Jujur, untuk usia 53 tahun mertuaku masih terlihat sangat menggairahkan. Lekuk tubuhnya begitu membangkitkan birahiku. Ah... yang paling aku suka adalah pantat mertuaku. Nampak begitu sekal dan sangat indah. Sering aku ngocok sambil mengkhayalkan kalau saja aku bisa menikmati tubuhnya. Memendamkan kontolku ke dalam pepek dan pantatnya. Begitu nikmat saat aku ngocok sambil mengkhayalkan kalau saja dia mau aku ajak bercinta, mencumbui dirinya sampai akhirnya aku dapat menyingkap bajunya, membuka sempaknya, dan merekahkan pepeknya.
Sering juga aku curi-curi kesempatan untuk dapat memandang keindahan tubuhnya—apalagi pantatnya—sambil aku ngocok di belakangnya.
Dan ini adalah saat-saat aku mengekspresikan birahiku dengan cara ngocok di dekat mertuaku.
Aku tidak menyangka kenapa
aku bisa seperti itu. Secara tak sengaja malam itu tanggal 17-08-2007, aku
mendapati mertuaku sedang tertidur di ruang TV. Jujur, mertuaku itu punya bentuk tubuh yang lumayan juga. Aku jadi salah tingkah. Ah... karena aku tidak
memakai sempak, otomatis kontolku langsung menyodok celana pendek yang aku
pakai. Kondisi rumah saat itu juga sedang sunyi. Ya sudah... dengan
perlahan aku buka bajuku, lalu aku buka celana pendekku. Wuih... saat itu aku
benar-benar bugil! Baju dan celanaku berada 1 m di belakangku saat dengan
perlahan aku mendekati mertuaku yang sedang tidur. Aku berdiri ngocok di atas
kepala mertuaku dengan begitu santai. Padahal, begitu besar resiko yang dapat
terjadi. Bayangkan, aku berdiri bugil ngocok tepat di atas kepala mertuaku.
Seandainya dia terbangun? Pasti aku tidak dapat berbuat apa-apa karena baju
dan celanaku berada 1 m dari posisiku! Aku bugil ngocok sampai nembak
mani di atas kepala mertuaku dari jam 20:51-20:55. Selama 4 menit ngocok dengan kondisi bugil
yang sangat beresiko.
Kejadian itu terjadi
di bulan Mei 2009. Aku lupa tanggal dan waktunya, tapi yang pasti waktunya
di atas jam 20. Saat itu aku baru sampai di rumah mertuaku dan mertuaku
sendiri yang membukakan pintu depan rumahnya. Kemudian karena aku memang berniat mau
nginap di rumah mertuaku, lalu aku memasukkan motorku ke ruang tamu. Sedikit
berbasa-basi dengan mertua, aku masih tetap berdiri di samping depan motorku. Mertuaku rupanya sedang menjahit sesuatu dengan mesin jahitnya, karena
setelah membukakan pintu untukku dan sambil tetap mengajakku ngobrol kemudian
mertuaku itu duduk membelakangi aku. Dia menghadap ke arah mesin jahitnya, sementara jarak aku berdiri dengan mertuaku hanya 1½ m. Kuperhatikan mertuaku tetap
serius dengan pekerjaannya walau sesekali dia mengajakku ngobrol. Ah... ada
kesempatan nih... Jujur, jantungku berdetak begitu keras saat dengan
perlahan aku mengeluarkan kontolku dari celanaku. Untungnya aku memakai baju
yang panjang, jadi aku masih bisa menutupi kontolku dengan bajuku. Kemudian aku
pura-pura membersihkan motorku. Dan setelah aku yakin kalau mertuaku itu sedang
serius dengan pekerjaannya, perlahan aku mulai ngocok di belakangnya. Tapi aku sempat juga terkejut dan buru-buru menghentikan
kocokanku saat dengan tiba-tiba mertuaku itu merubah posisi duduknya dari membelakangi aku menjadi duduk menyamping ke arah aku sambil mengajakku ngobrol. Terpaksalah aku ngobrol lagi dengan mertuaku sambil pura-pura sibuk
membersihkan motorku. Tak lama kemudian aku pura-pura ke ruang TV, dan aku kembali lagi ke ruang tamu sambil berjalan ngocok menuju ke arah mertuaku
yang sudah dalam posisi membelakangi motorku. Aku kembali berdiri tepat
di samping depan motorku dan dengan sangat leluasa aku ngocok di belakangnya hingga akhirnya aku nembak mani.
Malam tanggal 26-11-2009,
begitu santainya aku ngocok di samping mertuaku yang sedang tidur di ruang TV
bersama Ning. Dengan perlahan tapi pasti aku keluarkan kontolku dari
celanaku, dan sangat santai kubuat kontolku ereksi di samping mertuaku.
Dari jam 23:51-23:54 aku ekspresikan birahiku di samping mertuaku dengan jarak
tidak lebih dari 30 cm antara kontolku dengan tubuh mertuaku sambil memandangi montoknya pantat Ning yang juga sedang tertidur membelakangi posisiku. Ah... begitu banyak maniku yang keluar yang aku tampung dengan tangan kiriku.
Malam tanggal 02-04-2010,
sepulang kerja aku tidur di rumah mertuaku. Karena aku nginap di sana tanpa
rencana, akhirnya aku hanya memakai sarung saja sebagai pengganti celana
kerjaku yang sudah kotor. Dalam benakku, aku sudah menyusun beberapa rencana
agar setidaknya aku bisa sedikit leluasa ngocok di rumah mertuaku. Dan benar
saja, kulihat mertuaku tidur di ruang tamu. Saat itu aku tidur di ruang TV,
di dalam kelambu, sementara In sepertinya belum tidur di kamar sebelahku.
Sambil mengambil posisi tidur di luar kelambu, aku menyingkapkan sarungku dan
ngocok sambil mengarahkan kontolku ke pintu kamar In. Tapi sepertinya hal
itu tidak membuatku merasa tertantang. Akhirnya aku putuskan untuk mencoba
sedikit keberuntunganku. Lalu bangkit dari posisiku, kemudian aku berjalan ke
ruang tamu dan mendekati mertuaku yang sedang tidur di sana. Dengan perlahan
aku jongkok di dekat kakinya, dan dengan bertumpu pada lututku, aku menyingkapkan kain sarungku. Kemudian aku mulai ngocok di dekat mertuaku sambil pandangan mataku menelusuri keindahan tubuhnya. Aku tandai waktu menunjukkan pukul 02:35, saat aku ngocok kurang dari 10 cm dari tubuh mertuaku sampai aku nembak
mani.
Tanggal 04-09-2011, jam
01:24-01:29 begitu nekatnya aku ngocok di depan mertuaku yang sedang tidur
dengan posisi wajahnya menghadap ke kontolku. Sebelumnya aku sempat ragu juga
untuk masuk ke dalam kamar mertuaku. Tapi... karena pintu kamarnya terbuka
lebar membuat aku seperti digoda untuk masuk. Berulang kali aku melewati pintu
kamar mertuaku itu sambil sesekali melirik ke arahnya, memastikan apakah
mertuaku itu sudah tidur atau belum. Ah... pepek... pepek... bertambah
tergoda aku untuk masuk ke dalam kamarnya. Akhirnya dengan perlahan, sambil
mengeluarkan kontolku dan ngocok, aku berjalan masuk ke dalam kamar mertuaku. Tidak
aku pikirkan lagi posisi wajah mertuaku yang benar-benar menghadap ke pintu,
apakah dia sudah tidur atau belum. Sudah kepalang tanggung, terus saja aku dekati
mertuaku sambil ngocok. Setelah hampir 50 cm jarak kontolku
dengan wajah mertuaku, kemudian aku berhenti dan dengan santai aku ngocok
di depan mertuaku. Dalam benakku, kalau mertuaku itu belum terlalu nyenyak
tidur, mungkin sedari awal dia sudah dengar langkah kaki dan suara hentakan
tanganku yang mengocoki kontolku mendekatinya, dan pasti dia akan pura-pura
batuk atau bergerak menandakan dia akan bangun, bahkan bisa lebih ekstrim lagi
dengan langsung bertanya padaku ngapain aku masuk ke kamarnya dengan kontol yang
dikocok seperti itu. Tapi sepertinya mertuaku itu memang sedang nyenyak
tidurnya, sampai-sampai dia tidak mengetahui kehadiranku. Santai saja aku ngocok dengan kontolku yang berada tepat di depan
wajahnya, sambil memandang montok dan sekalnya tubuh mertuaku, serta mengkhayalkan kalau saja dia mau aku ajak ngentot. Ah... pepek...
pepek... akhirnya aku nembak banyak mani tepat di depan wajahnya dengan
rasa penuh kepuasan...
Tanggal 11-03-2012, jam 01:38-01:41 dengan birahi yang begitu menggebu aku ngocok di depan mertuaku dan adik iparku si Ning yang sedang tidur di kamar depan. Posisi wajah Ning tepat menghadap ke pintu kamar di mana aku berdiri ngocok. Sedangkan mertuaku tidur telentang dengan posisi baju daster yang tersingkap ke atas. Mungkin kalau tersingkap sedikit lagi sudah tampaklah pepek mertuaku. Itu yang membuat birahiku begitu menggebu. Sambil ngocok dan memandangi mereka berdua, aku membayangkan nikmatnya kalau saja mertuaku dan Ning mau aku ajak ngentot. Saat itu aku ngocok masih memakai baju dan celana pendek. Karena baju daster mertuaku tersingkap ke atas dan sepertinya menantang untuk kukentot, kemudian aku ke ruang TV untuk membuka bajuku, lalu ke ruang tamu untuk membuka celanaku. Aku benar-benar bugil ngocok di depan mertuaku dan adik iparku Ning dengan jarak tidak lebih dari 2 meter. Dari jam 01:41-01:44 aku bugil ngocok dan begitu menikmati setiap hentakan tanganku yang mengocoki kontolku sambil memandangi tubuh mereka berdua. Sampai akhirnya aku nembak mani. Kemudian, karena kesempatan itu sangat langka dan birahiku masih juga bergelora, pada jam 02:29-02:32 aku kembali ngocok sampai nembak mani lagi di depan mereka berdua.
Tanggal 10-08-2012, jam
06:37-06:40 awalnya dari balik tirai pintu yang tersingkap sedikit aku ngocok di
belakang mertuaku yang sedang membuat kue dengan jarak kurang dari 1 m. Sambil
ngocok aku berpikir bagaimana aku dapat membuka tirai pintu kamarku—dengan
tidak membuatnya curiga—agar aku bisa lebih jelas lagi ngocok sambil
menikmati montoknya tubuh mertuaku itu. Kemudian aku sudahi dulu aktivitas ngocokku,
lalu aku keluar kamar sambil mencoba menyingkap lebih lebar lagi tirai pintu
kamarku. Ada beberapa kali aku keluar-masuk kamarku sambil menyingkapkan tirai
itu, tapi tak berhasil. Sampai akhirnya karena waktu yang sudah
mulai mepet—dengan bersikap biasa aja—sambil masuk ke kamar aku buka tirai
pintu kamarku dengan selebar-lebarnya dan aku sangkutkan tirai tersebut agar
tidak jatuh. Kemudian aku keluar kamar lagi dan tak berapa lama aku masuk lagi. Ah... posisi mertuaku sudah tepat membelakangi pintu. Dengan perlahan aku
keluarkan kontolku lagi, lalu dengan santai aku mengambil posisi lebih mendekat
ke tubuh mertuaku sambil ngocok. Begitu nikmatnya aku ngocok saat itu
sambil memperhatikan setiap lekuk tubuh belakang mertuaku. Posisi aku
ngocok yang juga tidak lebih dari 1 m membuat kontolku benar-benar begitu
ereksi. Walau mertuaku itu sering merubah posisi duduknya, tapi aku cuek saja
tetap ngocok di belakangnya. Sampai akhirnya aku nembak mani dengan rasa yang
begitu puas. Aku ngocok dari jam 07:13-07:15.
Tanggal 28-10-2012, jam
21:59-22:01 begitu puasnya aku ngocok di depan mertuaku yang sedang tidur
di kamar depan. Sebenarnya aku nekat-nekatan aja ngocok sekitar 2 m di depan pintu
kamar mertuaku, karena posisi wajah mertuaku tertutup
dengan tangannya dan mengarah ke pintu. Beberapa kali—sambil berjalan—aku ngocok melewati pintu kamarnya untuk memastikan kalau mertuaku itu benar-benar sudah tidur. Namun akhirnya karena kontolku sudah tidak sabar untuk memuncratkan
mani, kemudian dengan nekat aku berdiri di depan pintu, mengarahkan kontolku
yang sedang kukocok ke arah mertuaku sambil menikmati montoknya tubuh
mertuaku yang sedang tidur telentang bagaikan menantang untuk aku kentot
sampai akhirnya aku nembak mani.
Tanggal 29-11-2012, jam 10:09
aku ngocok di belakang mertuaku. Saat itu dia sedang menonton TV, duduk di lantai
dan membelakangi pintu kamar. Jarak aku ngocok dengan mertuaku tidak lebih dari
2 m dan mertuaku itu benar-benar membuat muncrat maniku...
Berada di dekat mertuaku selalu saja membuat
kontolku terasa seperti digelitiki, pingin dikocok. Jujur aja, tubuhnya itu
lho yang membuat geregetan... Sering aku ngocok di kamarku dengan pintu yang
sengaja aku buka dan terkadang juga dengan hanya berbatas kain penutup pintu aku
bugil berdiri ngocok di depan pintu kamarku saat mertuaku sedang menonton TV
yang menghadap ke arah pintu kamarku. Dan tanggal
15-02-2014 jam 06:01-06:04 aku ngocok sampai nembak mani dalam posisi duduk di
belakang mertuaku dengan jarak tidak lebih dari 3 m. Ah... entah kenapa pada
saat aku bangun di pagi itu kontolku begitu memberontak ingin dikocok. Aku tahu
pada jam seperti itu mertuaku sudah bangun dan dengan segera aku keluar dari
kamarku untuk melihat situasi yang ada. Kudapati mertuaku sedang masak dan *****ku berada di kamar mandi. Wuih... denyutnya kontolku saat aku duduk dan
memperhatikan tubuh bagian belakang mertuaku yang sedang memasak itu. Pepek... pepek... montoknya pantatnya... Bagaimana nikmatnya ya seandainya dalam posisi mertuaku yang sedang masak seperti itu, dari belakang
aku pendamkan kontolku ke dalam pepek dan pantatnya secara bergantian? Ah... karena sudah
sangat memberontaknya kontolku untuk dikocok, dengan santai aku keluarkan
kontolku dari celana pendek yang aku pakai. Posisi mertuaku sedang masak membelakangi
aku yang sedang ngocok dengan jarak sekitar 5 m. Dengan leluasa kuperhatikan
setiap detail tubuh mertuaku sambil tanganku terus saja mengocoki kontolku. Nikmat sekali... apalagi kemudian mertuaku itu membalikkan badannya dan
berjalan menuju kulkas. Dengan sedikit mengangkat kakiku seperti melipat
kaki, aku tutupi kontolku. Saat mertuaku membuka pintu kulkas, kemudian aku
turunkan lagi kakiku dan meneruskan aktivitas ngocokku. Saat itu posisi mertuaku hanya 3 m di depanku. Semakin jelas
setiap lekukan tubuh mertuaku yang membuat letupan birahiku semakin
menjadi-jadi. Kutandai saat mertuaku membuka kulkas dan membelakangi aku pada
jam 06:01. Dan masih dalam posisi membelakangi aku, di depan kulkas mertuaku
masih berdiri memilih bahan masakan, sementara aku, tidak
sedikit pun menghentikan aktivitas ngocokku. Hitung-hitung kesempatan yang
langka yang tidak akan aku sia-siakan begitu saja. Dan entah kenapa kemudian
mertuaku itu nungging. Wuih... pepek... pepek... menggoda sekali pantatnya seperti mau minta dikentot. Lama juga mertuaku dalam posisi nungging di depanku. Dan
aku pun semakin mempercepat kocokan di kontolku sambil memperhatikan pantat
mertuaku itu. Aku nembak begitu banyak mani saat mertuaku masih dalam posisi
nungging. Dan aku nembak mani pada jam 06:04, jadi sekitar 3 menit aku ngocok
langsung di belakang mertuaku yang sedang nungging seperti minta di kentot.
Pepek... pepek...
Selama 2 hari berturut-turut sekitar jam 05:30 tanggal 12-04-2014 dan
13-04-2014 aku ngocok—walau tidak sampai nembak mani—kurang dari 1 m di
belakang mertuaku yang sedang masak.
Memang mertuaku itu selalu
saja membuatku ingin ngocok kalau aku berada di dekatnya. Malam tanggal
20-05-2014 dari jam 00:37-00:41 terpuaskan birahiku saat begitu jelasnya aku
memandangi lekuk tubuh mertuaku yang sedang tidur dengan pintu kamar yang
terbuka. Saat itu aku memang agak gelisah. Mau tidur, tapi sebelum aku
masuk ke kamar, kulihat pintu kamar mertuaku sepertinya tidak ditutup dan itu merupakan kesempatan baik bagiku. Ah… ya udah aku keluar kamar lagi dan pura-pura minum sambil melihat situasi yang
ada. Dan benar saja… pintu kamar mertuaku masih dalam posisi terbuka lebar
dan kulihat pemandangan yang indah di luar dari perkiraanku sebelumnya. Wuih… dasar pepek pantat torok… rutuk dalam hatiku melihat posisi tidur mertuaku
yang menyamping, membelakangi pintu sambil memeluk guling dengan baju
daster yang terangkat dan menampilkan pemandangan yang membuat birahiku meledak.
Dapat kusaksikan dengan jelas montoknya pantat mertuaku yang hanya dibalut rok
dalam dan sempak yang tipis. Begitu menggairahkan seakan memang minta untuk
dikentot. Aku begitu santai ngocok sambil terus saja menelusuri setiap lekukan
tubuh mertuaku. Walau jarak antara aku berdiri ngocok dengan mertuaku kurang
dari 2 m sebenarnya sudah lumayan dekat, tapi aku memberanikan diri untuk lebih
mendekat lagi. Tapi sayang, pada saat aku ingin masuk ke dalam kamarnya dengan posisi
tanganku yang sedang mengocoki kontolku, tiba-tiba mertuaku terbatuk. Ah… dasar
pepek... pepek… akhirnya aku mundur ke posisi semula sambil melambatkan kocokan
di kontolku, berjaga-jaga kalau saja mertuaku bangun dan mendengarkan hentakan
tanganku yang sedang mengocoki kontolku. Saat kulihat tidak ada reaksi apa-apa, kemudian
aku percepat kembali kocokan di kontolku sampai akhirnya aku nembak mani. Memang hanya
sekitar 4 menit aku ngocok di belakang mertuaku, tapi sepertinya begitu lama,
karena kondisi mertuaku dengan baju yang tersingkap itu membuatku begitu
leluasa melihat indahnya pantat mertuaku sambil mencari selipan pepek mertuaku
yang pastinya tertutup karena dia memeluk guling. Ah… seandainya saja kontolku bisa masuk ke dalam pepek mertuaku itu…
Tanggal 21-05-2014 jam
18:30 aku menyaksikan secara langsung bagaimana paniknya mertuaku itu saat dia dalam kondisi hanya memakai sempak tanpa memakai BH mengetahui kalau pintu kamar mandinya terbuka sedangkan aku berada sekitar 4 m berdiri di depannya. Wow... nampak jelas keindahan tubuh mertuaku itu. Begitu terpuaskan pandangan mataku melihat tetek dan sempak coklatnya yang menutupi pepeknya. Nampak jelas saat itu mertuaku panik, mau yang mana dahulu yang dia tutup, teteknya atau pepeknya, sementara aku benar-benar tidak mau melewatkan kesempatan yang langka itu dengan terus saja memandang ke arah tubuhnya. Yang pada akhirnya masing-masing tangan mertuaku itu menutupi tetek dan pepeknya sambil menutup pintu kamar mandi dengan kakinya. Ah... untungnya saat itu *****ku ada di sana, kalau
tidak... mungkin sudah aku terkam mertuaku itu dan kupendamkan kontolku ke dalam pepek atau pantatnya. Walau umur mertuaku itu sudah setengah abad
lebih, tapi tubuhnya itu lho yang membuat aku begitu geregetan...