mengocoki kontolku. Saat kulihat tidak ada reaksi apa-apa, kemudian aku percepat kembali kocokan di kontolku sampai akhirnya aku nembak mani. Memang hanya sekitar 4 menit aku ngocok di belakang mertuaku, tapi sepertinya begitu lama, karena kondisi mertuaku dengan baju yang tersingkap itu membuatku begitu leluasa melihat indahnya pantat mertuaku sambil mencari selipan pepek mertuaku yang pastinya tertutup karena dia memeluk guling. Ah… seandainya saja kontolku bisa masuk ke dalam pepek mertuaku itu…

Tanggal 21-05-2014 jam 18:30 aku menyaksikan secara langsung bagaimana paniknya mertuaku itu saat dia dalam kondisi hanya memakai sempak tanpa memakai BH mengetahui kalau pintu kamar mandinya terbuka sedangkan aku berada sekitar 4 m berdiri di depannya. Wow... nampak jelas keindahan tubuh mertuaku itu. Begitu terpuaskan pandangan mataku melihat tetek dan sempak coklatnya yang menutupi pepeknya. Nampak jelas saat itu mertuaku panik, mau yang mana dahulu yang dia tutup, teteknya atau pepeknya, sementara aku benar-benar tidak mau melewatkan kesempatan yang langka itu dengan terus saja memandang ke arah tubuhnya. Yang pada akhirnya masing-masing tangan mertuaku itu menutupi tetek dan pepeknya sambil menutup pintu kamar mandi dengan kakinya. Ah... untungnya saat itu *****ku ada di sana, kalau tidak... mungkin sudah aku terkam mertuaku itu dan kupendamkan kontolku ke dalam pepek atau pantatnya. Walau umur mertuaku itu sudah setengah abad lebih, tapi tubuhnya itu lho yang membuat aku begitu geregetan...